hai juragan.
saya mau jualan buku karya ane neh.
ngomong2 saya uda ada 4 buku.
1. Misteri kematian Gaby
2. Surat kecil untuk Tuhan.
3. Sahabat. tentang cinta, kisah sejati dan tragedi kehidupan
4. Denny Sumargo-catatan pemain basket nasional
sayangnya aye cuma punya stock dua aja sih
1. surat kecil untuk tuhan : ini best seller loh terjual lebih dari 30000 kopi.
buat review:http://dinamikaebooks.blogspot.com/2…tuk-tuhan.html
2. Sahabat - novel baru yang keluar di taiwan dan sukses lebih dulu.
buat review: http://duniavenus.com/inspirational-…b…
so saya mau kasih paket aja buat kalian yang juragan yang mau beli buku aneh. sesama netter yang telah menjadi saudara-saudara blogger.
dua buku itu saya jual dengan harga.
Rp. 55.000,-
kenapa bisa murah, karena aye emang yang cetak sendiri. so ini hanya harga online saja. gituloh..
tapi kalian bayar ongkos kirim sendiri , aye pake tiki or dhl.
keuntungan beli langsung buku ini.
1. saya kasih tanda tangan dan silakan tulis sendiri kata-kata yang mau disana dengan cara pm aneh. seperti mau kasih hadiah kemana gitu?
2. ga usah cape-cape cari bukunya.
3. murah jauh di harga pasaran 1. surat kecil untuk tuhan harga asli nya .38.800 kalau sahabat 36.500.
4. yang paling menarik dengan membeli buku ini kalian juga ikut menyumbangkan sebagian hasilnya kepada panti asuhan karena buku ini ada persenan amal.
5. dapat cd gratis lagu-lagu berkualitas. yang harganya satu cd bisa 50.000,-
so tunggu apa lagi
kirim email ke agnesdavonar at hotmail.com, aja kalau mau.
tenang saya ini yang nulis dan cetak. so dijamin aman asal ada bukti transfer dulu.
i love u all
catatan: untuk dua buku yang lain seperti denny sumargo dan gaby, kalian bisa pesan tapi saya ga jamin dengan harga diskon , paling saya bantu carikan. soalnya stocknya uda susah banget. hehe
KISAH INI HANYA FIKTIF, PENULIS HANYA TERINSPIRASI OLEH APA YANG IA PIKIR DAN LIHAT.
KISAH INI HANYA BOLEH DIBACA OLEH REMAJA DIATAS 17-TAHUN DAN TIDAK PUNYA SERANGAN JANTUNG.
DI suatu malam yang tak terlupa,
Namaku Timoty, suatu malam aku mengendarai vespa tuaku, kalian tau aku sangat tergila-gila dengan vespa walaupun saat ini sudah banyak motor baru yang lebih keren. Aku sadar semua orang akan tertawa melihat vespa bututku tahun 1970-an tapi ini warisan kakekku, aku bukan tidak ada uang untuk membeli motor baru tapi sayangnya aku memang mencintai motor vespaku. Bahkan vespaku ini membawaku dalam sebuah kisah cinta yang tak akan pernah kulupakan, sebuah kisah cinta yang akan kubawa sampai ujung dunia.
Awalnya begini, saat aku berjalan ditengah malam hendak pulang. Tiba-tiba hujan turun dan aku langsung mencari tempat berteduh untuk mencegah mesin vespaku rusak karena tetasan air hujan. Saat aku berteduh tiba-tiba seorang gadis muda berlari dan ikut berteduh. Dia melemparkan senyum padaku,aku pun tersenyum balik. Tiba-tiba ia jatuh tergeletak begitu saja di depanku, aku panik tapi tidak tau harus berbuat apa. Aku mendekatinya.
“ Sakit asmaku kambuh..” ujarnya pelan,
“ Obatnya kamu bawa..”
“ habis…” aku menjadi panik sehingga mengatakan padanya untuk bertahan karena aku bukan dokter, aku akan mencari bantuan tapi bingung kalau hujan seperti ini tidak akan ada orang yang bisa kumintai tolong.
Karena keadaanya terus memburuk aku pun terpaksa menggendongnya lalu menyuruhnya untuk bertahan sebentar duduk di vespaku. Kami pun menembus badai hujan mencari rumah sakit terdekat, beberapa saat kemudian kami tiba di rumah sakit, ia langsung mendapatkan pertolongan pertama tapi sayang saat aku melihat motor vespaku, motorku tidak mendapatkan pertolongan apapun dan mati begitu saja karena mesinnya kemasukkan air. Aku langsung meninggalkan gadis yang bahkan aku tidak tau namanya itu dan harus mendorong motorku hingga beratus –ratus mil hingga tiba di rumahku.
Mungkin nasibku baik karena Tuhan membalas perbuatanku pada gadis itu karena tiba-tiba aku mendapatkan perkerjaan sebagai wartawan seperti pekerjaan idolaku. Perkerjaanku pertamaku menjadi reporter semua berjalan dengan baik, aku menjalankan tugasku dengan sempurna. Kemudian aku diangkat menjadi presenter acara TV dimana tugasku meliput hobby komunitas Vespa yang menjadi salah satu kegiatan favoriteku. Suatu ketika saat aku berada di studio, seorang rekanku berkata ada seseorang yang ingin bertemu denganku. Aku pun bertemu dengannya di ruang lobby, ia menyapaku dengan tersenyum.
“ Siapa ya?”
“ Ia, saya gadis yang kamu tolong waktu itu. Saya senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan kamu”
“ Maksudnya..?” tanyaku bingung
Ia pun menjelaskan kalau ia gadis yang aku tolong saat malam itu karena asma, ia melihatku secara tidak sengaja di TV, namanya Angel. Ia datang untuk mengucapkan terima kasih padaku dan ingin mengundang aku untuk makan malam bersamanya. Aku tidak dapat menolak permintaannya dan malam dimana ia mengundangku aku pun datang, kami makan malam bersama di sebuah tempat yang menarik. Angel adalah gadis muda yang menjadi guru, malam saat itu aku berjumpa dengannya karena pada saat itu memang sangat kebetulan karena saat itu ia hendak pulang tapi hujan besar datang padahal rumahnya tidak jauh darisana.
Sejak pertama melihatnya aku telah jatuh cinta, kami pun semakin dekat hingga akhirnya kami menjadi sepasang kekasih. Angel terlahir yatim piatu dan besar di panti asuhan sehingga hidupnya adalah inspirasi bagiku, hatinya mulia karena ia bekerja sebagai guru bagi anak-anak yang tidak mampu di sebuah pinggiran pasar dimana murid-murid itu adalah anak-anak pekerja serabutan hingga tukang pikul yang untuk makan saja sulit. Tapi hatinya tergerak untuk mengubah keadaan mereka bercermin dari keadaanya sewaktu kecil.
Sebuah yayasan sosial memberikan sumbangan kepada impiannya untuk membuat sekolah gratis. Aku bahkan terkadang ikut membantunya mengajar murid-muridnya yang berjumlah puluhan orang.Nah hingga suatu ketika aku mulai berpikir mengajaknya untuk menikah, kami pun bertunangan. Ia setuju memilihku sebagai pasangan hidup walaupun pekerjaanku bukanlah pekerjaan yang mampu membuatnya bahagia tapi baginya materi bukanlah sesuatu yang di dunia yang ia inginkan, cintaku sudah cukup memberikannya kebahagiaan.
Aku cemas akan penyakit asmanya yang sudah bersamanya sejak kecil, terkadang aku ingatkan dia untuk tidak terlalu memaksakan diri. Ia selalu bilang padaku bahwa penyakitnya bukan sebuah halangan baginya untuk bekerja, karena Tuhan akan selaku bersertanya. Aku tidak bisa melawan kehendaknya tapi hanya bisa mengingatkannya untuk selalu membawa alat bantu pernafasan dan obat-obat sehingga kejadian dimana kami ditakdirkan tidak terulang lagi. Ia setuju, kalau sudah begitu aku pun dapat bekerja dengan tenang meliput setiap kegiatanku sebagai wartawan.
Suatu malam kami bersama dan saling berkisah tentang apa yang hendak kami capai di masa depan.
“ Angel, kalau sudah menikah kamu ingin punya anak berapa?”
“ Berapapun yang diberikan Tuhan saya akan menerimanya..”
“ loh kenapa begitu?”
“ Saya sudah memiliki banyak anak-anak di kelas yang saya anggap anak, mereka adalah cerminan dan harapan saya di masa depan. Memang bukan anak kandung saya, tapi saya adalah guru sekaligus ibu kedua mereka, jadi berapapun anak yang hendak diberikan Tuhan, kita patut bersyukur kan?”
“ Iya sih, kamu begitu mulia mendedikasikan hidup kamu bagi mereka, aku iri sama kamu sayang.”
“ Kamu pun bisa bila mau, aku ini berpenyakit asma. Kalau aku kenapa-kenapa kamu harus gantikan aku mendidik mereka supaya menjadi orang berguna ya.”
“ Kok ngomong gitu sih.. Jadi BT- neh,,,”
“ Bercanda kok.. Oh ya , Timo. Besok aku akan melakukan kunjungan antar sekolah gratis di pulau seribu bersama anak-anak, kamu mau ikut..?”
“ Ya mau sih tapi besok kan aku harus kerja sayang. Ada tugas bawain acara..”
“ Kalau gitu kamu doakan saja deh semoga acara ini berhasil, soalnya kalau kunjungan antar sekolah gratis ini berhasil diliput media aku yakin bakal banyak orang-orang tergerak untuk membuat sekolah gratis..”
“ Hehe. Aku pasti dukung kamu, media juga pasti dukung kamu.”
Malam itu menjadi malam paling indah bagiku untuk mengenal hatinya yang penuh dengan kemuliaan. Aku tidak sempat mengantarkannya pergi karena sejak pagi aku harus bekerja. Ia sempat meneleponku dan berkata ia membawa serta 3 murid yang ia pilih sebagai siswa perwakilan, aku hanya berkata padanya untuk berhati-hati dan jangan lupa membawa obatnya.Karena ia akan melintas lautan, aku tidak bisa lagi meneleponnya karena sinyal akan hilang.
Beberapa jam kemudian mulai tugasku untuk membawakan berita siang, seorang rekanku mengatakan ada headlines yang harus aku bawakan. Tentang kecelakaan kapal laut di lautan Jawa, aku tergeletak dan mulai cemas. Tapi sebagai professional aku harus membawakan berita itu, aku membacakan berita dimana kapal laut itu menabrak sebuah kapal barang yang muncul secara tiba-tiba karena kabut laut yang terlalu membutakan pandangan.
Terdapat sepuluh korban dalam kecelakaan itu hingga aku tak menyangka aku harus menyebutkan satu nama yang tak bisa kubayangkan. Angel, aku terdiam sejenak. Semua kru memandangku dengan bingung, air mataku berjatuhan tapi sekali lagi aku harus membacakan berita itu.
“ Seorang guru meninggal setelah menyelamatkan tiga muridnya yang tenggelam saat kecelakaan terjadi, nyawa guru itu tidak tertolong saat dibawa ke daratan karena mengalami asma. Nama guru yang bagaikan pahlawan itu adalah Angel. Sekian headlines hari ini..”
Aku tak lagi mampu berdiri diruangan itu, aku langsung meminta sahabatku yang tidak pernah mengerti mengapa aku menangis. aku langsung menuju rumah duka dimana kekasihku ada disana, hatiku bersedih dan sepanjang perjalanan aku hanya bisa menangis, saat aku tiba, tubuhku Angel telah membiru dan dingin. Tiga muridnya memelukku, aku hanya bisa menangis mengenang apa yang pernah terjadi diantara kami. disaat kematiannya ia masih bisa tersenyum, disaat ia menyadari hidupnya tak lama lagi ia masih mampu menyelamatkan murid-muridnya dari maut.
Dia adalah gadis yang tak akan pernah kulupakan walau cinta kami telah berakhir, selama aku menjalin kasih dengannya kami tidak pernah mengabadikan kenangan kami, kami memang bertekad hanya akan membuat album foto yaitu saat pernikahan. Sayangnya itu tidak terjadi, tapi aku tidak ingin pernah melupakan dia sepanjang hidupku. Dan biarkanlah apapun yang ada dengannya saat ini membeku bersama panggilan Tuhan menjadi wajah terakhir yang kusimpan bersamanya, kalau demikian halnya
Cinta kami tak akan berakhir sampai ke ujung dunia.
BAGI YANG INGIN LIHAT GAMBARNYA, UNTUK YANG KUAT SECARA IMAN
http://www.postimage.org/image.php?v=Pq1…
LAGU GRATISNYA
Aku duduk di teras rumahku yang menghadap ke laut Jawa dan memilih tempat itu sebagai masa penyembuhan dan rehabitasiku. Istriku sedang membuatkan aku segelas susu dan aku tanpa sengaja melihat sebuah buku novel tergeletak di meja teras, mungkin saja istriku baru membacanya dan menaruhnya disana. Aku membuka lembaran itu dan terselip sebuah foto antara aku, istri dan seorang sahabat yang telah lupa dalam ingatanku bernama Fernando.
Bukankah ini foto saat kami berada di Australia, Fernando berkerja sebagai pelayan kafe dan saat itu aku, istriku dan dia berfoto bersama saat berdiskusi. Istriku datang dan menghampiriku sembari meletakkan segelas susu di meja.
“ Mengapa foto ini ada disini sayang?” tanyaku
Istriku terkejut, mungkin karena ia takut gambar itu membuat aku teringat masa lalu.
“ Maaf aku tidak sengaja menemukan novel itu dari kiriman pos seseorang dan ketika membukanya terdapat foto kita semasa kuliah.”
Aku terdiam, istriku langsung seperti salah tingkah.
“ Ngomong-ngomong sekarang dimana Fernando, bukannya terakhir kita masih melihatnya saat bulan madu di Perth?”
Istriku terdiam, suara telepon tiba-tiba bordering dan dia langsung meminta izin untuk mengangkat. Aku hanya bisa mengenang foto kenangan itu, Fernando adalah sahabat pertama yang menjadi temanku saat aku nyaris mati karena kedinginan terserang hujan deras, ia bukan laki-laki beruntung seperti hidupku. Bahkan untuk menyambung hidupnya ia harus bekerja sebagai pelayan restorant, aku berterima kasih padanya karena berkatnya aku masih bisa hidup sampai detik ini.
Berkatnya juga aku bisa mengenal istri yang kucintai saat ini, persahabatan kami baik-baik saja hingga sebuah tragedy terjadi dalam hidup kami. Suatu ketika semua orang mempergujing aku di kampus dan mengatakan aku seorang gay karena terlalu dekat dengan Fernando. Terang saja aku marah, kami normal dan dekat karena dialah satu-satunya sahabatku di Australia dan aku bahkan rela menghajar orang-orang yag menjelek-jelekkan sahabatku itu. Tapi pertanyaan it u terus menghantuiku, sebagian dari sahabatku memang pernah berbisik kalau sahabatku itu gay tapi Angel tidak pernah mengatakan begitu walaupun mereka sudah mengenal sebelum hadirnya aku.
Tapi hidup memang pahit, di mataku sendiri Fernando berciuman dengan sesame pasangan gay-nya. Aku hancur dan malu memiliki sahabat seperti dia, ada yang aneh ketika melihatnya berbuat demikian. Sdyney memang kota bebas bagi gay, tapi tidak buat aku. Aku melupakan semua kebaikan yang pernah dia berikan padaku, jijik rasanya aku melihat monster itu hidup bersamaku selama ini. Aku tau Fernando melihatku memergokinnya saat itu, ia panik dan meminta maaf karena selama ini tidak jujur dengan statusnya, hal terakhir yang kudengar dari mulutnya adalah
“ Aku mungkin gay, tapi aku bukanlah monster yang ada disampingmu selama ini. Bagiku siapapun boleh menganggap aku manusia hina tapi janganlah kau sahabatku, karena kaulah satu-satunya sahabat dalam hidupku yang yatim piatu tanpa siapapun”
Aku tidak tergoda oleh kalimat itu walau terasa menyedihkan, kutinggalkan Sdyney saat itu juga dengan membawa Angel pindah ke Perth. Aku tau Angel ingin menyarankan aku untuk menerima kenyataan tapi hatiku membeku dan tidak sudi memiliki sahabat gay dan menjijikan seperti dia. Sejak saat itu aku tidak pernah melihatnya seperti yang aku katakan sebelumnya kami kembali bertemu saat aku sedang berbulan madu bersama istriku tepatnya 3 tahun setelah kami berpacaran di sebuah restorant mewah ketika Fernando mulai menjadi koki di restorant itu.
Aku sadar ini saat terakhir aku berjumpa dengannya, karena aku akan kembali ke Jakarta. Saran istriku padaku untuk setidaknya mengucapkan kata perpisahan dengannya aku turuti, aku pun mengundangnya minum kopi bersama sebagai sahabat lama walaupun dihatiku tidak pernah mau memaafkan statusnya sebagai gay. Kami bicara seadanya tentang hidup kami , dia mengucapkan selamat atas pernikahan kami. Dan kami pun berpisah, ketika pulang aku tidak mengingat semuanya selain sebuah mobil menabrakku dan aku pun koma hingga tidak sempat mengingat Fernando.
Istriku kembali, dengan wajah sedikit senduh dia duduk disampingku.
“ Sayang, sebenarnya apa yang kamu pikirkan tentang foto itu”
“ Tidak ada selain pertanyaan kemana Fernando saat ini?”
Istriku menunduk sambil berkata “ Dia ada disini..”. Aku menjadi bingung,
“ Maksudmu apa?”
“ Fernando tidak akan pernah ada di dunia ini lagi, tapi dia akan selalu ada di sini, tepatnya di jantung yang kamu miliki saat ini.”
“ Aku tidak mengerti maksudmu?”
Istriku menangis sambil bercerita, disaat-saat terakhir usai kecelakaan terjadi. Orang yang membawaku ke rumah sakit adalah Fernando, Dokter mengatakan bahwa jantungku sudah tidak berfungsi. Aku hanya memiliki waktu sedikit untuk tetap hidup dan Dokter menyarankan Fernando mencari donor jantung. Istriku Angel begitu terkejut dengan berita kecelakaan itu, ia menangis disamping Fernando. Tidak mungkin mencari jantung yang tepat dalam waktu saat kondisi kritis seperti ini.
” Fernando, sebentar lagi Anthony akan menjadi seorang ayah, aku tidak lagi sanggup hidup bila bayi dalam kandunganku ini tidak memiliki ayah..” ujar Angel.
Fernando tersenyum dan berkata
“ Percayalah kalau Athony ( namaku) akan tetap hidup disamping kamu untuk selamanya”
Itu lah kata-kata terakhir dari istriku, Fernando mendekat pada Dokter dan berkata ia mau mendonorkan jantungnya padaku. Dokter terang saja menolak keinginan Fernado karena tidak ada hukum yang mengizinkan orang sehat untuk berbuat demikian. Fernando tidak putus asa, baginya hidupnya yang sebatang kara tidak akan memiliki masa depan terlebih tak akan ada seorang pun yang peduli padanya. Ia dengar kalau hanya orang yang sekarat boleh mendonorkan dirinya, sahabatku melakukan tindakan bodoh.
Sesaat sebelum kematiannya ia menelepon Dokter dan mengatakan bahwa seseorang donor yang bersedia menyumbangkan jantungnya. Dokter bertanya siapa orang itu ! dengan tersenyum dibalik telepon Fernando berkata “ Saya menunggu anda di belakang rumah sakit, jantung ini hanya bisa bertahan selama beberapa saat, saya mohon Dokter kemarilah dalam waktu 10 menit.” Dengan berani Fernando menabrakan dirinya pada sebuah truk yang lewat, dia mengorbankan dirinya untuk menjadi donor dalam keadan sekarat.
Angel menerima kabar itu usai operasiku berjalan lancar saat itu ia hendak bertanya sosok donor yang menyumbangkan jantungnya dan berpikir untuk mengucapkan terima kasih pada keluarga, Dokter mengatakan sang donor adalah Fernando. Angel tidak mungkin mengatakan kejadian itu padaku, ia hanya ingin menunggu saat yang tepat dan saat inilah aku tau. Aku hanya bisa menangis diatas makam sahabatku. Ntah bertapa bodonya aku tidak pernah mengerti arti sahabat dalam kehidupanku. Kalau saja saat itu aku memaafkan apa yang terjadi mungkin tidak akan ada penyesalan dalam hidupku.
“ Dia sahabat yang tidak hanya menolong hidupku satu kali tapi dua kali, bukanlah dia yang seharusnya meminta maaf tapi akulah yang meminta maaf tidak pernah mengerti bertapa dia adalah sahabat sejati dalam hidupku, aku terlalu egois mengatakan bahwa dia gay dan dia adalah petaka dalam hidupku. Mungkin kata dia terakhir padaku tidak akan pernah terlupa dalam ingatanku, ia memang gay tapi ia bukanlah monster yang akan mencintai sahabatnya sendiri.”
Aku tidak akan pernah melupakan hal ini, walaupun hidupku berjalan dengan waktu, semoga kisahku tidak membuat kalian menjadi seperti aku. Ingatlah sahabat itu hadir dalam hidup kita tanpa pernah kita sadari bahwa sejatinya tidak ada manusia yang sempurna dalam hidup ini. anakku terlahir beberapa bulan kemudian dan untuk mengenang sahabatku, keberikan nama Fernando padanya.
Gay, lesbi , pria buta, wanita bisu mereka adalah manusia yang memiliki hati untuk mencintai dan kasih dalam persahabatan. Setidaknya kita menyadari saat ini sebelum terlambat.
True story ini pernah dimuat di Kompas.
Dan bagian dalam sejarah kisah ini
terdapat dalam novel ke 3
Agnes Davonar berjudul sama
“ SAHABAT.”
Tersedia di seluruh toko buku di Indonesia.
SEBELUM MEMBACA KISAH INI SARAN SAYA SILAKAN DOWNLOAD LAGU INI
http://www.4shared.com/file/117235951/f2845ef6/shandy_-_kau_yang_terindah.html
Nama gua Martin, begitu panggilan teman-teman gua singkatnya. Padahal nama panjang gua Martin Gunawan. Umur gua 23 tahun saat ini, gua berbagi kisah yang ga akan pernah gua lupakan kepada semua orang yang pernah merasakan jatuh cinta. Gua menyebutnya My Blackberry Girlfriends. Semua bermula dari saat ngetrendnya hendphone Blackberry yang membius semua teman-teman gua, walau harganya selangit tiba-tiba hendphone asal Kanada itu langsung jadi trend yang akhirnya membuat gua pun ikut-ikutan ngejual nokia 9500 gua.
Blackberry atau singkatnya BB memang hendphone keajaiban. Seorang temen menawarkan gua untuk membeli BB yang second. Karena harganya masih selangit dan ternyata juga BB itu masih baru karena orang yang makai mau ganti, akhirnya gua beli BB itu sebagai hendphone kesayangan gua. Sejak hari pertama makai BB, gua selalu promosikan no pin gua kesemua teman-teman gua yang makai dan setiap harinya kerjapun gua jadi kayak orang bloon karena selalu ngecek BB gua.
Suatu hari, secara ga sengaja sebuah no pinBB asing nge-add gua di BB gua. Gua terima permintaan itu, tapi tidak pernah bertanya siapa pemilik no pin itu karena gua gensi. Hingga suatu malam saat gua pulang kerja sedang asyik berbaring, jam 10 malam di messenger gua muncul pesan dari pin asing itu. Isinya singkat.
“ Gua tunggu lu di Kafe Top. Cepetan kalau ga datang gua bakal marah besar?”
Karena bingung gua balik nanya.
“ Maaf ini siapa?”
“ Gua Angel. Lu cepetan datang kalau ga gua bakal bunuh diri..”
Setelah gua cerna dan gua pikir-pikir, gua baru inget ini mungkin Angel teman gua waktu SMA. Akhirnya gua pun ngebut dengan motor gua menuju kafe Top yang memang ga terlalu jauh dari rumah gua. Gua coba datangin tuh Kafe dan akhirnya gua sapa dia di BB dan dia bilang di meja 13. Akhirnya gua datang sambil bengong-bengong sebab gua ga kenal siapa sosok gadis.
Dimejanya uda penuh dengan minuman alcohol, dia natap gua seperti ingin makan gua aja.
“ Kenapa lu yang muncul?” tanya dia.
“ Sorry kan lu yang suruh gua kesini..”
“ Gua tuh mau ketemu Fendy.. bukan lu, lu ini siapa dia?”
“ Gua martin.. gua ga tau siapa Fendy. Gua pikir lu manggil gua di- BB buat ketemu gua..”
Mukanya langsung merah, terus dia natap gua.
“ Panggil Fendy kalau ga gua marah..”
Gua jadi bingung lalu gua bilang..” Sumpah gua ga kenal sama Fendy..”
“ Ga mau tau.. kalau ga gua teriak neh..”
Lama-lama gua pikir gadis ini gila juga, akhirnya gua tinggalin dia aja. Tiba-tiba dia narik tangan gua, narik gua gitu aja keluar pintu kafe. Gua bengong, jalan dia uda kayak mabok.
“ Aduh kenapa sih? Gua bener-bener ga kenal Fendy.. serius !”
Rambutnya yang panjang nyaris nutupin semua mukanya karena terlalu mabok, lalu dia rapikan dengan tangannya, security mulai berdatangan..
“ Kenapa mas..”
“ Mas gua ga tau siapa dia.. tiba-tiba dia kayak gini..”
Security itu liatin dia lalu gadis itu berkata singkat sama bapak itu.
“ Gua hamil.. tanggung jawab..” ujar Angel langsung pingsan.
Security itu ngeliatin gua, seolah-olah gua yang hamilin dia. Mau gua tinggal rasanya ga tega juga karena pihak Kafe juga taunya gua orang terakhir yang kenal dia, akhirnya gua bawa dia ke keluar dengan membayar semua biaya minuman dia yang ngecekek kantor gua.. nasib-nasib..
Dengan motor gua, gua bingung mau turunin dia kemana. Akhirnya kepikiran juga buat liatin dompet dia, buat ngecek ktp dia kali-kali aja ada alamat. Tiba-tiba saat gua coba ambil dompet dia, sebuah tamparan tepat di wajah gua. Anjritt. Sakit banget.. dengan santainya dia bilang
“ Lu mau ngambil dompet gua.. lu maling ya,,!”
“ Bukan.. gua mau tau alamat u..!”
“ alah alasan lu pasti maling…”
Karena gua takut digebukin massa dia teriak-teriak akhirnya gua tinggalin dia aja di depan halte sendirian, ngebut dengan motor gua kabur dari gadis aneh yang pernah gua temuin malam ini. Sepulang dari rumah gua langsung berdoa sama Tuhan, sebab apa jadinya kalau gua digebukin massa gara-gara tuh gadis.Akhirnya gua deleted juga dia punya pin dari BB gua, besoknya gua terbangun dan gua dapat kerjaan sebagai SPB sebuah produk mobil bermerek, lumayan buat nambah-nambah uang jajan seorang pengangguran.
***
Gua emang cowok paling hoki sedunia dalam tiga hari gua uda bisa ngejual mobil sebanyak 20 biji, lumayan buat bonus isi pulsa hehehe. Tapi celaka 17 ketika tiba-tiba saat gua lagi pameran, tuh gadis mabok muncul sendirian ngeliat-ngeliat mobil. Dalam hati gua, mungkin dia ga kenal gua soalnya kan kemarin-kemarin dia mabuk. Gua sengaja tutup muka gua dengan brosur, dia dekatin gua sambil ngeliat mobil yang gua pegang, wajahnya cantik juga kalau ga lagi mabok. Gua heran kok cewek secantik ini bisa hamil sih sama orang ga jelas bernama Fendy itu.
“ Ini berapa harganya..?” tanya dia sama gua
“ Ehm…” jawab gua parno takut dia inget muka gua.
“ Yee. Ditanya diem aja. Mau beli neh gua.. “ ujar dia sinis dan gua pikir ini gadis mabok kaga mabok bengis amet.
“ Sekitar 200 juta .. “ ujar gua pelan dan dia memperhatikan muka gua.
“ Ngapain nutupin muka pake brosur gitu..?” tanya dia..
“ Oh.. Gapapa.. lagi batuk makluk lagi banyak flu burung takut nular..”
Tuhan masih sayang gua akhirnya dia pergi, setelah bosen liatin itu mobil.Gua narik nafas lega, apa jadinya kalau dia teriak tiba-tiba ditengah-tengah pameran.Gua pun duduk di meja kasir untuk beristirahat dan tiba-tiba dia ada disamping gua. Anjrit.. Gua Shock banget.. tiba-tiba dia langsung duduk gitu aja kayak hantu.
“ Gua kok rasanya pernah liat lo ya?” Tanya dia.
“ Salah orang kali.. muka gua kan pasaran..”
“ Ah.. Gua yakin banget!! Nama lo sapa?”
“ Nama gua.. ehm.. Alex..”
Dia natap gua dari ujung rambut sampai kaki. Tiba-tiba dia pergi gitu aja, terima kasih Tuhan ujar gua dalam hati.Akhirnya gua kembali kerja dengan damai, sampai tiba-tiba teman gua kasih tau gua ada amplop dari pelanggan. Gua pikir itu hadiah tips dengan senang hati gua buka dan ternyata isinya hanya pesan.
“ Gua tunggu loe di Food Court atas sekarang.. waktu lu 20 menit kalau ga sampai, jangan salahin gua kalau polisi yang jemput loe..Angel..”
Mati gua, lemes kaki gua pas baca pesan itu. Dia nyadar juga cowok yang kemarin, akhirnya gua pun dengan berat hati nemuin dia. Gua harap dia bisa jelas apa yang terjadi semalam. Ketika gua duduk dia lagi minum es campur. Gua duduk menghadap dengannya, dia langsung nyapa gua
“ Berapa Pin BB u..?
“ Gua.. “ tanya gua .. “ iya siapa lagi?”
“ BB22000..” Jawab gua dan dia langsung add pin BB gua.
“ Mulai besok setiap gua perlu lu, lu harus siap siaga. Jangan sekali-sekali lu hapus pin bb gua dari BB lu atau lu siap-siap masuk penjara..”
“ Sorry Angel.. lu salah paham. Waktu itu gua cuma maksud ngaterin lu pulang. Serius ga ada minat copet..”
“ Gua ga peduli, banyak saksi di tempat.. mau pake pengacara ruhut sitompul pun gua siap ladenin lu..”
“ Astaga…”
“ Yauda gua mau pulang.. inget kalau BB gua panggil siap-siap aja lu “ dia pergi gitu aja tanpa ember-ember sedikit pun, dalam hati gua berkata nasib gua sial amet ya gara-gara punya bb ini.
Dia kembali lagi dan gua pikir dia uda percaya sama apa yang gua omongin, eh ternyata..
“ Sekalian bayarin es campurnya..”
Nasib—nasib..
***
Kalau gua ceritain penderitaan gua setelah dia nge-add pinnya di BB gua, gua pasti bisa habisin semua halaman curhat gua ini. Tiap hari dia selalu minta gua jadi supir dia buat jalan-jalan kemana aja dia mau, kalau dia belanja dia selalu minta gua yang angkat barang-barang dia. Kalau dia ke salon gua harus temenin dia, untungnya dia ga minta gua yang bayarin. Karena gua cuma punya motor akhirnya dia suruh gua jadi supir dia. Sumpah mati selama gua jalan sama dia, gua ga pernah tau siapa dia, background dia pun masih rahasia banget.
Gara-gara dia gua jadi ga kerja sama sekali dan itu berjalan selama 3 minggu berturut-turut. Suatu hari dia tiba-tiba minta gua ditemenin ke Pantai mutiara. Gua yang lagi asyik-asyiknya nonton dvd mau ga mau harus samperin dia tempat biasa buat anterin dia. Gua diam aja dibelakang dia saat dia duduk dipantai sambil memperhatikan sunshet. Dia cantik banget tapi sikapnya bikin gua ilfeel, begonya lagi kenapa gua jadi cowok bego amet mau disuruh-suruh sama dia.
“ Eh Martin.. sini loh..” perintah dia.
“ Napa lagi..” tanya gua lemes.
“ lu uda punya pacar..”
“ Belum.. emang kenapa?” “ Oh pantesan lu punya waktu banyak buat gua..” pingin gua cemplungin ke air waktu dia jawab gitu ga nyadar gara-gara dia gua jadi sibuk.
“ Lu sendiri..”
“ Sejak kapan lu punya hak untuk bertanya siapa gua? Bukannya sejak awal gua bilang lu ga boleh bertanya sama gua..”
“ Ya nanya aja kali, abis lu kan nanya gua..”
“ Menurut lu gua tampangnya seperti punya atau ga?”
“ Kayanya sih banyak..” dalam hati gua mah mana ada mau cewek kayak gini egois..
“ Sok tau lu..” jawab dia gua hanya senyum-senyum
“ Gua ga punya pacar.. tapi gua lagi cari pacar..”
“ Terus uda dapat..?” tanya gua dan dia hanya ngangguk kepala bertanda YA.
“ Lalu kemana dia.. kok ga ngaterin lu aja..?”
“ lu mau gua gaplok ya.. yang lagi ngaterin gua sekarang kan pacar gua..!”
Gua jadi tiba-tiba merasa bloon dan tanya ulang.
“ Maksudnya gimana.. ga ngerti gua..!”
Dia geplek kepala gua sambil bilang..” lu pacar gua .. tolol”
Astaganaga.. sejak kapan gua jadi pacar dia, dalam mimpi pun gua ga berharap punya pacar kayak dia.
“ Lah sejak kapan .. kok gua ga tau..”
“ Lu mau masuk penjara atau mau jadi pacar gua..”
Dan sejak saat itu Angel menobatkan gua jadi pacar dia dengan egoisnya. Penderitaan gua terus berjalan, dia ga memperlakukan gua sebagai pacar. Gua seperti supir atau pembantunya aja. Suatu hari dia sakit dan minta gua ke apartement dia.Dan seperti biasa dia ga pernah nelepon gua untuk minta tolong selalu pake BB untuk nyapa gua dan perintah gua. Dengan berat hati gua pun ke tempat dia, baru kali ini gua ke apartement dia dan dia lagi sakit
“ Lama amet sih.. “
“ Yaila Jakarta kan macet..”
“ Alasan lu banyak lah..”
“ Kok lu sakit masih galak aja sih…” Dia terdiam.
“ Sakit apa sih?” tanya gua..
“ Perut gua sakit… sepertinya anak guamau ngelahirin..”
“ Hah.. yakin loh. Terus gua mesti gimana..!” tanya gua dan dia bilang “ bawah gua ke rumah sakit!”
Akhirnya gua pun bawa dia ke rumah sakit. Dokter bilang dia emang sedang hamil 6 bulan dan gua dikira suaminya. Dalam hati gua baru nyadar kenapa dia jadi egois gitu, gua rasa dia punya beban yang berat dalam hidupnya sebab dia hamil tanpa suami. Akhirnya gua mencoba bersikap menerima dia dalam hidup gua sebagai sahabat. Gua jadi prihatin, dia hidup sendirian. Dia cerita kalau orang tuanya uda meninggal dengan mendadak karena kecelakaan pesawat. Saat gua tanya dimana bapak si jabang bayi.
“ Gua ga tau.. namanya Fendy.. dia yang punya BB yang lu pake.. orangnya uda ilang..”
“ Jadi anak ini bakal ga punya ayah dong..”
“ Lu lah yang jadi ayahnya…”
“ Gua belum siap jadi bapak..”
“ Itu takdir loe…”
Iya, Angel memang benar gua adalah takdir dia. Walaupun dia orang yang egois dan galak, sebenarnya dia itu baik. Gua bisa rasain dia hanya stress sama hidup dia. Gua akhirnya selalu menjaga dia setiap bulan, hingga suatu ketika saat gua lagi dikamar. Seorang teman gua datang, dia orang yang menjual BB ini ke gua. Gua jadi mau tau siapa orang yang disebut Fendy oleh Angel. Ketika gua datang dan nemuin dia, bertapa marahnya gua ketika dia bilang.
“ Angel cewek murahan, gua berhubungan sama dia karena suka sama suka, jangan bilang itu anak gua.. bisa aja anak orang lain..”
Gua hajar itu orang sambil meninggalkan laki-laki berengsek itu. Hari ini tidak seperti biasanya Angel ga bb gua, gua pun bb dia untuk pertama kalinya.
“ Tumben lu BB gua duluan..” tanya Angel.
“ Cuma merasa aneh aja lu ga ada perintah hari ini..”
“ Sorry selama ini membuat lu selalu merasa sibuk..” kata sorry pertama dalam sejarah gua kenal dia.
“ Gapapa gua senang kok jalanin semua ini..!”
“ Martin.. apa impian lu dalam hidup?”
“ Impian gua dalam hidup jadi orang sukses dan punya keluarga bahagia..”
“ Hm.. kalau gitu lu ga bahagia dong sekarang..”
“ Ga terlalu.”
“ yauda kalau gitu ntar malam lu datang ke apartement gua , gua mau makan malam sama lo..”
“ Waduh.. serius lo..!”
“ Kalau jam 7 Lu ga datang,gua bakal suruh polisi jemput lo..” ujar Angel yang galaknya keluar.
Gua begitu bahagia ketika datang dia masak untuk pertama kalinya buat gua, terang aja dia jago masak. Dulu kan dia kuliah di UPH jurusan pariwisata dan masak-masak.Malam itu berbeda dengan hari lainnya, dia begitu hangat dan cantik. Dia memberikan pancaran kebahagiaan dari wajahnya, gua juga begitu terkesan dengan semua yang ia lakukan malam ini dengan makan malamnya. Lalu gua bertanya..
“ Angel apa imipian lu dalam hidup?”
“ Berjumpa dengan orang seperti lu dalam hidup gua..”
“ Oh ya terima kasih..”
“ So.. Sekarang lu bahagia..!”
“ Gua bahagia..” dalam hati gua tapi gua sensara.
“ gua berharap kelak gua bisa wujubkan impian lu seperti lu mewujubkan impian gua berjumpa dengan orang seperti lu..”
“ Waduh jangan bikin gua GR dong.. ada ada aja..”
Malam itu pun berakhir, ntah mengapa sejak malam itu Angel ga pernah lagi panggi gua di BB. Saat gua panggil pun dia ga jawab. Gua ga tau nomor telepon dia karena selama ini selalu pake BB, gua pun berinistif ke Apartement dia tapi ga ada yang buka pintu. Gua merasa kehilangan besar dalam hidup gua, apalagi gua tau sebentar lagi dia akan ngelahirin anak.
Gua bersedih hati sampai detik ini pun gua ga menemukan dia.. Gua sadar gua menderita selama ini karena selalu jadi babu dia, tapi dibalik penderitaan itu gua sejujurnya merasa senang bisa mengenal Angel. Dia gadis yang kuat walaupun menerima kanyataan pahit dalam hidupnya setelah orang tuanya meninggal karena kecelakaan dan hamil tanpa ayah.
Suatu ketika gua hanya mendapat pesan terakhir dari dia yang bilang ke gua,
I have baby in my life and the name its Martin..
Tapi sayang gua ga pernah lagi tau dia dimana dan gua hanya bilang dia sebagai
MY BLACKBERRY GIRLFRIEND dan saat ini gua pun menciptkan sebuah lagu untuknya.. Semoga ketika dia mendengar lagu ini dia tau kalau gua begitu bahagia mengenal dia.
BY AGNES DAVONAR FOR MARTIN.

Mungkin ini adalah pengalaman yang tak pernah ingin saya ceritakan kepada siapapun? Selain hanya untuk mengenang awal saya menulis di blog ini. Banyak yang bertanya-tanya apa yang menjadi dasar inspirasi saya terus giat menulis, giat membuat kisah dan giat menjalanin sebagian hidup saya hanya untuk menulis. Menulis bagi saya adalah bagian yang tak pernah terlintas dalam hidup saya, itu mungkin yang saya pikirkan 2 tahun silam saat saya pertama kali mendapatkan hadiah blog ini.
Nilai pelajaran bahasa Indonesia saya yang selalu merah bahkan membuat saya berpikir menulis hal paling membosankan di dunia. Hingga kekasih saya yang terindah memberikan saya pola pikir yang berbeda. Dulu sewaktu kembali dari Taiwan, saya hidup sebatang kala di Jakarta. Keluarga saya telah hijrah jauh dari negeri tercinta ini. Hanya satu orang yang membuat saya bertahan hidup di negeri ini. Seorang pria yang adalah tetangga saya sendiri, saya pun baru mengenalnya saat saya kembali di rumah lama saya.
Pria itu mungkin tak pernah saya bayangkan sebab sejak 10 tahun silam keluarga saya dan dia begitu tidak akur. Tapi takdir akhirnya membuat saya dekat dengannya, setiap harinya saya sering pergi ke rumah dia dan melihatnya sedang asyik berchating ria. Wah.. Saya pun kemudian meminta diajari bagaimana chating dan membuat email. Saya yang bodoh dan gaptek dengan sabar mendapatkan pelajaran dari kekasih saya. Melihat saya begitu antusias terhadap komputer, pada saat saya ulang tahun ke 19 dia menghadiahkan saya sebuah komputer.
Saya begitu gembira sekali, saya tidak mengerti ia mau menghadiahkan Komputer untuk saya. padahal dia sendiri saat itu masih kuliah dan saya rasa pasti ia menabung begitu berat untuk hadiah itu. Ternyata usut punya usut, dia begitu terkesima dengan tulisan saya di komputer dia tentang kisah cerita pendek yang saya tulis 2 halaman berkisah tentang kerinduan saya pada keluarga saya nan jauh disana. Sejak itu dia pun berpikir saya kelak akan menjadi seorang yang berbakat dalam dunia tulis menulis.
Saya hanya tertawa mendengar alasan dia, tidak terpikir dalam hidup saya menulis. Karena yang saya tulis di dinding komputer dia saat itu hanya refleksi hidup saya setelah ayah saya meninggal. Tapi itu tidak membuatnya menyerah menyakinkan saya, bahkan dia membuatkan sebuah blog khusus untuk saya dengan judul halaman yang panjang diantara nama kami berdua. Saya pikir ini lucu, tapi kekasih saya bilang
“ Bila kamu selalu menghabiskan malam kamu tanpa berbuat apa-apa, lebih baik kamu gunakan satu hari dalam hidup kamu untuk menulis apa saja yang bisa kamu tulis..”
“ Saya tidak punya bakat untuk itu?” ujar saya.
“ Tidak sayang, tulisan kamu sangat indah dan inspiratif. Percayalah kalau kelak kamu akan mendapatkan orang-orang yang mencintai tulisan kamu.”
Saya hanya tersenyum, memang benar kata kekasih saya. Daripada saya menghabiskan waktu malam saya hanya untuk iseng chating ria, saya pun terpikir menulis kisah-kisah harian kami. Dan lucunya saya malah menuliskan kisah perjalanan hidup kami dalam situs saya. Tulisan saya yang berjudul kisah Amoy dan orang medan itu ternyata di muat di kompas oleh ulah teman saya yang iseng mengirimkan artikel itu. Saya pun terkejut ketika begitu banyak orang mengirim email kepada saya dan berkata.
“ Saya sangat terinspirasi dengan ulasan artikel anda!”
Semenjak saat itu saya pun mulai berpikir mungkin saja apa yang kekasih saya katakan benar. Dan sejak saat itu saya selalu menghabiskan waktu menulis kisah kisah cinta dan kekasih saya selalu menjadi juri yang memberikan penjelasan apakah cerita itu bagus atau tidak. Dia orang yang jujur dalam berkata bahkan bila jelek ia akan spontan mengatakan demikian. Waktu pun berjalan, tanpa terasa setahun sudah saya menulis bersama bimbingan dia.
Suatu hari, dia datang ke rumah saya dan berkata. Bahwa ia akan pindah ke China untuk kembali meneruskan sekolahnya. Saya tidak setuju dan merasa tidak siap jauh darinya, tapi tujuan dia untuk meneruskan masa depan tidak bisa tertunda lagi. Saya hanya bertanya padanya.
“ Lalu bila saya rindu akan kamu? Apa yang harus saya lakukan?”
“ Tulislah kerinduan kamu di situs, saya akan membacanya. Ingat saat ini dunia maya sudah berkembang pesat. Dimanapun jarak kita, percayalah kita selalu dekat.”
Saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima keputusan itu. Ternyata hubungan jarak jauh memang membuat saya sulit. Kami pun putus ditengah jalan, saya begitu sedih menerima kenyataan itu. Saya terlalu egois dan mungkin juga karena sibuk memulai aktifitas kuliah saya yang mendapatkan beasiswa. Saya pun tidak pernah menghubungi dia hingga suatu ketika tanpa alasan yang jelas saya tidak pernah bisa melihat dia bahkan berhubungan dengan dia dunia maya sekalipun.
Saya baru menyadari kalau di China, pemerintah sana melakukan blokir pada beberapa situs dan fitur internet. Kami pun benar-benar kehilangan kontak, sedangkan keluarganya sendiri telah pindah ke medan. Saya bersedih hati tapi teringat oleh kata-katanya. Bila saya merindukan dia, saya bisa menulis tulisan yang bisa saya tulis dan dia akan membacanya. Saya pun terus menulis berharap kelak ia sadar bahwa saya masih merindukan dia.
TANPA terasa dua tahun berlalu semenjak saat itu. Saya telah menjalani banyak kisah cinta usai bersamanya. Tiba-tiba situs yang ia berikan kepada saya benar-benar menjadi tenar seperti apa yang ia katakan kalau kelak saya akan memiliki banyak orang yang mencintai tulisan saya Ntah harus bangga atau bagaimana? Sulit buat saya melukiskan perasaan saya. Suatu hari saya saat saya sedang berfacebook ria, tanpa sengaja saya melihat sebuah foto yang berisikan foto dia bersama gadis lain.
Ketika saya tanyakan kepada pemilik foto itu, saya hanya bisa terdiam karena dia berkata bahwa itu adalah foto dua orang yang telah menikah. Artinya dia telah menikah dan itulah mengapa ia tidak pernah lagi mencari saya. Saya memang tidak akan melupakan kenangan yang ia berikan dalam hidup saya walaupun dia telah menikah. Tapi banyak sejarah yang telah tercipta olehnya.
Saya tau dia telah melihat keberhasilan saya atas bimbingannya, mungkin yang paling menyedihkan buat saya, saya tidak dapat pernah mengucapkan terima kasih padanya. Dua tahun hidup yang kami jalanin bersama memang indah bagaikan pesta indah, tapi pesta akan usai dan itulah akhir kisah kami. Saya sadar tidak ada yang bisa melekatkan kami selain dengan tulisan ini, di hari ulangtahunnya yang jatuh pada tepat hari ini saya ingin mengucapkan sedikit tulisan yang semoga saja ia baca.
“ Kalau saya kaji hidup saya dalam dalam, banyak orang yang telah hadir dalam hidup saya silih berganti. Tapi kamu tetaplah bagian sejarah yang tidak akan pernah pudar, kamu memang bukan lagi orang yang saya cintai, tapi kamu adalah orang yang saya hargai sebagai bagian dalam kehidupan saya. Terima kasih Hendra.. hanya itu kata-kata terakhir saya untuk kamu, selamat menjalani hidup kamu dan selamat ulang tahun untukmu.”
Kini 2 tahun telah berlalu dalam kehidupan saya, 2 tahun yang membuat saya selalu mengenang apa yang harus terjadi dalam hidup saya kedepan. Banyak sejarah yang saya tulisan dalam blog ini, banyak pula hal yang menjadi titik dasar dunia online berkembang dari blog saya. Gaby, David Hartanto, Denny Sumargo,Surat kecil untuk Tuhan adalah karya yang tercipta dari blog ini. Ada yang bilang itu semua controversial, tidak masuk akal tapi bagi saya
Itu adalah hal terindah yang saya persembahkan untuk dia.
walaupun kini darinya saya memang telah menjadi seorang penulis, saya masih menyimpan satu impian kelak saya dapat menghadirkan dia dalam acara perayaan saya. Mungkin ketika dia berada di toko buku dan melihat nama saya terpampang saya berharap dia tersenyum dan berkata dalam hatinya
” Saya telah melahirkan penulis dalam hidup saya”
dewasa ini, dia memang orang yang telah menjadikan banyak hal dalam hidup saya berubah seiring waktu. banyak cita-cita yang terpampang di hadapan saya karenanya. semoga saja andai dia masih mengingat saya, dia masih bisa tersenyum karena dia harus tau kalau dia adalah orang yang terindah dalam indah hidup saya
Agnes davonar
tulisan ini untuk mengenang awal saya menulis dan mengapa nama judul blog saya.
bila anda ingin memiliki lagu kau yang terindah silakan download. free dan dilegarkan
http://www.4shared.com/account/file/117235951/f2845ef6/shandy_-_kau_yang_terindah.html
terima kasih
artikel berhubungan tulisan di kompas tentang ini
http://lieagneshendra.blog.friendster.com/?cat=82337
artikel berhubungan dengan ayah saya
http://agnesdavonar.blogdetik.com/2009/02/23/pesanterakhirayah/
Denny Sumargo : Dan Saya pun Bisa!!
Ini adalah sebuah biografy singkat sebuah perjalanan anak bangsa yang sedang ingin berbagi cerita tetang dunianya. Dunia yang jauh dari apa yang mereka lihat tentang seorang Denny Sumargo seorang atlit basket seperti dunianya saat ini. Tapi itu hanya sebagian dari sisi hidupnya yang orang tau, bagaimana perjalanan untuk menjadi seorang pebasket adalah misteri hidup yang pahit dan berliku.
Agnes davonar menceritakan kisah ini dalam sebuah novel Biografy berjudul DennySumargo: Dan saya pun bisa!!, kisah panjang yang patut menjadi pelajaran bagi siapapun bahwa dunia ini sempurna bila kita menghendaki dengan tekat yang kuat dan yakin kita BISA!!. Karena sesungguhnya sejarah itu tercipta oleh kita sendiri dan Denny Sumargo pun bercerita tentang sejarahnya kepada anda.!!
PENDERITAAN SAYA BERAKHIR
Setelah saya diusir dari rumah dan menghilang selama dua hari lamanya, nenek memang mulai sedikit melunak terhadap sikap saya tapi ia masih tak segan memukul saya bila saya nakal. Saya pun kembali ke bangku sekolah untuk mengejar beberapa pelajaran yang saya tinggalkan karena menghilang dalam pertualangan saya sebagai kernek angkot. Saya murid yang pintar sehingga tidak ada masalah untuk mengejar pelajaran saya dan itu saya buktikan ketika saya kembali menjadi rangking pertama di kelas saya.
Kepintaran saya sama sekali tidak ada gunanya di kelas karena saya tidak dihargai oleh teman-teman saya. Mereka lebih suka menghina saya sebagai penakut dan pengecut walaupun begitu berhasil juga saya mendapatkan sahabat yang mau bermain dengan saya. Beberapa murid perempuan terkadang masih bicara dengan saya untuk sekedar membahas cerita-cerita yang mereka dongengkan dan saya memiliki sahabat dekat bernama Angel yang sering bicara dan suatu ia bertanya pada saya.
“ Denny.. kamu selalu ambil raport sama tante kamu.. kemana orang tua kamu?” tanya teman saya.
“ Mama saya ada di Makassar.. dia bekerja disana. Jadi tidak mungkin dia bisa ambil raport, jadi tante saya yang wakilin.. !!”
“ Oo.. lalu dimana Papa kamu..!”
Saya terdiam dan sebuah pertanyaan sulit untuk dijawab. Saya tidak mendapatkan gambaran sama sekali tentang sosok ayah dalam hidup saya.
“ Saya ga punya Papa.. dan saya ga tau Papa saya”
“ Aneh.. biasa kan orang tua itu ada ayah dan ibu.. kok kamu cuma Mama saja..!”
“ Saya pun tidak mengerti..!”
“ Tidak kamu tanyakan sama Mama kamu..?”
Saya mengeleng-gelengkan kepala saya, saya tidak bisa membayangkan apa yang ibu lakukan pada saya bila saya bertanya tentang ayah. Ibu seperti tidak ingin saya mengenang sosok ayah dalam hidup saya dan saya juga merasa ibu sudah seperti ayah sehingga saya tidak berpikir sosok ayah saya selama ini. Tapi pernah tergelitik sebuah pertanyaan tentang ayah saya dan itu pun bukan jawaban yang saya dapat dari ibu saya, melainkan dari cerita tante saya.
Saya tau ayah masih hidup dan ada di dunia ini tapi itu tidak penting lagi untuk saya, buat saya keluarga saya hanya ibu saya. Kalaupun dia nanti bertemu dengan saya, saya bahkan tidak berharap akan bertemu dengan dia. Ibu sudah cukup keras mendidik saya dengan apa yang ia bisa lakukan, ia keras, disiplin dan ringan tangan tapi itu dia lakukan untuk menjadikan saya anak yang baik dan tidak ada sedikitpun rasa sakit hati karena kekerasan dan ajarannya.
Selama hidup bersama tante, saya harus mengubur rasa rindu saya terhadap ibu saya. Kalaupun saya ingin menangis tidak saya lakukan didepan tante dan nenek saya, saya lebih memilih berdiam di kamar sambil membaca surat yang ia kirimkan untuk saya setiap bulannya. Saya ingin sekali bercerita kalau saya terkadang tidak kuat berada disini tanpanya, saya mungkin mampu melakukan apapun yang diperintahkan oleh tante saya andai saja ibu ada disamping saya. Sayangnya saya tidak sampai hati menyampaikan perlakuan mereka pada saya.
Tuhan sepertinya mendengarkan keluh kesah saya hingga pada suatu hari, anak tante saya yang saudara kandung ibu bernama Weldy datang ke Jakarta dalam rangka perlombaan Karate. Ia saat itu melupakan atlit Karate yang berprestasi dan selama di Jakarta ia menumpang di rumah tante saya. Ia juga tidur bersama saya dan saya sangat senang punya teman bicara saat malam bersama dia. Dia juga membawakan makanan yang ibu titipkan untuk saya dan itu bisa membuat saya tidak kelaparan saat malam hari.
Weldy yang saya panggil kakak seperti kebingungan ketika ia melihat saya bangun pagi hanya untuk membersihkan rumah dan melakukan berbagai perkerjaan yang tidak seharusnya saya lakukan. Ia mungkin bertanya dalam hati mengapa tante saya tega memperlakukan saya dengan tidak sepantasnya karena usia saya yang masih kecil. Ketika itu ia langsung menghampiri saya untuk bicara ketika saya sedang menyapu ruang tamu.
“ Kamu ngapain Den,?”
“ Nyapu… bersihin rumah supaya rapi!”
“ Kamu nyapu gini iseng apa gimana?”
“ Gak.. ini tugas saya kalau bangun pagi sebelum sekolah.. uda biasa kok..!”
“ Loh.. mau sendiri apa disuruh..!”
“ Disuruh sama tante.. saya nyapu dulu deh.. ntar kesiangan sekolahnya..!”
Saudara saya hanya bisa menarik nafas dalam melihat kejadian itu, saya pun terburu-buru untuk melakukan tugas saya karena semalam saya bicara terlalu lama dengan Weldy. Saya senang ibu baik-baik saja dan bahkan mulai menunjukkan keuangan yang membaik, ia menitipkan pesan ibu kepada saya untuk belajar dengan giat sehingga nanti besar menjadi orang berguna dan besar. Dan kata kata itu saya tanamkan dalam-dalam di hati saya. Andai saja ibu tau saya sangat merindukan dan mencintai dia maka itu saya rela bertahan seperti ini mungkin dia akan lebih bahagia.
***
Pindah ke Surabaya dengan ibu.
Saya sedih ketika Weldy kembali ke Makassar karena saya jadi kehilangan teman bicara saat malam hari tapi ia memang harus kembali karena ia tidak bisa berlibur lama-lama di Jakarta, ia pun berjanji akan kembali nanti dan mengajak saya bicara banyak hal. Setelah Weldy pulang ternyata ia menyampaikan semua perlakuan tante saya kepada ibu, ibu sangat marah ketika itu dan langsung mengambil keputusan untuk membawa saya pulang tapi tidak terburu-buru karena saat itu ia juga sedang sibuk berpikir untu pindah ke Surabaya.
Saya tidak pernah berpikir ibu akan jatuh cinta dan memiliki laki-laki lain dalam hidupnya karena saya itu saya tidak berpikir ia akan mencintai orang lain selain saya, ternyata saya salah ibu sedang dekat dengan seorang pria bernama Aldi, saya tidak jelas darimana mereka berkenalan tetapi yang saya tau ibu begitu jatuh cinta pada pria yang usianya tidak terlalu berbeda dengannya. Ibu memang masih muda dan cantik lagipula usianya juga belum genap 30 tahun sehingga tidak heran ia begitu memikat.
Mungkin yang membedakannya adalah ia adalah seorang janda beranak satu dan bernama Denny sumargo. Aldi seorang pria yang tidak terlalu dekat dengan saya tapi saya tau ia dan ibu saling mencintai sehingga itulah ibu memutuskan untuk pindah bersama dia ke Surabaya untuk membangun kehidupan baru dan kesempatan itulah yang ibu gunakan untuk membawa saya pergi dari tante dan nenek saya. Tante pun melepas kepergian saya dengan tanda tanya antara sandiwara dan tidak tapi ia sepertinya bersedih.
Di Surabaya saya tinggal di sekitar pantai kenjeran di timur Surabaya, disanalah kami mengontrak rumah sederhana dan memulai hidup baru kami. Saya memanggil Aldi dengan sebutan Om, tapi jarang saya gunakan karena kami juga jarang bicara selain saat makan bersama atau ibu meminta saya memanggil dia. Saya bersekolah di sekitar swasta yang lebih baik dari sebelumnya karena disini lebih banyak warga keturunan walaupun ada penduduk lokal tapi mereka sangat akur dan baik.
Saya duduk di kelas 4 Sekolah Dasar dan langsung menjadi perhatian karena memiliki kepintaran yang tidak mereka kira, saya masih ingat nilai Matematika saya selalu mendapat 9, 5 di rapot, guru saya sampe kebingungan untuk memberikan angka 10 karena itu tidak diperbolehkan. Saya mendapatkan perhargaan dan rasa hormat lebih baik dari teman-teman saya kebanding di sekolah saya dulu. Dan saya pun langsung menjadi terkenal di sekolah saya.
Ibu masih melakukan perkerjaan seperti biasanya yakni, berdagang pakaian dan berkerja sambilan di sebuah Salon. Sedangkan Om Aldi bekerja tapi saya tidak pernah jelas dengan pekerjaannya, ia hanya sering pulang pada malam hari dan tertidur tanpa banyak bicara. Ibu selalu hidup hemat dan menabung setiap sen rupiah yang ia dapatkan untuk menggapai mimpinya membuka Salon, saya tau karena ibu selalu menyimpan uangnya di Bank bersama saya.
Hidup saya juga lebih terjamin dengan tanpa perlu menahan rasa lapar karena ibu selalu membuatkan saya makan bila saya lapar dengan cepat. Kesehatan saya nomor satu buatnya, disamping ia juga harus melayani kebutuhan Om Aldi. Mereka tidak menikah secara resmi, saya tidak tau alasan demikian tapi saya rasa ibu tidak ingin pernikahannya gagal sehingga memutuskan hidup bersama tanpa ikatan dan saya lihat selama mereka tinggal bersama, mereka akur-akur saja.
Tiga tahun hidup kami berjalan dengan baik, ibu mulai merasa hidupnya lebih baik dan berencana membuka salon dengan biaya yang telah ia kumpulkan selama tiga tahun itu, ia mulai mencari ruko dan berbagai persiapan untuk membuat salon. Ia mempercayakan semuanya kepada Om Aldi karena ia terlalu sibuk untuk bekerja dan mengumpulkan modal lebih banyak lagi. Om Aldi memang sepertinya terlihat sibuk membantu ibu mengurus usaha barunya itu. ia bahkan selalu berada dirumah tidak seperti biasanya ketika saya pulang ia tidak ada, saya jarang sekali bicara dengan dia dan bahkan sepertinya kami saling menghindari. Saya merasa tidak cocok dengannya ntah apa karena asing terhadap sosok pria dia hidup saya karena selama ini saya hidup dengan sosok wanita seperti tante, dan nenek saya.
Mendung itu tiba.
Suatu hari saya begitu bahagia karena mendapatkan kabar dari guru saya kalau saya akan mendapatkan hadiah karena mendapatkan nilai ulangan sempurna dan segera pulang membawakan berita baik itu kepada ibu. Ketika tiba di rumah, saya merasa ada yang aneh dengan rumah saya. Rumah saya berantakan dan banyak barang-barang yang berantakan seperti habis di bom saja. Saya langsung menuju kamar ibu, bertapa terkejutnya saya menemukan ibu menangis sambil terduduk di tembok.
Saya mendekati ibu yang seperti orang linglung dan rusuh bersama air mata di pipinya.
“ Mama.. mama kenapa.. ?” tanya saya.
Mama terdiam dan ia langsung memeluk saya tanpa saya tau ada apa dengan dia. Saya hanya bisa mendengar tangis dia yang tiada henti dan ia hanya mengulang satu kalimat yang sama dan itu adalah
“ Habis semuanya.. habis semuanya.. “
Saya masih tidak mengerti apa yang ia maksud tapi saya tau ini berita yang buruk dan saya berharap om Aldi segera pulang untuk membuat ibu saya tenang. Tapi akhirnya saya harus bersedih karena ternyata yang membuat ibu saya menangis seperti ini adalah OM Aldi. Saya baru menyadari ketika beberapa tetangga saya datang untuk membantu menenangkan ibu dan dengan sedikit menguping saya mendengar sebuah hal yang paling menyakitkan.
Om Aldi yang ibu cintai ternyata tega membawa kabur uang yang ibu saya simpan untuk usaha salonnya sebesar seratus juta Rupiah. Jerih payah dan keringat yang ia jatuhkan demi masa depan hidup kami yang baik lenyap begitu saya oleh pria yang ia pikir begitu mencintainya dan ternyata menjadi maling dalam kehidupan kami. ibu terlalu mempercayai pria itu hingga tanpa sadar menyerahkan uangnya begitu saja untuk dibawa kabur.
Ibu sangat frustasi dengan kejadian yang memilukan itu, saya masih ingat ketika itu saya sedang belajar dan ibu menangis lalu menghantamkan keningnya ke tembok sambil menangis. Saya sangat panik dan mencegahnya sambil menangis.
“ Mama.. mama jangan begitu.. mama jangan kayak gini.. jangan Ma..”
“ Mama.. hancur.. mama benar-benar hancur..”
Saya menangis dan menahan kepalanya dengan sekuat tenaga agar ia tidak melakukan tindakan yang bisa membuatnya terluka. Tangis saya sepertinya bisa membuat dia sedikit berpikir untuk tidak melakukan perbuatan itu lagi, saya sadar sekali dengan maksud kata-katanya. Hatinya sungguh telah hancur dan hidupnya sungguh merasa jatuh. Ia tidak hanya kehilangan uang yang ia simpan dengan keringatnya tapi juga kehilangan cinta dan penghianatan seorang laki-laki yang begitu mencintainya.
Tidak pernah dalam hidup saya begitu sedih melihat sosok ibu saya yang begitu menyerah terhadap cobaan hidupnya. Kami jatuh dalam sebuah kehidupan yang menyedihkan dan ia tidak berusaha untuk bangkit, ia menjadi sosok yang lemah dan tak berdaya bahkan tidak pernah berpikir bahwa ia memiliki saya yang harus ia perjuangkan. Yang kami punya hanya sedikit uang untuk bertahan hidup tidak lebih dari satu minggu, untung saja ada tetangga yang berpikir membantu kami melihat tragisnya hidup kami.
Karena begitu sedihnya melihat sikap ibu, nilai saya di sekolah menurun dan selalu cemas takut ibu melakukan tindakan-tindakan yang saya takuti semacam untuk bunuh diri dan lari meninggalkan saya. Saya selalu ingin pulang cepat dan jarang sekali bermain bersama teman-teman, ketika saya pulang saya berharap ibu menyambut saya dengan senyuman ternyata tidak, wajahnya yang cantik kini tanpa pucat dan tidak beraura seperti biasanya, ia seperti hidup bukan pada dirinya.
Saya masih ingat ketika saya sangat kelaparan dan ibu hanya memiliki uang yang sedikit. Saya terus menjerit kelaparan dan ibu tidak tahan melihat keadaan saya lalu memberikan uang terakhir yang ia punya dari menjual kalung perhiasannya. Ia menyuruh saya untuk memberikan makan di luar dan saya pun berjalan kaki untuk mencarinya. Saya tau bukan hanya saya yang lapar tapi ibu juga lapar tapi ia berusaha untuk menahan rasa itu dihadapan saya. Saat itu sudah sangat malam dan saya pun segera mencari makanan di sekitar lingkungan rumah saya.
Saya melihat penjual nasi bebek yang masih berjualan sedangkan banyak penjual makanan tutup. Saya mendekati pria itu untuk membeli makanan yang ia sajikan.
“ Pak saya mau nasi bebek berapa harganya?”
“ Ini sebungkusnya dua ribu rupiah..!” ujar penjual itu dan saya merongo uang di saku saya yang hanya terdapat beberapa lembar ratusan dan terkumpul enam ratus rupiah.
Saya sadar uang saya tidak akan cukup untuk memberi makanan itu tapi hanya inilah satu-satunya toko yang buka di malam itu.
“ Pak, maaf. Boleh ga saya beli nasi sama sambelnya saja.. uang saya hanya ada enam ratus rupiah.!”
Bapak itu mungkin heran melihat saya tapi ia sepertinya tau saya tidak punya uang dan akhirnya menerima uang itu dan memberikan nasi dan sambel sesuai yang saya minta. Saya begitu bahagia dan bersyukur mendapatkan makan untuk malam ini, lalu saya membawa pulang kepada ibu. Nasi itu memang tidak banyak hanya semangkus piring kecil yang tidak akan cukup untuk kami disertai sambel kecap yang sengaja saya minta agak banyak. Ibu meminta saya untuk makan terlebih dahulu dan saya memang sudah lapar pun memakannya kemudian ia memakan sedikit dan kami hanya saling memandang dengan pilu.
Nasi dan sambel yang saya makan penuh duka ini tidaklah nikmat tapi setidaknya inilah makanan yang patut saya syukuri karena sejak saat itu ibu mulai berusaha bangkit dari keterpurukan hidupnya. Air matanya berjatuhan melihat saya begitu lahap menikmati makanan yang tentunya tidak akan pernah cukup dan sejak saat itu saya sadar ibu telah kembali menjadi dirinya sendiri. Ia bangkit dari rasa sedih dan hantu bayangan yang menyakitkan dirinya.
Ia kembali bekerja di esok harinya setelah sebulan lamanya frustasi, ia berkata pada saya untuk terus belajar dengan giat dan mulai saat ini hidup kita hanya akan bersama untuk selamanya. Pria yang menyakitinya biarkanlah menjadi yang terakhir dalam hidupnya dan saya tidak berusaha mengungkit pria jahat itu dalam hidup kami. Seperti yang selalu saya pegang teguh dalam hidup saya bahwa apa yang saya miliki saat ini bukanlah sesuatu yang abadi ketika Tuhan menghendaki semuanya lenyap saya harus siap dan ikhlas.
Ibu menatap harinya dengan semangat dan saya pun kembali bersemangat untuk belajar, kami melupakan semua yang pernah terjadi dalam hidup kami dan belajar untuk lebih tidak mempercayai orang lain selain diantara kami berdua. Kami pindah dari rumah kontrakan kami ke sebuah kos yang kecil berukuran 3×4 Meter, bisa dibayangkan dalam satu kamar kecil itu kami menyimpan kompor,dapur dan tempat tidur bersamaan. Bahkan saya harus tidur beralasan tikar karena semua barang yang kami punya sudah kami jual untuk memulai hidup baru.
Diganggu kakak kelas.
Ketika saya masih duduk dikelas 6 Sekolah dasar, saya sering bermain bersama teman-teman sebaya saya ketika usai sekolah. Saya menyukai permainan tembak gundu yang mengunakan bola kelereng sebagai alatnya. Saya sering bermain di jalanan dan suatu ketika seorang pemuda yang saya pikir duduk di sekolah menengah atas sering datang dan mengambil kelereng saya dengan paksa. Saya ingin menolak tapi ia malah memukul saya. Saya hanya bisa menangis dan teman-teman saya juga terdiam tidak bisa berdaya.
Seringnya ia menganggu saya dan merampas mainan saya membuat saya sering menangis pulang dan ibu terlihat kesal dengan sifat cengeng saya. Saya tidak menceritakan masalah saya padanya karena saya takut ia akan marah karena membeli mainan dengan uang jajan saya. Ia memukul saya dan saya pun mengaku mengapa saya menangis.
“ Bola kelereng saya diambil sama kakak kelas saya..!” ujar saya .
“ Lalu kenap kamu kasih..?” tanya ibu saya.
“ Dia kuat dan akan memukul saya kalau tidak saya kasih..!”
“ Hm.. Mama ga sangka kamu begitu pengecut seperti itu Din, sekarang dengarkan mama.”
Aku terdiam menyimak kata-katanya,
“ Mulai besok kalau dia berani ambil mainan kamu lagi, kamu jangan kasih. Kalau dia maksa kamu ambil saja batu di jalanan lalu pukul dia dengan batu itu biar dia takut..!” ujar mama padaku.
“ Aku takut..!”
“ Kalau kamu takut.. dan hanya bisa menangis, mama yang akan pukul kamu. Mama tidak mau punya anak cengeng dan pengecut seperti kamu. Ingat pesan mama. Jangan mama liat kamu sekali lagi membiarkan apa yang jadi milik kamu diambil orang lain dengan paksa.!”
Saya pun menanamkan ajaran ibu dalam penak saya dan benar saja dugaan saya, kakak kelas saya tidak pernah puas berhenti merampas mainan saya. Ia datang pada saat saya bermain gundu bersama teman saya. Teman saya sudah lebih dulu menyerahkan bola kelereng miliknya dan ia pun menghampiri saya.
“ Mana bagian kamu.. berikan pada saya..!”
“ Nggak mau. Ini kan punya saya.. kenapa kamu paksa saya kasih kamu!”
“ Eh.. kamu berani ngelawan ya..mau saya tonjok apa?”
Saya melihat sekeliling saya dan menemukan sebuah batu bata dan mengangkatnya segera. Lalu mengancamnya.
“ Sini kamu kalau berani.. saya pukul kamu dengan ini..”
Melihat saya ia seperti menantang…lalu mendekati saya..
“ Coba aja kalau berani sini..”
Ia meledek-ledek saya dengan wajahnya, sebenarnya saya takut tapi ntah suara setan mana yang membuat saya langsung menghajarnya dengan batubata itu. PLAK… kakak kelas saya terdiam seketika sambil memegang kepalanya yang terasa sakit, semua teman saya tampak menarik panjang terkejut. Darah mengalir perlahan dari kepala kakak kelas saya, ia langsung menangis dan menjerit. Saya lari dari keadaan ketika semua orang terlihat histeris melihat darah berceceran dijalan dan saya juga ketakutan ketika itu, segera saya pulang ke rumah dengan mengunci pintu . Ibu yang pada saat itu baru saja pulang kerja melihat saya dengan aneh dan saya mencoba menyembunyikan apa yang terjadi.
Ibu saya sebenarnya curiga ketika saya mengunci pintu tidak seperti biasanya dan ternyata ia tidak salah ketika ibu dari kakak kelas saya berteriak di depan kos kami dan memanggil-manggil nama ibu dan saya. Teriakan itu membuat ibu saya segera keluar melihat gelangan apa yang terjadi. Ibu kakak kelas saya datang dengan wajah marah bersama anaknya yang baru saja pulang dari rumah sakit.
“ Ada apa ya, Bu?” tanya ibu saya.
“ Kamu liat ini anak saya.. ?” jawab ibu itu emosi.
Ibu memperhatikan kepala kakak kelas saya yang diperban dengan bekas luka masih ada.
“ Lalu kenapa dengan dia..?”
“ Ini semua perbuatan dari anak ibu yang nakal dan brutal.. anak saya sampai bocor kepalanya. Kalau geger otak atau jadi cacat gimana.. ibu mau tanggung jawab?”
Ibu terdiam dan memanggil saya yang ketakutan untuk turun.
“ Din.. benar kamu yang buat dia seperti ini..”
“ Iya.. Ma.. !” ujarku pelan
“ Kenapa kamu bisa kayak gitu..?” tanya ibuku.
“ Dia kakak kelas yang saya bilang suka curi mainan saya..!”
Ibu kakak kelas itu seperti tidak terima dengan kenyataan lalu memaki-maki kami di lingkungan kami dan banyak yang melihat kejadian itu.
“ Anda ini bisa didik anak ga sih.. kalau ga bisa didik anak jangan jadi ibu.. jadi saja pelacur di jalanan. Anak kayak preman kok dipelihara..!” kata kasar ibu itu.
“ Lalu saya harus bagaimana .. ?” tanya ibu berusaha bersabar.
“ Saya ga mau tau.. saya minta ganti rugi dan saya minta ibu didik anak itu dengan benar dan hukum biar ga jadi kayak preman!”
Ibu menarik tangan saya lalu mengambil sapu yang ada disamping pintu kos. Ia langsung memukul saya dengan sadisnya didepan semua orang. Saya berteriak ampun dan berteriak ibu menghentikan pukulan yang menyakitkan itu tapi ibu sepertinya sangat marah dan sangat murka pada saya. Ketika semua orang melihat kami dengan prihatin dan ibu mulai merasa cukup menghukum saya ketika lumuran darah mengalir dari seluruh tubuh saya.
Ibu langsung mendekati ibu kakak kelas saya.
“ Ya. .ibu benar… saya yang mengajarkan anak saya untuk memukul anak ibu dengan batu karena anak ibu suka ngambil mainan anak saya.. sekarang saya sudah menghukum anak saya dengan cara saya dan ibu juga harus mengajarkan anak ibu supaya tidak pernah mencuri milik orang lain..!”
“ Enak saja.. anak saya tidak pernah mencuri.. ibu jangan sembarangan fitnah..”
Tanpa banyak cingcong ibu langsung mendekati kakak kelas saya. Menudingnya dengan sebuah pertanyaan.
“ Benerkan kamu ngambil mainan anak saya setiap dia main sama teman-temannya..”
Karena ketakutan kakak kelas saya terdiam dan menunduk lalu berujar kecil “ ia..”
“ Lihat.. itu yang sebenarnya terjadi. Saya sudah menghukum anak saya .. masalah selesai”
Ibu kakak kelas saya tidak senang dengan kenyataan lalu mulai memaki-maki ibu saya dengan kata kata kasar dan ibu sepertinya sudah tidak tahan.
“ Ibu kalau ibu tidak ada yang bisa mendidik mulut ibu biar saya yang mendidik ibu sekarang juga..!”
Ibu langsung menarik rambut ibu itu dan menjatuhkannya ke lantai dan menamparnya. Banyak orang yang terkaget-kaget melihat tindakan ibu, termasuk saya. Ibu kakak kelas saya hanya bisa berteriak-teriak meminta tolong karena tidak tahan melawan tenaga ibu, ibu memang punya kekuatan yang lebih dari wanita umumnya karena ia berkehendak menjadi Polwan. Ibu sangat marah dan merasa terhina kemudian menarik rambut ibu kakak kelas saya ke jalanan besar lalu melemparkan begitu saja ke got sekitar kos kami yang besar.
Ibu kakak kelas saya sangat malu dan kotor hingga mukanya hitam karena air got. Ibu mulai tenang ketika beberapa tetangga memisahkan mereka dan berkata.
“ Ini didikan saya buat ibu agar bisa menjaga mulut kalau bicara.. inget itu” teriak ibu saya.
Saya yang menangis terkesima hingga tidak bisa menangis melihat bertapa ibu seperti petinju yang membuat KO lawannya. Lalu ia menarik saya masuk dan mengobati semua rasa sakit saya, ketika saya mulai mengerti apa yang ibu lakukan pada saya tadi hanya sebagai bukti bahwa ia memang salah mengajarkan saya untuk melakukan tindakan brutal tapi itu dapat saya lakukan bila saya tidak punya kemampuan yang bisa saya harapkan untuk melindungi saya.
Ibu tidak begitu saja lepas dari masalah ketika membuat malu ibu kakak kelas saya, kami kedatangan Polisi yang langsung menahan ibu dengan tuduhan penganiayaan. Saya menangis saat melihat Polisi itu membawa ibu dan ingin ikut tapi ibu melarang saya untuk ikut. Ia menyuruh saya tetap di rumah dan saya menurutinya, saya hanya bisa berdoa ibu cepat kembali. Sepanjang hari saya menangis dan tiba-tiba ibu pulang dengan tersenyum pada saya.
Ia bebas dari ancaman penjara, saya tidak tau bagaimana ia lolos yang pasti ini adalah keajaiban Tuhan untuk saya. Doa saya saat dirumah tiada henti akhirnya didengar oleh Tuhan, saya senang dan langsung memeluk ibu dengan tangis meledak-ledak. Sejak saat itu saya tidak pernah takut lagi kepada siapapun bila saya dilecehkan atau diganggu, ibu telah mengajarkan saya bahwa seorang laki-laki tidak boleh cengeng dan terdiam saja ketika mendapatkan perlakuan yang tidak pantas.
Itulah sejarah yang membuat saya menjadi keras dan tidak pernah mau percaya pada orang lain karena saya menilai banyak hal dalam hidup saya yang dapat menjadi cermin bahwa hidup kita hanya bisa kita pegang dengan kemampuan kita bukan dengan orang lain.
BERSAMBUNG
Denny Sumargo : Dan Saya pun Bisa!!
Ini adalah sebuah biografy singkat sebuah perjalanan anak bangsa yang sedang ingin berbagi cerita tetang dunianya. Dunia yang jauh dari apa yang mereka lihat tentang seorang Denny Sumargo seorang atlit basket seperti dunianya saat ini. Tapi itu hanya sebagian dari sisi hidupnya yang orang tau, bagaimana perjalanan untuk menjadi seorang pebasket adalah misteri hidup yang pahit dan berliku.
Agnes davonar menceritakan kisah ini dalam sebuah novel Biografy berjudul DennySumargo: Dan saya pun bisa!!, kisah panjang yang patut menjadi pelajaran bagi siapapun bahwa dunia ini sempurna bila kita menghendaki dengan tekat yang kuat dan yakin kita BISA!!. Karena sesungguhnya sejarah itu tercipta oleh kita sendiri dan Denny Sumargo pun bercerita tentang sejarahnya kepada anda.!!
BAGIAN 2
KAMI PINDAH KE JAKARTA
Setelah mengambil saya dengan sembunyi-sembunyi, ibu langsung membawa saya ke Jakarta. Saya begitu bahagia ketika untuk pertama kalinya saya naik pesawat terbang, saya sampai melupakan tante Ana dan suaminya yang begitu baik pada saya karena saya pikir berada diatas langit dan memandang awan adalah pengalaman hebat dalam hidup saya. Ibu memeluk saya sepanjang perjalanan di dalam pesawat, saya tidak banyak bertanya dan tertidur hingga tanpa sadar ketika terbangun saya sudah ada di Jakarta.
Jakarta kota yang megah dibanding dengan kota tempat saya tinggal, saya takjub dengan gedung-gedung pencakar langit yang tidak saya temukan di kampung halaman saya ada disini. Ibu mengontrak sebuah rumah kecil disebuah perkampungan di deket daerah Kemayoran, rumah kami sangat sederhana dan hanya beralaskan papan triplex yang kondisinya sangat tidak layak. Kami tinggal di daerah kampung disekitar rawa-rawa, masyarakat disini kebanyakan adalah para pekerja buruh dan beberapa pedagang pasar atau keliling sehingga tidak heran kami adalah satu-satunya warga keturunan yang bermukim disini, buruknya rumah kami sampai-sampai kami harus menaruh ember setiap hujan karena atap rumah kami bocor.
Saya masih berusia enam tahun di kala itu, sebenarnya ibu ingin sekali memasukan saya ke sekolah taman kanak-kanak tapi ia tidak memiliki cukup uang karena pada saat itu uang kami hanya cukup untuk hidup pas-pasan. Tapi ibu tidak ingin menyerah begitu saja melihat saya yang sudah seharusnya duduk di taman kanak-kanak agar pintar. Ibu pun bertindak sebagai guru saya, ia memberikan saya sebuah buku bacaan, pensil dan penghapus sebagai alat belajar saya. Masa itu bila saya ingat, ibu sangat tegas dan tidak tanggung-tanggung akan memukul saya dengan sapu lidi bila tidak berhasil memasukkan pelajaran yang ia ajarkan ke otak saya. Hampir selama setahun saya belajar bersama ibu hingga saya pun dapat menulis dan membaca walaupun tidak masuk sekolah taman kanak-kanak.
Ibu adalah wanita gigih dan tangguh, ia tidak pernah mengeluh pada keadaan apapun. Ia selalu berjuang menyisihkan setiap keuntungan dari berdagang pakaian untuk bekal saya sekolah dasar, bisa saya bayangkan bertapa beratnya ia memikul baju dalam kalung kemudian membawanya dari satu tempat ke tempat lain tanpa pernah merasa lelah. Di pagi hari ia berangkat berjualan setelah memberikan saya makan pagi kemudian menyiapkan beberapa tugas pelajaran untuk saya kerjakan sambil menunggu dia pulang, ia mengunci rapat rumah sehingga saya tidak bisa keluar dan harus menunggu ia pulang. Sore hari ketika ia pulang berjualan, saya selalu senang menyambut ibu karena ia selalu membawa makanan yang enak karena perut saya lapar dan ibu menyadari itu. Tetapi saya juga sering cemas bila hujan besar turun dan ibu belum juga pulang, saya tak tega membayangkan ibu saya kehujanan di jalan dan tidak bisa berteduh.
hari-hari indah saya hanya pada saat ibu sudah pulang ke rumah karena ia akan memperbolehkan saya bermain di luar bersama teman-teman tetangga saya yang sering mengajak saya bermain di rawa-rawa sekitar rumah saya. Banyak hal yang bisa saya lakukan ketika bermain di sekitar permukiman saya, terutama bermain layang-layang dan menyelam di rawa rawa untuk bermain air sembari mencari ikan Cupang kesukaan saya. Pernah saya pulang terlambat dari batas waktu jam saya bermain dengan keadaan kotor karena terjatuh di rawa-rawa dan ibu sangat marah.ia menjadi semakin marah ketika saya salah mengerjakan tugas pelajaran yang ia berikan hingga Ia memukul saya dengan keras hingga saya berteriak-teriak minta ampun, saya benci ibu saat itu karena tega memukul saya.
Setelah tangisan saya mulai meredup ibu mendekat dan mengoleskan memar dan luka kaki saya dengan obat seadanya. Ia bertanya pada saya
” Sakit.. Nin ?” tanya ibu memanggilku Nin sebagai panggilan singkatnya.
saya diam dan mengangguk
” Masih mau telat pulang lagi?”
” Nggak lagi ” jawabku
” Masih mau asal-asalan mengerjakan tugas pelajaran lagi?”
Saya terdiam dan memang benar sejak saya memiliki hobi menangkap ikan cupang, saya mulai malas untuk mengerjakan tugas dari ibu dan hanya berpikir untuk cepat-cepat bermain. Ibu memeluk saya dengan hangat, saya melihat kaki saya yang penuh luka dengan sedih. Saya jadi heran untuk apa ibu merawat kaki saya setelah dia yang menyebabkan luka ini. Kemudian ibu melepas pakaian saya yang kotor dan berjalan dengan sedikit pincang, saya pun tersadar bahwa luka di kaki saya tidak sebanding dengan perjuangan ibu untuk mengajarkan saya tentang kedisplinan dan perjuangan untuk membuat saya menjadi anak yang pintar.Jika saya perhatikan kaki ibu, kakinya memiliki kulit mati dan kapalan yang banyak karena berjalan beratus-ratus Km untuk mencarikan nasi yang saya makan setiap harinya.
Setelah saya mandi lalu memakai pakaian yang bersih ibu memberikan saya makan malam dan mengatakan satu hal yang tidak akan saya lupakan dalam hidup saya.
” Untuk menjadi orang besar, kamu harus menjadi pintar dan displin. Jangan pernah kamu lupa akan tanggung jawab kamu, terlebih terhadap pekerjaan yang harus kamu kerjakan. “
Dan saya pun bertekad sejak saat itu untuk belajar dan disiplin agar bisa menjadi orang besar, ibu adalah guru terbaik dalam hidup saya. Apalagi ibu sudah mempersiapkan saya untuk duduk di sekolah dasar sebentar lagi menunggu usia saya genap tujuh tahun.
Ibu kembali ke Makassar
Saat saya mulai berumur Tujuh tahun dan siap untuk duduk di sekolah dasar, ibu memutuskan untuk kembali ke Makassar karena merasa berdagang di Makassar lebih menguntungkan ketiban di Jakarta. Tetapi dia tidak mau saya kembali ke Makassar mengingat kasus tante Ana bisa saja terulang dan menitipkan saya pada adik kandungnya yang tinggal di Jakarta. Adik ibu saya itu menikah dengan teman ibu yang kaya raya karena ibu yang menjodohkan mereka. Ia sudah memiliki anak perempuan bernama Meisy berumur 1 tahun saat saya tinggal bersama keluarga itu. Tante tidak menolak permintan ibu menampung saya mengingat jasa ibu padanya.
Tapi pernikahan tante berjalan buruk dan retak, suaminya tidak lagi tinggal bersama dia sehingga nenek pun ikut pindah ke Jakarta dan hidup bersama tante. Saya di sekolahkan di sebuah sekolah negeri pagi 01 yang tidak jauh dari rumah tante saya yang besar dan elite di kawasan Muara karang. Orang lain akan melihat aneh bila saya bersekolah di negeri tapi memiliki rumah sebesar istana dengan taman yang luas. Padahal alasan saya bersekolah disana karena ibu tidak memiliki uang untuk memberikan sekolah swasta yang baik pada saya, lagipula ibu tidak ingin dibantu oleh siapapun tentang masa depan pendidikan saya.
Kalau saya kaji hidup saya, masa sekolah dasar saya adalah masa paling menyedihkan yang bisa saya utarakan untuk dikenang. Di sekolah saya, saya hanya segelintir berkulit putih diantara pribumi yang dominan. Saya sering menjadi bahan celaan teman-teman saya karena mata saya yang sipit dan pendiam. Saya tidak memiliki teman di kelas dan duduk di baris belakang seorang diri tanpa ada yang mau bicara dengan saya. Ketika jam istirahat sekolah, saya harus bersembunyi di kelas karena bila saya keluar saya akan dipukuli oleh teman-teman yang tidak suka pada saya. Bukan hanya dari teman-teman sekelas tapi saya juga mengalami siksaan yang berat oleh kakak-kakak kelas saya yang tidak suka pada saya. Saya hanya bisa menangis tanpa tau harus mengadu kepada siapa, karena bila saya mengadu kepada guru saya, mereka akan membuat saya lebih menderita lagi.
Nenek sering marah dan memukul saya bila saya pulang dengan keadaan kusut dengan pakaian kotor. Saya ceritakan masalah saya di sekolah dan ia hanya bilang pada saya untuk tidak mencari masalah, padahal saya tidak pernah membuat masalah dengan siapapun di sekolah saya. Saya mengerti mengapa nenek marah karena dialah yang mencuci pakaian saya setiap harinya. Tante saya tidak lebih keras dari ibu saya, ia bukan orang yang suka mengunakan pembantu untuk mengurus rumah besarnya. Saya yang dikala itu masih berusia tujuh tahun harus terbiasa untuk mencuci piring, mengepel lantai dan mengunting rumput di taman hingga bersih setiap harinya.
Pekerjaan rumah itu harus saya kerjakan bila ingin makan, belum lagi saya harus membantu tante saya menjaga Meisy yang masih kecil. Walaupun saya memiliki perkerjaan segudang beratnya tapi saya boleh berbangga hati karena selalu meraih rangking 1 di kelas saya. Ibu sangat bangga kepada saya hingga selalu mengirimkan uang sebesar 10000 rupiah dan berbagai makanan kesukaan saya setiap bulannya. Saya tidak pernah mengeluh dan membantah setiap perintah tante saya terhadap perkerjaan yang ia jatuhkan kepada saya tetapi saya tetaplah bocah berusia tujuh tahun yang sedang belajar tentang masa anak anak yang indah sehingga terkadang saya menjadi nakal.
Kenakalan saya pada saat kecil itu merupakan hal-hal yang tidak disukai oleh tante dan nenek saya. Setiap pulang sekolah saya selalu mampir ke Supermarket Muara untuk membaca komik kesukaan saya semisal Dragon ball dan Kungfu boy. Penjaga supermarket itu sering melihat saya duduk sambil membaca komik tapi tidak pernah saya membeli hingga ia mendekati saya.
” Kamu mau beli komik ini?”
” Nggak Kak, saya cuma mau numpang baca aja”
” Disini harus beli kalau mau baca.. ga boleh baca disini..” ujar penjaga wanita itu sambil merebut komik dari tangan saya.
” Tapi saya ingin baca kak?”
Dengan jengkel penjaga itu berkata ” Minta sama mama kamu buat beliin komik ini kalau mau baca?”
Saya jawab dengan apa adanya ” Mama saya di Makassar, saya tinggal sama tante saya. Tante saya nggak mungkin mau beliin saya komik itu!”
Lalu penjaga itu pun mengusir saya keluar dari supermaket. Saya sedih tapi tidak putus asa, keesokan harinya saya kembali untuk membaca buku komik itu hingga penjaga itu bosan mengusir saya yang keras kepala. Akhirnya ia pun memaklumi dan membiarkan saya membaca tapi dengan catatan buku itu tidak rusak dan lecek. Saya memang sangat suka membaca komik dan buku-buku pendidikan hingga terkadang tanpa sadar saya jadi sering terlambat pulang kerumah. Nenek yang sudah marah akan menyambut saya dengan sapu dan tanpa ragu membuat saya merasakan sakit luar biasa akibat pukulannya hingga jerah. Tapi saya memang nakal sehingga tante saya sering marah-marah karena harus mengganti sapu baru setiap bulannya karena patah untuk menghajar saya.
Tante saya tidak ringan tangan seperti nenek saya, ia hanya akan memukul saya bila membuat Meisy menangis. Saya pernah di kunci di kamar mandi karena tidak sengaja membuat Meisy terjatuh dari kursi karena kelalaian saya menjaganya. Saya sering menangis mendapatkan cobaan yang tidak pernah saya bayangkan dan ibu tidak pernah tau apa yang terjadi dalam hidup saya, karena ia sedang sibuk mencari uang demi masa depan saya yang lebih baik di Makassar. Tante saya tidak menyukai sifat saya yang rakus saat makan karena menggangap saya seperti orang kelaparan tapi sesungguhnya saya memang sedang masa pertumbuhan sehingga ingin selalu makan dan terus makan. Karena kesal ia sering menyembuyikan makanan dari saya sambil memperingatkan saya untuk tidak sekali sekali membuka lemari es dan lemari makanan.
Terkadang saya tidak mengindahkan apa yang ia katakan dan bila malam tiba saya mencuri makanan itu lalu membawanya ke kamar saya dan menyatapnya dengan lahap. Tapi saya selalu bernasib sial dan tertangkap hingga pada akhirnya saya selalu dipukul dan di kurung di kamar mandi. Kapok terhadap pukulan yang menyakitkan saya pun berpikir hal-hal yang tidak pernah saya bayangkan, saya mulai berani mencuri makanan di Supermarket dengan menyembunyikan makanan itu dibalik baju saya, Karena merasa aman-aman saja, akhirnya saya menjadi keseringan berada di Supermarket dan membuat beberapa petugas curiga pada saya.
Suatu malam saya kelaparan dan memasuki Supermaket untuk mencuri Snack dan coklat, saya pikir saya akan bisa mencuri dengan aman tapi saya salah. Petugas supermarket menangkap basah saya mencuri, saya hanya bisa menangis memohon ampun untuk tidak di bawa ke kantor Polisi karena ketakutan. Mereka bertanya tempat tinggal saya kemudian membawa saya pulang ke rumah tante dan nenek, bisa dibayangkan bertapa marah dan malunya nenek dan tante terhadap kelakuan saya saat itu, Masalah selesai setelah tante bersedia membayar empat kali lipat dari harga toko. Ketika petugas itu pulang saya mendapatkan ganjalan yang tak akan pernah saya lupakan selamanya, Dua sapu kayu yang baru saja dibeli tante saya patah berantakan dan itu semua karena hanya untuk memukul saya.
Sampai saat ini saya masih tidak mengerti mengapa nenek dan tante saya bersikap keras terhadap saya, Nenek dan tante menghukum saya sangat berat karena kenakalan saya sudah melampaui batas padahal kalau saja mereka tidak menyembunyikan makanan dari saya, saya tidak akan pernah berpikir untuk mencuri. Saya tidak tau apakah ibu tau tentang sikap buruk saya ini tapi saya berharap dia tidak tau karena ibu akan sangat malu punya putra pencuri seperti saya.
Saya menjadi orang yang pendiam untuk jangka waktu yang panjang, terlalu banyak hal-hal yang membuat saya merasa takut dan cengeng semasa kecil. Sikap saya di sekolah juga tidak terlalu bergaul dengan teman-teman yang lain, mereka tau saya pintar karena selalu menjadi juara pertama di kelas tapi itu bukan hal penting selain melihat saya sebagai orang yang tidak pantas bersekolah di tempat seperti itu karena mata saya yang sipit. Empat tahun masa saya bersekolah disana banyak hal yang saya pelajari tentang dunia keras dan kekuasaan tapi saya tidak pernah dendam terhadap teman-teman saya, salah saya juga yang waktu itu diam saja dan mungkin mereka pikir saya konyol.
MENJADI KENEK SUPIR ANGKOT
Nenek tampaknya semakin kesal melihat ulah saya yang masih saja sering terlambat pulang sekolah hingga suatu hari saya pulang terlampau sore dan nenek sangat marah besar kepada saya Padahal saya tidak melakukan tindakan-tindakan yang nakal, saya hanya pergi membaca buku di Supermarket dan pernah saya katakan itu kepada nenek, kontan saja ia marah karena berpikir saya akan mencuri lagi disana.
Saya sadar saya akan habis disemprot karena pulang terlalu sore sebab saya terlalu asyik membaca komik Kungfu boy. Saat saya pulang nenek sudah menunggu di gerbang dengan senjata sejatinya sapu kayu. Belum sampai ke rumah saya sudah menangis kencang karena ketakutan dan nenek menarik saya lalu menghajar kaki saya sembari berkata
“ Anak nakal.. sudah nenek bilang jangan terlambat pulang tapi kamu masih saja membandel.. “
Saya meminta ampun tapi itu dan menangis tapi itu tidak membuatnya mengasihani saya. Akhirnya saya diseret keluar rumah dan nenek mengusir saya.
“ Pergi kamu dari rumah ini. Jangan pernah kembali.. kalau kamu berani kembali nenek akan menghajar kamu sampai kamu mati”
Saya ketakutan dan pintu gerbang rumah tante saya terkunci sehingga saya hanya bisa diam diluar gerbang. Saya menangis memohon masuk tapi nenek tidak peduli, tante saya yang dirumah juga hanya diam saja melihat saya diusir dari rumah. Akhirnya saya berjalan meninggalkan rumah besar itu. Saya masih bingung hendak kemana tapi saya hanya berjalan sesuai naruli saya untuk berjalan tanpa berhenti.
Perut saya kelaparan dan saya berjalan melihat beberapa pedagang makanan dengan perut yang terus saja berbunyi. Saya kapok mencuri dan tidak ingin lagi melakukan itu karena nenek bilang ia tidak akan pernah mau menyelamatkan saya kalau saya mencuri lagi. Akhirnya saya tahan rasa lapar saya terus menerus hingga hari semakin malam. Saya tidak ingat jam berapa saat itu tapi keadaan jalanan sangat sepi saya mendekati tempat sampah dan mencoba mencari makanan sisa yang bisa saya makan, sialnya saya tidak menemukan makanan sedikitpun.
Saya mencoba tidur di sebuah taman milik rumah besar yang terlihat nyaman, ketika saya tidur ribuan nyamuk menyerang saya hingga saya merasa terganggu, Akhirnya saya putuskan untuk berjalan lagi walaupun mata saya sudah sangat berat. Disebuah persimpangan jalan antara Muara karang dan Pantai indah kapuk saya berhenti melihat sebuah mobil angkot yang sedang memarkir tanpa seorang pun. Saya pun berpikir untuk tidur di dalam mobil angkot itu.
Awalnya saya bisa tidur dengan nyaman tapi tiba-tiba supir angkot itu datang, ia sangat marah dan menampar pipi saya hingga saya menangis.
“ Ngapain kamu disana.. mau mencuri ya?”
“ Nggak pak. Saya cuma mau numpang tidur..!!”
“ Bohong pasti kamu mau mencuri.. saya bawa kamu ke kantor Polisi?”
“ Ampun pak.. saya benar-benar ga bermaksud mencuri, saya hanya ngatuk dan ingin tidur disini.. sumpah pak..” ujar saya sambil menangis kencang.
Bapak supir itu kemudian mengecek uang yang ada di setir dan menemukan tidak ada yang saya curi. Ia melihat saya menangis dan ketakutan, akhirnya ia ibah dan merasa bersalah karena menuduh saya mencuri. Ia mendekati saya.
“ Kenapa kamu bisa disini..?”
“ Saya diusir sama nenek saya..!”
“ Rumah kamu dimana..!”
“ Di Muara karang..!”
“ Bapak anteri pulang ya..?”
“ Nggak mau. Nenek bilang kalau saya berani pulang saya akan dibuat mati..!”
Bapak itu menghela nafas dan tidak lagi menghendaki saya untuk pulang.
“ Ya sudah kalau emang ga mau pulang, kamu tidur aja disini.. kamu sudah makan?”
“ Belum pak..saya belum makan dari sore tadi..”
“ Bapak bellin indomie mau..?”
Saya begitu gilang mendengar kata makan dan menghapus air mata saya.
“ Mau .. mau..!!” ujar saya dengan semangat
Bapak itu kemudian membelikan saya indomie goreng dengan telur ceplok, saya melahap semua dengan cepat seperti orang yang sudah tidak makan selama setahun kata bapak itu. tapi memang kenyataannya perut saya sangat lapar dan ia pun menambah semangkok mie untuk saya. Setelah saya kenyang ia membiarkan saya tidur di mobil angkot merah miliknya, sedangkan ia tidur di depan dan berkata kepada saya sebelum tidur.
“ Besok kita pikirin mau apa ya.. sekarang uda malam kamu tidur aja..!”
Saya bisa tidur nyenyak malam itu karena kenyang dan keesokannya bapak itu menawarkan saya untuk menjadi keneknya, saya pikir tidak ada salahnya, toh saya tidak punya kegiatan apapun. Dua hari lamanya saya menghilang dari rumah dan berprofesi menjadi supir angkot jurusan Pluit sampe grogol, semua orang yang duduk di angkot memperhatikan saya dengan antusias karena sangat aneh untuk seorang anak muda berkulit putih dan sipit berkerja sebagai kenek angkot terlebih usia saya yang masih bocah ingusan.
Saya tidak pernah menyesal merasakan masa-masa saya menjadi angkot karena itu adalah pekerjaan pertama saya di dunia ini. Bapak itu sangat baik and bijaksana, ia memberika hasil kerja saya setimpal dengan apa yang saya lakukan. Saya mendapatkan makan yang bisa saya sukai semau saya dan uang saku untuk membeli apa saja yang saya sukai. Tidak banyak tapi saya puas dengan hasil keringat saya disaat itu.
Saya tidak tau bagaimana nenek bisa menemukan saya setelah dua hari menghilang dari rumah, saya pikir mungkin karena beberapa tetangga saya melihat saya di jalan secara tidak sengaja. Mereka menjemput saya untuk pulang, saya takut tapi bapak itu menguatkan hati saya untuk pulang karena tempat saya bukan dimobil angkot, tempat saya adalah di bangku sekolah untuk menimbah ilmu. Saya pun kembali dan nenek tidak memukul saya, ia hanya diam dan berpikir mungkin saya hebat karena bisa hidup seorang diri dua hari lamanya tanpa uang sepeserpun.
Sekali lagi hidup saya berjalan dengan sebuah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Kerasnya hidup telah mengajarkan saya untuk semakin tegar menatap masa depan saya. Saya beruntung bertemu bapak yang baik hati yang bersedia mengajarkan saya arti bertahan hidup. Sekali lagi juga saya kehilangan orang baik yang mengajarkan saya akan kehidupan. Saya tidak pernah menyesal apa yang pernah saya lalui dalam hidup saya karena itu adalah hal hal yang membentuk saya seperti saat ini.
bersambung
Denny Sumargo : Dan Saya pun Bisa!!
Ini adalah sebuah biografy singkat sebuah perjalanan anak bangsa yang sedang ingin berbagi cerita tetang dunianya. Dunia yang jauh dari apa yang mereka lihat tentang seorang Denny Sumargo seorang atlit basket seperti dunianya saat ini. Tapi itu hanya sebagian dari sisi hidupnya yang orang tau, bagaimana perjalanan untuk menjadi seorang pebasket adalah misteri hidup yang pahit dan berliku.
Agnes davonar menceritakan kisah ini dalam sebuah novel Biografy berjudul Denny Sumargo: Dan saya pun bisa!!, kisah panjang yang patut menjadi pelajaran bagi siapapun bahwa dunia ini sempurna bila kita menghendaki dengan tekat yang kuat dan yakin kita BISA!!. Karena sesungguhnya sejarah itu tercipta oleh kita sendiri dan Denny Sumargo pun bercerita tentang sejarahnya kepada anda.!!
BAGIAN 1
Namaku Denny Sumargo.
Saya lahir di Sulawesi utara tepatnya di Luwuk Bangawi sebuah kawasan utara Sulawesi yang indah nan luas dengan pemandangan lautnya yang eksotis. Terlahir dengan nama Denny Sumargo adalah pemberian ibu saya yang bermargakan Sumargo tepatnya Meiske Sumargo. Hingga saat ini hal-hal yang paling indah dalam hidup saya selalu terlukis dengan baik ketika saya bersama ibu duduk disebuah pantai sambil menikmati es kelapa yang dingin dan hangat sambil menikmati terbenamnya matahari.
Sejak kecil saya terbiasa hidup mandiri dengan kebebasan dan saya juga sangat keras kepala, sifat itu diwariskan oleh ibu saya yang berwatak keras dan pekerja keras. Ibu terlahir dari sebuah keluarga yang kaya dan berkecukupan tapi ia hanya lulusan Sekolah Dasar, sifatnya yang tomboy dan selalu membuat saudara-saudaranya berjumlah tujuh orang itu mengatakan ibu gadis barbal walau demikian ibu terampil sekali menjahit dan menyalon. Ibu saya bercita-cita menjadi seorang Polisi Wanita, cita-cita itu tidak pernah tercapai dan mungkin saja ia berpikir demikian karena terinspirasi oleh kisah pahlawanWonderwomen yang termasyur ketika ia kecil dulu kala.
Ayah saya adalah seorang angkatan laut yang jatuh cinta pada eksotika Luwuk Bangawi, ia berasal dari Padang, Sumatra barat dan bernama Nazzarudin. Tidak banyak hal yang saya ingat tetang sosok ayah saya itu, sebab sejak saya berada di dalam kandungan ibu, Mereka bercerai. Kisah cinta mereka yang indah berakhir tragis karena keduanya memiliki sifat berlawanan. Ibu yang masih berusia 20 tahun sangat berbanding terbalik dengan ayah saya yang berusia 40 saat mereka menikah. Usia yang terpaut begitu jauh tidak mengendurkan niat mereka untuk saling mencintai.
Tapi yang saya dengar, ayah saya sangat sabar dan suka menolong orang lain. Sedangkan ibu termasuk orang yang tidak mau menerima pemberian dan selalu berusaha mencari apa yang dia mau dengan kemampuannya. Ibu gadis muda yang cantik memiliki hobi bermain bulutangkis setiap berkumpul bersama teman-teman sebayanya. Di kala itu ayah saya memutuskan untuk menetap di Luwuk sembari membuka usaha penjualan barang antik yang warung lapaknya bersebelahan dengan lapangan bulutangkis milik seorang Warga keturunan.
Suatu ketika saat ayah sedang berdagang, dilihatnya gadis muda itu setiap bermain bulutangkis disekitar warungnya dan akhirnya ia jatuh cinta pada gadis berpotongan rambut pendek dan bermuka manis itu. Ayah yang jatuh cinta berusaha mencari tau tentang sosok ibu dan usahanya tidak sia-sia ketika ibu bersedia berkenalan dengannya lewat macoblang penjaga lapangan bulutangkis. Ketika itu ayah saya sudah menikah dan mempunyai empat anak hasil pernikahannya dengan tiga istri, ibu terkejut bukan main ketika ayah berkata ia sedang menghadapai proses perceraian. Karena tidak pernah terpikir olehnya berkenalan dengan duda apalagi menikahi duda.
Ternyata cinta itu memang buta, ibu yang tidak pernah berpikir akan menikahi seorang duda akhirnya bersedia juga menikah dengan ayah. Padahal perbedaan mereka sangat banyak, ibu saya adalah seorang gadis keturunan Tiong hua dan beragama Khatolik seperti penduduk Luwuk biasanya. Sedangkan ayah saya seorang muslim dan seorang pribumi tapi cinta itu membuat perbedaan itu hilang dan mereka bersatu. Ibu yang sedang duduk di pantai setelah lelah bermain bulutangkis bersama teman-temannya kedatangan ayah secara mendadak.
“ Meiske maukah kau menikah dengan saya?” tanya ayah.
Ibu terdiam sejenak dan melihat pria ini tanpa alang-aling langsung mengajaknya menikah.
“ Saya pikir-pikir dulu..”
Ayah tertunduk lesu , ibu melihat sebuah cinta yang tulus tapi tidak langsung menerima cinta ayah. Ia melihat kesungguhan ayah yang tiada henti memberikan cintanya tanpa batas. Setiap hari ayah menanyakan hal yang sama hingga suatu ketika ibu mulai luluh dan menjawab pertanyaan ayah dengan syarat.
“ Baiklah saya akan menikah dengan kamu tapi pastikan kamu telah bercerai secara resmi.”
Ayah tersenyum lebar dan bahagia melihat ibu bersedia menikahinya. Di kala itu, ayah memang belum secara resmi bercerai dengan Istrinya tapi ia menguatkan hati ibu dan akhirnya statusnya menjadi lajang dengan surat perceraian yang ibu lihat dengan nafas turun karena keberanian ayah. Ketika keputusan pernikahan itu sudah bulat, ibu dan ayah menghadapi masalah besar ketika nenek dari pihak ibu saya menolak kedatangan ayah untuk melamar ibu.
Nenek saya sangat kolot dan masih berpikiran tentang pernikahan hanya bagi yang se-iman dan se-suku, tapi tidak dengan ibu saya yang berpandangan luas dan bebas. Diantara keempat putri yang ia lahirkan hanya ibu yang sering melawan dan bertengkar dengan nenek. Nenek sendiri bercerai dengan kakek sehingga ia mengalami sedikit gampang emosi karena kakek sangat sayang pada ibu saya. Saudara-saudara ibu yang laki-laki berjumlah tiga orang terkejut ketika ibu membawa ayah, mereka langsung berusaha mati-matian untuk menyadarkan ibu tentang pikirannya yang dinilai sudah rusak.
“ Astaga, Meiske. Kamu sudah gila ya?. Kamu mau menikah dengan seorang pria duda yang sudah menikah tiga kali dan parahnya dia itu berbeda agama dengan keluarga kita.” Ujar kakak laki-laki tertua itu dihadapan ibu dan ayah saya.
Nenek sepertinya sudah sangat marah ia langsung mengusir ayah saya dari rumah. Ibu menangis tak bisa berbuat apa-apa, ia mendapatkan tamparan keras dari nenek yang murka dan saudara-saudaranya berusaha memisahkan dengan membawa ibu ke kamar. Ayah yang sudah sangat jatuh cinta pada ibu tidak peduli dengan larangan nenek, ia terus berusaha menyakinkan ibu bahwa ia adalah pria yang layak menjadi suaminya.
Ibu yang keras kepala dan percaya terhadap dirinya akhirnya benar-benar nekad menikah dengan ayah. Kakek yang biasa mendukung ibu hanya memberikan dukungan dengan setengah hati, ia hanya menyarankan ibu untuk berpikir ulang. Ibu sadar pernikahannya dengan ayah akan membuat ia dimusuhi oleh semua saudara-saudaranya dan ia bertekad membuktikan kepada saudara-saudaranya pernikahan dengan ayah adalah kebenaran jalan hidupnya.
Ayah dan ibu bercerai
Masa pernikahan itu berjalan baik dan dilaksanakan disebuah rumah makan secara sederhana yang dihadiri oleh beberapa kerabat ibu dan ayah. Karena mereka berbeda agama maka pernikahan itu berjalan dua kali, pertama di Gereja sesuai agama yang dianut ibu dan di Mesjid sesuai agama ayah. Ibu bersedih ketika pernikahannya itu tidak dihadiri oleh keluarga kandungnya sendiri, Kakek memang datang pada saat upacara di Gereja tapi itu pun dengan setengah hati. Tapi cinta yang indah itu tidak pundar walau harga dari semua itu adalah ibu kehilangan saudara-saudaranya.
Sebulan setelah pernikahan itu ibu mulai membantu ayah menjaga warung barang antiknya sedangkan ayah sering pulang untuk bertemu anak-anaknya dari lain ibu. Beban ayah sangat berat dikala itu, ia harus menanggung semua biaya hidup kakak-kakak tiri saya yang masih bersekolah. Ketika ibu sedang melayani tamu yang berkunjung ia merasa mual dan akhirnya jabang bayi berusia satu minggu itu menjadi tanda cintanya yang disambut ayah dengan bahagia.
Kebahagiaan yang indah menyambut kedatangan saya ke dunia ternyata tak seindah bayangan ibu, ibu mulai sering frustasi terhadap ayah yang sering tidak pulang ke rumah. Parahnya setiap pulang mereka selalu bertengkar hebat hingga ibu mengambil keputusan pahit yang sangat disesali oleh ayah, ia ingin bercerai dengan ayah. Ayah tidak ingin bercerai karena saat itu ia sadar saya masih di perut ibu dan ia khawatir dengan keputusan ibu.
Ntah alasan apa yang membuat ibu nekad berpisah dengan ayah, ia mengancam lebih baik ayah bercerai dengannya daripada ia kehilangan saya yang masih diperutnya. Ayah mengalah dan mereka pun berpisah, ayah yang sangat sayang pada ibu kemudian memberikan semua harta dan rumah hasil pernikahan mereka menjadi milik ibu. Ibu saya yang naif dan gengsi menolak pemberian itu ia memutuskan untuk kabur begitu saja menginap di rumah teman bermainnya. Dan sejak itu saya tidak akan pernah tau siapa ayah saya hingga kelak saya menjadi dewasa.
Atas saran temannya, ibu pun memutuskan untuk kembali pada keluarganya. Ibu rela menahan malu dan hinaan demi saya yang masih dalam perutnya. Ia rela melakukan apapun untuk membuat saya terlahir di dunia ini walaupun ia sadar setiap pasang mata keluarga ibu melihatnya sangat hina. Bahkan secara terang-terangan saudara-saudara ibu memaki ibu tanpa mengingat tali darah yang mengikat mereka. Puncaknya ketika ibu sudah tidak tahan ia memutuskan pindah ke Makassar untuk hidup bersama Bibi saya sembari berharap kelahirkan saya dapat melunakkan hati nenek untuk memaafkan ibu.
Tanggal 11 Oktober 1981 dengan perjuangan berat ibu melahirkan saya dengan tangis kebahagiaan. Ia langsung mendapatkan nama Denny untuk memberikan nama pada saya, setelah itu Bibi menyarankan ibu saya lebih baik ibu kembali ke nenek karena bisa saja nenek menjadi luluh dengan kelahiran saya. Ibu yang pada saat itu tidak bekerja tidak ingin merepotkan Bibi dan akhirnya memutuskan kembali ke rumah Nenek. Harapan nenek untuk luluh sirna, ia tidak tergoda sekalipun untuk berbaikan dengan ibu walau dengan kelahiran saya.
Nenek memang memberikan uang untuk keperluan saya selama masih bayi tapi itupun sepertinya dengan terpaksa. Cacian dan makian yang begitu dalam dan melukai hati ibu tidak hanya dari nenek saya tapi dari saudara-saudara kandungnya. Terkadang ketika ibu sudah tidak tahan akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di rumah temannya, untungnya kakek saya masih bersedia memberikan uang untuk memberi susu. Ibu sadar ia tidak bisa selamanya berharap pada nenek saya, ia pun mempraktekan kemampuannya di bidang menjahit untuk mencari nafkah guna menghidupi saya.
Ia bekerja pada sebuah rumah konveksi di dekat rumah untuk menjaga jarak agar tidak terlalu jauh dari saya. Setiap jahitan yang melekat di pakaian ia menanamkan sebuah tekad untuk membuat saya menjadi orang berguna, tekadnya yang besar tidak hanya disimpan dalam hati. Bahkan ibu bekerja dua kali untuk hidup saya. Di pagi hari ia bekerja di konveksi kemudian di siang hari ia memberikan susu ASI kepada saya lalu kembali bekerja hingga sore. Setelah bekerja menjahit, ia bekerja malam di sebuah salon kencantikan sebagai tenaga bantu. Gajinya tidak besar tapi cukup untuk membuat saya tumbuh menjadi gemuk dan sehat.
Setelah melihat saya mulai bisa berjalan dan merangkak, ibu begitu bahagia namun tetap dalam keadaan tertekan oleh saudara-saudaranya. Ayah yang mendengar kelahiran saya tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu karena ibu tidak sudi mempertemukan kami. Ayah selalu menitipkan uang saku kepada sahabat ibu untuk diberikan sebagai uang keperluan saya, tapi ibu menolak dan malah membalikkan uang itu dengan tegas.
Saya masih ingat hal yang paling menyedihkan dalam hidup saya untuk mengenang ibu, di kala itu saat saya berusia empat tahun. Saya tertidur pulas dan ibu membangunkan saya dengan air mata berlinang yang membuat saya heran. Dengan cepat ia mengangkat tubuh saya melewati saudara-saudaranya yang berdiri di ruang tamu. Saya masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang mereka katakan pada ibu tapi kata-kata itu sangat hina dan kejam.
Malam yang dingin menusuk disertai hujan rintik-rintik, ibu terusir oleh saudara-saudaranya dengan sekoper baju apa adanya. Ia membopong tubuh saya yang gemuk diantara malam, saya ketakutan tapi ibu sekali lagi tidak peduli dan terus membawa saya berjalan tanpa arah dan tanpa uang sepeserpun. Kami berhenti di sebuah sudut rumah besar yang tidak kami kenal, ibu mungkin kelelahan dan terduduk dengan air mata yang terus berlinang di halaman tersebut.
“ Mama.. Denny mau pulang..!” teriak saya.
Ibu terdiam, ia menghapus air matanya lalu berkata pada saya untuk mencoba tidur. Tapi halaman rumah itu terlalu banyak nyamuk dan bau air got yang menusuk. Saya pun menangis kencang meminta untuk pulang, Ibu sepertinya sudah sangat marah dan ia menampar saya.
“ Dengar.. Mama tidak akan pernah kembali ke rumah itu, jadi kamu jangan berharap kita pulang..!” teriak ibu pada saya.
“ Tapi Denny kedinginan dan banyak nyamuk.. !”
Ibu memeluk saya lalu menutupi saya dengan sisa pakaian yang ia bawa dari kopernya. Saya merasa lebih baik dan ia berkata pada saya, kata-kata itu begitu melekat dalam ingatan saya.
“ Denny dengarkan Mama, berjanjilah pada Mama.. kelak jangan pernah membiarkan orang lain menginjak-injak harga diri kita. Walaupun kita tidak punya uang dan kelaparan tapi jangan pernah biarkan siapapun orang itu menghina kita. Mama janji pada kamu, suatu saat akan membuat kamu menjadi orang besar dan membuktikan pada siapapun bahwa Mama bisa !!”
Saya begitu terkesima dengan kalimat yang ibu saya ucapkan hingga nyaris melupakan rasa gatal gigitan nyamuk. Tapi disinilah saya melihat ketegaran dan tekad ibu saya yang besar kepada saya, saya sadar setiap air mata yang ia jatuhkan bukanlah air mata kesediahan tapi air mata penderitaan. Saya tidak pernah menyadari bahwa kata- kata ibu terasa begitu menyedihkan ketika saya menjadi dewasa dan mengingat kejadian itu. Kami tertidur di halaman rumah itu seperti gembel saja, saya dan ibu terlihat begitu menyedihkan tapi itulah sejarah hidup yang tak akan pernah saya lupakan.
Kami pindah ke Makassar.
Dengan berbagai bantuan teman-teman ibu, akhirnya kami bisa mendapatkan uang dan pergi ke Makassar untuk sekali lagi tinggal bersama saudara ibu, Bibi yang pernah menolongnya. Di Makassar ibu hanya sementara tinggal bersama Bibi saya mengingat sepertinya Bibi tidak pernah rela menampung kami dengan ikhlas. Untungnya kami bertemu dengan seorang sahabat kecil ibu yang bernama Tante Ana dan suaminya. Ia adalah sahabat ibu semasa Sekolah Dasar dulu, mereka sudah menikah sejak tiga tahun lalu namun sayang tidak dikarunia seorang anak.
Ibu menumpang pada keluarga itu cukup lama terlebih kedua orang itu sangat menyukai saya, kehadiran saya dalam keluarga itu seolah mengobati kerinduan mereka terhadap seorang anak. Ibu bekerja seperti dulu menjahit disebuah rumah konveksi, ketika ia bekerja saya dijaga oleh tante Ana yang begitu mencintai dan memanjakan saya. Ibu yang mendapatkan peluang usaha dari uang yang ia kumpulkan dari hasil kerjanya di Konveksi mulai berpikir untuk berdagang baju.
Awalnya ia memberi pakaian yang ia pesan dari Jakarta kemudian dengan sekarung tas besar ia membawa pakaian-pakaian itu untuk dijajahkan di setiap rumah di sekitar Makassar. Walaupun terasa menyedihkan dan serta kepanasan karena cuaca Makassar yang panas, ibu tidak pernah menyerah. Dalam pikirannya hanya satu ia ingin saya bisa bersekolah setahun mendatang ketika usia saya 6 tahun. Saya terkadang hanya bisa menahan haru ketika ibu berangkat berdagang setelah mengecup kening saya dan membiarkan Tante Ana mengendong saya.
Terkadang hasil berdagangnya lancar tetapi terkadang juga tidak sama sekali, tapi tekad ibu yang kuat membuat semua dijalankan dengan ikhlas disertai jalan Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan akan memberikan jalan padanya agar bisa menyekolahkan saya, padahal saya tidak pernah terpikir untuk sekolah dan selalu menghabiskan waktu ikut dengan suami Tante Ana ke Pasar untuk belajar banyak hal. Tante Ana bersuamikan seorang Preman pasar yang kerjanya menagih upeti dari setiap pedagang. Jadi saya tidak asing melihat sedikit kekerasan yang ia perlagakan kepada saya.
Suami Tante Ana pandai berkarate dan ia tanpa ragu mengajarkan saya untuk berkarate agar bisa menjaga diri saya, saya yang terinspirasi oleh kisah Superman akhirnya ikut juga dalam setiap ajaran karate yang selalu kami lakukan setiap sore di halaman rumah kami. Saya menikmati masa-masa kebahagiaan dan kasih saya yang tidak pernah saya dapatkan dari saudara-saudara ibu dari Tante Ana dan suaminya. Usaha ibu berjalan dengan baik dan ia memutuskan untuk membeli langsung pakaian ke Jakarta, bisa jadi dalam setiap tiga bulan ia pulang pergi kota Jakarta dan Makassar.
Ketika ibu berpergian, Suami Tante Ana yang kebetulan berkeyakinan Muslim mulai mengajarkan saya tentang agama Islam. Saya mulai mengerti sedikit tentang bagaimana Sholat dan membaca Al-Quran, masa-masa itu menjadi masa paling indah saya, mereka sudah seperti orang tua saya yang begitu tulus memberikan kasih sayangnya pada saya. Ibu saya yang semakin sibuk akhirnya malah lebih memutuskan untuk berdagang diluar Kota Makassar dan bisa dalam seminggu ia tidak pulang, tapi saya tidak cemas karena orang tua baru saya ini menjaga saya dengan baik.
Ibu yang sudah mulai memiliki sedikit tabungan mulai berpikir tentang masa depan saya, ia berpikir saya akan hidup lebih baik dengan bersekolah di Jakarta. Ketika ide itu diceritakan kepada Tante Ana dan suaminya, mereka keberatan. Mereka sudah sangat mencintai saya seperti anak kandung dan tidak rela untuk dipisahkan dengan jarak yang begitu jauhnya. Tapi ibu yang keras kepala tetap berpikir untuk membawa saya ke Jakarta dan sejak itu terjadilah percekcokan antara ibu dan Tante Ana berserta suaminya.
Saya yang tidak mengerti apa-apa pada saat itu hanya bisa diam dan menangis melihat mereka bertengkar. Tante Ana dan suaminya yang sudah tidak rela dengan kepergiaan saya kemudian mengambil keputusan untuk membawa saya pergi tanpa sepengetahuan ibu. Tiga bulan lamanya saya tinggal di rumah ibu dari tante Ana tanpa pernah bertemu dengan ibu saya. Ketika saya tanyakan tentang keberadaan ibu, tante Ana dan suaminya hanya berkata
“ Mama kamu sedang bekerja di Jakarta.. kamu disini sama Tante saja..” ujar Tante sembari memberikan mainan mobil untuk menghilangkan rasa kangen terhadap ibu saya.
Saya tidak sadar bahwa saya sedang diasingkan dari ibu hingga suatu ketika saat saya sedang membeli kue manisan di jalan dan menemukan ibu yang langsung memeluk saya. Dengan cepat ibu langsung menarik tangan saya menaiki angkutan umum tanpa saya ketahui saya sedang dibawa pergi dari kedua orang tua baru saya. Saya yakin mereka akan panik mencari saya tapi seingat saya ibu sudah mengirimkan pesan pada sebuah warung untuk memberitahu bahwa saya dibawa oleh ibu untuk kembali padanya. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi bertemu orang tua baru yang sangat mencintai saya itu selamanya.
Tentang Agnes Davonar
Agnes Davonar adalah dua bersaudara yang memulai kariernya dari seorang blogger. Keduanya telah melahirkan dua novel best seller berjudul Misteri kematian Gaby dan lagunya jauh Dan Surat kecil untuk Tuhan. Situs pribadi mereka www.agnesdavonar.net adalah satu situs blogger yang paling berpengaruh di Indonesia, karier mereka mencapai puncaknya ketika salah satu kisah novel mereka Surat kecil untuk Tuhan diangkat dalam sebuah acara talkshow Kick Andy karena menjadi inspirasi bagi banyak orang. Buku mereka juga diedarkan secara luas di Taiwan, Malaysia dan Singapore dan mencatat sukses yang sama.
ini aku memulai kelasku disebuah sekolah yang boleh dikatakan tempat anak-anak pintar berkumpul. Aku cukup beruntung menjadi 18 orang yang dipastikan memasuki sekolah internasional di angkatan tahun ke dua ini. Dan itupun aku masuk pada saat semester ke dua sehingga rasanya sulit bagiku untuk beradaptasi. Ayahku adalah seorang pegawai negeri sipil, ia ingin aku mendapatkan tempat di perguruan tinggi. Sehingga jaminan bersekolah disini adalah garansi untuk menuju tiket perguruan tinggi negeri.
Ketika memasuki sekolah, yang aku rasakan Cuma satu. Sekolah ini terkesan asing dan sepi, murid-murid disini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar di kelas setiap jam istirahat. Hari pertamaku disana seperti sebuah keheningan, 8 cowok dan 7 cewek dikelasku selalu terdiam dengan pandangan sinis padaku. Aku rasa mereka meragukan kepintaranku, bahkan aku sendiri ragu apakah aku layak bersekolah disini. Sekolah dengan nilai ujian tertinggi di kotaku.
Aku mendapatkan kursi paling di baris belakang, hari ini pelajaran penuh dengan kejenuhan. Aku bahkan nyaris tertidur ketika guru bahasaku berceramah tentang puisi di jaman penjajahan dahulu. Rasanya ingin aku keluar saja dari kelas ini.tiba-tiba seorang gadis berjalan perlahan padaku disaat jam pelajaran dimulai, tampaknya guru bahasa Indonesiaku tidak memperhatikan gerak geriknya karena pintu kelas kami berada di belakang papan tulis.
Hanya aku yang memperhatikannya, karena mungkin semua murid tampak focus. Ia tersenyum padaku sambil memainkan jari telunjuknya bertanda untuk tetap diam. Dia duduk dibelakang sama sepertiku, rasanya 2 hari aku sekolah disini. Dia adalah murid pertama yang berani masuk terlambat pada pelajaran pertama. Aku terus memperhatikan wajahnya yang cantik, dia sepertinya sadar.Jarak antara kamu hanya 80cm untuk bisa saling melirik. Kemudian ia menulis di sebuah tulisan kertas kosong.
“ NAMA KAMU SIAPA? KOK SENYUM AJA..”
Aku hanya tersenyum, rasanya ide yang menarik untuk menuliskan kata kata untuk bicara di kertas. Aku membalas.
“ JOEY.. NAMA KAMU”
“ ANGEL”
“ KOK KAMU TERLAMBAT?”
“ BIASA MACET DI JALAN, UNTUNG GURUNYA KUTU BUKU, KALAU GA BAHAYA DEH..”
“ IYA NEH GURUNYA KUTU BUKU, AMPE PEGEL AKU LIATIN DIA..”
Kami saling tertawa hingga tak sadar tawaku terlalu besar dan terdengar oleh guru bahasa indonesiaku yang berjenis kelamin pria dan berkepala pelontos itu. Tiba-tiba saja dia sudah ada didepanku, lalu menarik kertas yang kutulis.Sambil berkata kencang..
“ KELUAR KAMU..”
Alah, nasibku memang sial, Angel tampak tersenyum kecil. Aku pun keluar dari kelas dengan semua mata yang terlihat aneh melihatku. Mereka pikir aku ini anak baru penuh tingkah, tapi aku tidak peduli. Yang ingin aku sekolah disini bukan mauku, tapi kemauan ayahku. Aku pun hanya bisa pasrah berdiri didepan kelas. Tiba tiba Angel muncul lagi, aku terkejut. Ia tersenyum padaku. Tanpa bicara ia menarik tanganku.
Kami saling berlari menuju atap sekolah kami yang hanya berlantai tiga, dan aku terhenti dengan nafas kelelahan. Gadis ini larinya sungguh cepat, bahkan ia tidak kelelahan sama sekali.
“ Cape,, kamu juga diusir ya..?” tanyaku
“ Nggak, aku bosan . jadi ikut keluar juga..”
“ Oh ya. Lari kamu cepat banget ya.. aku ampe loyo gini..!”
“ Hehehe .. coba liat lapangan itu..” gadis itu menunjuk lapangan sekolah kami yang memiliki stadium atletik kecil.
“ Kenapa..” ujarku melihat dari atas sekolah kami.
“ Aku selalu berlari disana setiap hari sebanyak 10 kali..”
“ Loh.. kenapa mesti gitu..!”
“ Soalnya aku selalu terlambat sekolah, jadi hukumanya ya gitu hahahaha!”
Dan satu hal yang aku tangkap dari gadis ini. ia begitu riang dan penuh canda. Dan untuk pertama kalinya aku tersenyum di sekolah ini. dan semua itu oleh seorang gadis bernama Angel.
“ Hm.. kenapa mesti ke sini. Emang ga ada tempat yang lebih bagus dari atap yang panas gini..”
“ Kamu tau.. terkadang matahari itu panas bukan berarti mau dia, kita patut bersyukur. Karena kita bisa hidup sampai sekarang karena ada matahari.. kalau ga ada, mungkin aku tidak akan pernah berjodoh sama kamu..!”
“ Oh ya.. kamu ternyata pintar sekali.. aku ga heran anak-anak disini pasti sepintar kamu..”
“ Aku rasa kamu juga pintar, kalau ga pintar. Maka tidak akan disini.. benar kan..!”
“ Ceritanya panjang. Tapi intinya, aku hanya bisa sekolah disini karena ayahku juga. Aku tidak suka pindah sekolah. Pindah cari teman. Karena aku ga pandai bergaul..!”
“ Oh. Begitu. Tenang saja. Kamu sudah punya teman sekarang..!”
“ ??..”
“ Sini.. coba ikutin aku.. berani ga kamu..”
Angel berdiri diatas garis batas tembok pengaman gedung. Aku sempat panik melihatnya.
“ Ayo naik.. gapapa. “
Rasanya malu bila aku laki-laki tidak berani naik. Akhirnya aku mencoba naik dengan perasaan cemas. Ketika kamu sejajar ia memegangku perlahan sambil berkata “ Jangan takut, jaga keseimbangan kamu”
Dan ketika aku mulai terbiasa.
“ Memangnya ada apa disini.. kamu ga takut, ini tinggi banget loh..!”
“ coba kamu pejamkan mata kamu.. lalu buka perlahan-lahan ketika aku suruh!”
Entah mengapa aku mengikuti semua yang ia katakan. Perlahan mataku terbuka dan hembusan angin bertiup di setiap sudut tubuhku. “ Bukalah matamu?” ujar Angel.
Astaga.. aku tak percaya, aku melihat matahari, langit dan sesuatu yang tak pernah aku bayangkan. Sebuah hutan kecil yang terdapat di sekolah kami.
“ Ini keajaiban Tuhan, kita tidak akan pernah tau apa yang bisa kita lihat kalau kita tidak berada diatas setinggi ini. karena yang kita lihat terkadang hanya dari bawah. sama seperti ketika kita melihat orang lain. Kita hanya melihat dia dari tampilan luarnya. Dan itu belum tentu cerminan dari dalam hatinya”
Siapa gadis ini, sastarawankah? Penulis puisikah?.Aku tidak percaya kata-katanya membiusku untuk merasa nyaman.
“ Terima kasih ya.. kamu memang berbeda dari yang lainnya, abis ini pelajaran bahasa mengambar, kamu ikut?”
“ Hm.. aku mau ada urusan dulu, kamu masuk saja.. ntar kalau sempat aku nyusul ya..!”
Dan dia menghilang begitu saja dariku. Tapi mungkin karena dia memang tidak mengambil keseniaan, sekolah kami memperbolehkan siswanya untuk mengambil dua mata pelajaran yang dipilih. Antara kesenian dan olahraga. Dan aku rasa dia suka olahraga, larinya cepat dan kuat.
Malam tiba.
Tiba-tiba sebuah sms masuk ke hendponeku.
“ LAGI NGAPAIN, GIMANA PELAJARAN GAMBARNYA..”
Aku menjadi heran,lalu membalas
“ INI SIAPA?”
“ ANGEL. LUPA YA.. HEHEHE”
“ HEI, KAMU KOK BISA ADA NOMOR AKU.. AKU PIKIR SIAPA. PELAJARAN GAMBARNYA MEMBOSANKAN. TIDAK ADA KAMU!”
“ DASAR GENIT. NOMOR SIAPAPUN BISA AKU DAPATKAN KALAU AKU MAU. “
“ MEMANGNYA KAMU JIN YA. HEHEHE.. KALAU GITU AKU BISA DONG MINTA 3 PERMINTAAN”
“ BOLEH.. KENAPA TIDAK? APA PERMINTAAN KAMU”
“ NANTI AKU PIKIRKAN..”
“ KALAU BEGITU AKU TUNGGU YA. SELAMAT MALAM.”
Sms itu terakhir darinya. Gadis yang penuh misterius. Dan tidurku pun menjadi nyenyak untuk mempersiapkan hari esok.
Aku pergi ke sekolah dengan penuh keceriaan kebanding di hari lalu.Tiba-tiba aku melewati satu lorong yang penuh dengan koleksi angkatan sekolah ini. aku menjadi penasaran melihat foto Angel diantara barisan teman-temannya. Dan aku pun mencari dia di kelasku.
Dia tampak cantik. Foto ini diambil saat semester tahun lalu. Aku tertawa sendiri dan tidak sabar lagi untuk bertemu dengannya. Tiba tiba, Paulina murid kelasku muncul.
“ Ngapain..”
“ Oh.. nggak kok.. lagi iseng aja.. “
“ Gimana sekolah disini. Uda bisa adapatasi.” Tanya Paulina
“ Lumayan. Tadinya aku pikir aku ga akan dapat teman disini. Ternyata ada juga..!”
“ Pada dasarnya sekolah ini banyak kok yang suka berteman, mungkin kamu coba aja gabung dengan teman-teman disini untuk ikut extrakurikuler.”
Ketika asyik bicara dengannya. Tiba tiba aku melihat Angel melewati kami, dia tersenyum padaku. Aku memotong pembicaraan.
“ Ngomong-ngomong, aku pergi dulu ya.. ntar ketemu di kelas!”
“ Mau kemana..” tanya Shinta
“ Mau pergi sama temanku,. Nama kamu siapa sorry lupa..!”
“ Shinta.. “
“ Ok..see you..!”
Shinta memperhatikan aku dengan aneh. Aku pun berteriak “ Tunggu..” dan kelihat senyum Angel yang sepertinya menungguku. Shinta hanya tersenyum lalu mengeleng-gelengkan kepalanya. Angel tampak terburu-buru berlari. Dan tiba-tiba ia terhenti.
“ Angel. Tunggu dong. Lari melulu. Suka amet olahraga.. !”
“ Hehehe. Pemanasan sebelumpelajaran olahraga dong. !”
“ Makasih ya uda mau SMS aku ..”
“ Biasa aja kali.. kamu kelas apa nanti!”
“ Aku ada kelas mengambar.. kamu?”
“ Aku sih ada kelas basket. Tapi males sih, abis ini ada pelajaran juga. !”
“ Ngomong-ngomong kamu kok sering bolos kelas sih. Apa gapapa, terhadap nilai sekolah kamu.”
Angel tersenyum padaku.
“ Aku kasih tau kamu rahasia ya.. mau?”
“ apa.. mau dong..”
Dia berbisik padaku.”Aku tidak perlu belajar untuk mengejar cita-citaku, karena aku sudah cukup bahagia dengan berlari aku bisa jadi juara dan mendapatkan prestasi.. jadi sekolah ini tidak akan peduli kalau nilaiku jelek. Asal aku berprestasi.. mereka akan bangga!!”
“ Oh.. gitu.. enak ya. Andai saja aku berbakat olahraga..!”
“ Loh semau orang berbakat lagi. Lagi ngapain sih kamu ambil gambar..!”
“ Aku suka gambar.. suka banget.. berharap nanti jadi pelukis terkenal hahaha!”
“ Sebelum aku lihat gambar kamu. Aku bilang mimpi kali ya hahaha!”
Kami berpisah saat itu, Angel sudah harus bersiap-siap untuk latihan pagi, aku menyadari satu hal. Bahwa aku dan Angel itu sama. kami masuk kesini karena bakat kami, bukan karena kepintaran kami. Aku memang suka menggambar dan itulah mengapa aku katakan masuk ke sini bukan mauku, karena aku tidak pintar. Namun aku berbakat, dan sekolah ini membutuhkan orang berbakat seperti aku.
***
Pelajaran melukis dimulai, aku terdiam melihat objek buah-buahan di depanku, semua murid tampak berkonsentrasi pada lukisan masing-masing. Shinta tampak disampingku, ia adalah satu-satunya orang yang menyadari bakatku. Ia banyak bertanya padaku, dan aku membantunya sebisaku. Tiba tiba Angel muncul disampingku. Aku terkejut melihatnya. Ia melihat lukisanku.
“ Wow. Kamu ternyata berbakat ya.. gambarnya seperti nyata.. !”
“ Masa sih..”
Tiba tiba Shinta menyeletuk.
“ Kalau aku kasih warna merah pada gambar semangka ini cocok ga, Joey?”
Bersamaan Angel ikut bertanya.
“ Gambar ini memikat, aku jadi pengen belajar, mau ajarin aku ga..?”
“ Boleh aja..”
Shinta memperhatikan aku, ia memoleskan warna merah pada semangka itu. Angel mengambil tempat kosong disebelahku. Ia tidak tau harus memulai dari mana, sedangkan Shinta mulai bertanya lagi.
“ Kalau aku campur hitam di semangka boleh ga?” Tanya Shinta
Angel juga ikut betanya.
“ Kalu aku gambar pake tanganku boleh ga.. kan ga perlu pake kuas.. takut jelek!”
“ Ga boleh lah, jadi jelek.”
Kembali Shinta menarik nafas panjang. Aku bicara tanpa memandangnya. Gambarku usai, Angel melompat kegilangan. Lalu mengajakku untuk pergi melihatnya.
“ Aku sudah liat bakat kamu. Sekarang kamu mau liat ga bakat aku..”
“ Mau..”
Tiba tiba ia menarik tangannku, Shinta tampak bingung.
“ Mau kemana?” ujar Shinta.
“ Keluar bentar..”
“ Tapi kan kamu janji mau ajarin aku gambar sampai usai..”
“ Nanti ya aku janji..”.
Aku meninggalkan Shinta yang mulai masem. Tapi aku tidak ingin Angel kecewa, kami tiba di lapangan sekolah kami yang luas.Angel menatapku dengan tajam.
“ Coba kamu hitung berapa lama aku bisa berlari di putaran lapangan ini.. kemarin aku berhasil 10 lapangan tanpa henti. Aku mau target 20, dan aku harap kamu dukung aku ya hehehe”
“ Pasti..”
“ Teriak aba aba saat aku siap lari”
“ Oke..”
1…2…3.. Go.
Angel memang luar biasa ia berlari secepat angin. Langkahnya begitu indah untuk dilihat, wajahnya selalu tersenyum, air keringat yang jatuh diwajahnya penuh dengan perjuangan.
“ Ayo.. Angel.. ayo Angel… ayo Angel “ teriakku
Shinta yang sudah keluar dari kelas melukis, bersama teman-temannya memandangku di lapangan dari jendela sekolah.
“ Gila kamu Shinta, suka sama orang aneh kayak gitu..”
“ kamu tau, yang aneh disekolah ini uda ga ada. Itu yang aku suka dari dia..” ujar Shinta singkat.
Mungkin aku paling aneh diantara satu sekolah. Karena itulah yang membuat Shinta suka padaku. Acaraku dan Angel pun berakhir. Aku harus kembali ke kelas, sedangkan Angel terus berlatih, aku masih sempat mengintipnya dari jendela untuk beberapa saat. Tapi ketika aku focus pada pelajaran, dia sudah tidak latian lagi.
Malam pun tiba.
Angel kembali mengirim SMS padaku.
“ LAGI NGAPAIN..SIBUK? ATAU UDA TIDUR”
Aku membalasnya saat sedang membaca komik
“ LAGI BACA KOMIK, GA SIBUK KENAPA?”
“ KALAU GA SIBUK, AKU TUNGGU YA DIRUANG MELUKIS SEKOLAH KITA. SATU JAM DARI SEKARANG”
“ LOH.. EMANG KAMU DI SEKOLAH. INI KAN UDA MALAM”
“ YA, RUMAHKU TIDAK JAUH DARI SEKOLAH, KALAU AKU BOSAN. AKU SUKA MAIN KE SEKOLAH. KAMU GA PERNAH TAU KAN GIMANA SEKOLAH KITA KALAU MALAM”
“ MAU SIH.. KALAU GITU AKU DATANG DEH.”
Beberapa saat kemudian aku tiba di sekolah, Angel sudah menungguku di gerbang sekolah. Ia megajariku melompati gerbang dan memasuki ruangan melukis.
“ sorry ya, malam-malam bikin kamu kesini..”
“ Gapapa kok.. aku juga ga bisa tidur..”
“ Hm.. sama aku juga ga bisa tidur.. “
“ Jadi apa istimewanya sekolah ini kalau malam hari.”
“ Hari ini aku ulang tahun.. itu istimewanya..!”
“ astaga.. maaf aku tidak tau.. selamat ulang tahun ya.. aku ga ada kado lagi.. besok aku kasih ya..”
“ Hm.. aku mau kadonya sekarang boleh ga..”
“ Boleh…”
Angel tampak mempersilakan aku duduk di kursi dan kertas lukisan didepanku.
“ Lukis wajahku dan buat aku secantik mungkin hehehe,”
“ Wow.. benar neh.. !”
“ Iya.. kalau gitu.. aku pasti bikin kamu cantik”
Aku mengatur posisi tempat duduk untuknya. Wajahnya yang cantik dengan rambut jatuh ke pundaknya begitu memukau. Rasanya aku jatuh cinta padanya. Tapi aku tidak bisa mengatakan itu padanya, aku mencoba focus untuk menggambar wajahnya. Dan beberapa saat kemudian lukisan itu terjadi.
“ Angel selamat ulang tahun ya.. ini lukisan persembahan dari aku”
Ia memadang wajahnya di lukisan. Tiba-tiba air matanya terjatuh.
“ Loh kenapa nangis..emang aku ada salah ya..!”
“ Aku Cuma terharu.. ini untuk pertama kalinya aku melihat wajahku sendiri..”
“ Hehe.. aneh ya.. emangnya kamu ga pernah bercermin ya..”
“ Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku bercermin..”
“ Dirumah kamu ga ada cermin ya..”
“ Aku takut melihat wajahku di cermin. Ga tau kenapa aku takut.. “
Tiba-tiba kami terdiam. Angel menatap wajahku, demikian pula aku. Tanpa sadar aku mencium bibirnya.
Kami menikmati saat itu.dan tersipu malu usai semua berlalu.
“ Maaf ya..lukisan ini aku bingkai ya.. ntar aku kasih ke kamu besok..!”
“ Iya.. kamu ingat SMS kamu dulu, aku bilang aku akan penuhin 3 permintaan kamu?”
Aku terdiam dan berusaha mengingat
“ Ah ya.. aku ingat.. kamu benar-benar mau kasih aku 3 permintaan”
“ Iya.. aku penuhi ..”
“
Aku berpikir sejenak untuk itu. lalu mengajaknya keluar dari sekolah.
“ Permintaan pertamaku. Temenin aku makan malam ini..”
“ Astaga.. gampang banget sih permintaan kamu. Ga ada yang lain.. “
“ Makan sama kamu itu uda membuat aku bahagia kok.. !”
“ Oke deh.. aku penuhi. Tentuin aja mau makan dimana!”
Aku pun mengajaknya makan di tempat yang kusuka pecel lele deket jalanan. Angel mungkin tidak pernah makan makanan seperti ini.
“ Mas pecel lele dua. Nasi dua dan tempe tahu dua..” teriakku pada pedagang itu
“ Banyak amet sih.. mang ga makan dua hari dua malam ya.”
“ Hahaha.. buat aja deh mas,..”
“ Sip..”
Aku baru tau satu hal kalau Angel seorang vegetarian sehingga ia tidak makan ikan yang kubelikan, Ia hanya menghabiksan jus jeruk dan tempe serta tahu yang dicampur dengan sedikit salad. Kami menikmati malam itu begitu indah. Malam sudah terlihat larut. Bulan purnama diatas kami seolah mengatakan padaku untuk menyatakan cintanya pada angel.
“ Angel.. aku punya permintaan kedua sekarang boleh..”
“ Apa tuh..”
“ Mungkin ini hanya perlu jawaban yang jujur. Kamu boleh tidak penuhi apa mauku. Janji!”
“ oke janji…”
“ Maukah kamu menjadi pacarku..”
Angel terdiam menatapku, matanya tampak memerah.Bibirnya tak dapat bergerak, aku mulai berpikir aku terlalu berlebihan.
“ Sorry.. angel.. ga usah jawab.. ini terlalu cepat ya..”
Tapi ia tidak bicara, ia hanya terdiam. Tidak bicara padaku, kemudian kamu berpisah malam itu.aku merasa bodoh sekali menyatakan cintaku padanya malam itu. dengan sedikit penuh bersalah aku mengirimkan SMS padanya.
“ TERIMA KASIH HAR INDAH INI, SELAMAT ULANG TAHUN SEKALI LAGI. JANGAN ANGGAP PERNYATAANKU TADI.. SELAMAT MALAM”
Dan malam itu pun kututup dengan sejuta kenangan.
Aku berhasil membingkai lukisan wajah Angel. Aku berminat membawanya ke sekolah hari ini untuk memberikan padanya. Ketika di kelas Shinta mendekatiku.
“ kamu sudah punya pacar ya..” pertanyaan itu padaku
“ hah.. kenapa ngomong gitu”
“ Gapapa. Aku Cuma mau tau. Apakah ada cewek lain yang kamu suka.,.”
“ Iya ada yang aku suka..”
“ Oke..” shinta menunduk tampak sedih.
Kemudian ia melihat kotak hadiahku yang berwarna ungu.
“ Apa itu..”
“ Bukan apa-apa.. “
Pembicaraan itu berakhir. Shinta tampak marah padaku. Ia selalu terlihat cemburut bila menatapku. Saat jam istirahat. Aku pun aku mencari Angel. Tapi sepertinya hari ini ia tidak ada di seluruh tepi sekolah. Mungkin ia bolos seperti biasanya pikirku, dan aku hanya bisa menantinya seperti biasa. Pergi dan datang sesuka hatinya. Tapi aku tidak pernah lupa untuk membawaku kadoku untuknya. Dan itu membuat aku menjadi ejekan seluruh teman sekelasku karena membawa kado setiap hari seolah anak idiot diantara mereka. Andai saja mereka tau, kado ini sangat istemewah untuk orang yang istmewah saat aku tunjukkan pada mereka. Mereka pasti terdiam.
Aku juga selalu mengirimkan SMS pada Angel setiap malam. Tapi ia tidak pernah membalas, parahnya nomor teleponnya tidak pernah aktif. Rasanya aku menjadi frustasi, gadis yang mulai aku cintai itu menghilang begitu saja. Apakah ia terluka oleh kata kataku, apakah dosa bila aku menyatakan cinta padanya. Ah.. sungguh rumit.
Hingga suatu malam saat aku tertidur dia mengirimakan SMS padaku.
“ AKU TIDAK BERDAYA BILA KAMU CINTA PADAKU, DEMIKIANLAH HATIKU TAK BERDAYA JATUH CINTA PADA KAMU. TAPI YANG TERBAIK BUAT KITA, HANYALAH SEBATAS INI SAJA”
Kata kata yang tidak kumengerti. Aku menyakini dia akan ada di sekolah pagi ini, aku pun sepagi mungkin datang ke sekolah. Dan meninggalkan kado dan tasku di kelas dan menuju atap sekolah. Biasanya pagi hari ia selalu menanti matahari dan aku menyakini dia ada disana. Tapi sayang, hari ini tetap sama. dia tidak pernah muncul.
Ketika aku kembali ke kelas. Semua murid berkumpul pada satu titik, dengan Shinta yang ada di tengahnya. Yang membuatku terkejut, ia membuka kadoku tanpa izin. Aku menjadi marah.
“ Kamu lancang banget sih buka kado aku..”
Shinta dan teman-teman menatapku dengan wajah penuh kebingungan. Dan aku melampas lukisan itu dari tangan mereka.
“ Joey.. dari mana kamu dapat lukisan itu?” Tanya Shinta.
“ Emang kenapa?”
Tiba tiba Shinta menarikku untuk keluar kelas. Semua murid tampak kebingungan, dan aku juga menjadi bingung. Aku begitu marah. Dan kini aku ingin melampiaskan kemarahanku pada Shinta.
“ ngapain sih kamu buka ini. apa hak kamu?”
“ Maaf Joey.. aku lancang . tapi.. aku jujur ingin katakan sama kamu..”
“ Apa..”’
“ Sejak kamu sekolah disini.. aku jatuh cinta sama kamu..”
“ Kalau kamu cinta sama aku. Buat apa kamu buka kado aku tanpa izin..!”
“ Maaf aku pikir kado itu kamu berikan ke aku, karena hari ini ulang tahunku. Dan aku pikir kamu membawa kado itu setiap hari untuk aku.. aku salah.. maaf!”
“ Mana mungkin.. kado ini untuk Angel..”
Tiba-tiba Shinta terdiam.
“ Angel.. kamu kenal Angel..”
“ Iya.. emang kenapa..”
“ Gapapa. Sejak kapan kamu kenal dia..”
“ Itu urusan aku dan dia. Untuk apa kamu tau.. Aku cinta sama dia. Dan tidak perlu kamu urusin ”
Tiba tiba aku melihat sosok Angel di belakang kami. Aku mulai takut ia mendengar semua pembicaraan kami.Ia berlari menghilang, danaku mengejarnya. Shinta berteriak padaku.
“ Untuk apa kamu mencintai orang yang sudah mati… untuk apa..?”
Teriakan itu menghentikan langkahku. Aku berbalik melihat Shinta yang tampak ketakutan berkata demikian. Dan aku tak peduli, aku mencoba mengejar Angel. Tapi jejaknya tidak pernah ada lagi.Aku terdiam di atap seperti biasanya. Tapi aku mendengar dan masih mengingat satu kata yang terucap dari mulut Shinta
“ UNTUK APA KAMU MENCINTAI ORANG YANG SUDAH MATI. UNTUK APA?”
Aku mulai teringat satu hal ketika memandang lukisan di tanganku dan mengingat pembicaraan kami saat itu. saat ia melihat hasil lukisannya.
“ Angel selamat ulang tahun ya.. ini lukisan persembahan dari aku”
Ia memadang wajahnya di lukisan. Tiba-tiba air matanya terjatuh.
“ Loh kenapa nangis..emang aku ada salah ya..!”
“ Aku Cuma terharu.. ini untuk pertama kalinya aku melihat wajahku sendiri..”
“ Hehe.. aneh ya.. emangnya kamu ga pernah bercermin ya..”
“ Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku bercermin..”
“ Dirumah kamu ga ada cermin ya..”
“ Aku takut melihat wajahku di cermin. Ga tau kenapa aku takut.. “
Saat itu aku menyadari satu hal, ruangan lukisan itu penuh cermin yang memantulkan kami. Tanpa aku sadari angel tidak terlihat di cermin.Aku tersadar,
“ Angel.. astaga..”
Aku berlari ke ruangan lorong kenangan sekolah kami. Berjalan kembali melihat foto kenangan Angel. Terdiam menatapnya. Timbul satu pertanyaan dariku, mengapa Angel bisa berada dalam bingkai foto itu? aku menuju ruang akedemis. Berbicara dengan sekretaris sekolah.
“ Bu.. boleh aku, tau data tentang siswa yang bernama Angel..”
Guru itu menatapku dengan penuh tanda Tanya. Namun aku memohon dengan sangat. Saat data itu ada ditanganku. Tubuh dan kakiku terasa bergemetar. Aku ikut mengecek semua SMS yang dikirimkan angel dan semuanya menghilang dari hendponeku.
Angel adalah siswa semester pertama yang menglengkapi nomor urut kelas kami yang ke 18. Ia adalah siswa berpretasi di sekolah kami.Ia selalu menjadi juara di setiap pertandingan atletik, sehingga mendapatkan jalur khusus sekolah disini. Suatu hari saat pekan olahraga antar sekolah akan diadakan, Angel menghilang dan tidak ditemukan hingga sekarang, Polisi menyatakan angel mati karena sebuah mayat gadis remaja ditemukan terbakar di sekitar rumahnya dan tubuhnya terbakar hingga tidak berbeka..Lalu mengapa Angel muncul padaku, jadi selama ini yang aku rasakan hanya ilusi. Semua berpikir aku aneh karena aku selalu bicara sendiri, mereka melihatku seorang diri saat bersama Angel.
Aku takut tapi rasa cintaku terlalu besar untuk takut. Aku berlari sambil menangis ke atap tempat angel berada.
“Angel…….. kenapa kamu muncul padaku. Kenapa? Ini ga adil.Kamu membuatku jatuh cinta padamu. Sedangkan kamu sadar aku dan kamu tidak pernah ada dalam cinta ini”
“ Kenapa angel.. kenapa.. “
Tangisku akan percuma karena dia tidak akan pernah muncul lagi, lukisan ditanganku hanya sebuah kenangan yang akan selamanya tidak pernah aku temukan lagi. Aku sadar aku punya satu permintaan terakhir yang bisa aku minta darinya. Aku pun berdiri diatas tiang pengaman sekolah, dan semua orang mengira aku akan bunuh diri. Aku mencoba berkonsetrasi dan bicara dalam hatiku.
“ Angel permintaan terakhirku, sampaikanlah pesan untukku, untuk apa kau datang dalam hidupku. Biarkan aku benar-benar merasa kita tidak pernah sia-sia”
Ketika aku membuka mataku. Aku melihat angel, di sebuah hutan kecil yang pernah ia tunjukkan padaku. Dan hanya terlihat saat kami berdiri disini. Aku berlari menuju kesana, dan aku menemukan satu hal yang sesungguhnya ingin angel sampaikan padaku.
Ia ingin melihat matahari setiap harinya. Namun gedung sekolah kami menutupi cahaya matahari itu. Angel menunjukkan padaku disanalah jasadnya berada, ia bukan mati karena terbakar seperti yang polisi katakan. Ia meninggal karena sebuah kecelakaan saat berlari di jalan sekitar sekolah, kemudian orang itu ketakutan dan menguburnya di hutan kecil sekolah. Ia hanya ingin ditempatkan di atas tanah dimana matahari bisa menyinarinya walaupun dia telah tiada.
Sinopsis cerita
Kesempurnaan hidup terkadang tidak akan pernah lengkap bagi siapapun. Kisah ini bercerita tentang seorang Charis yang mencari pasangan di hari Valentine, ia tidak pernah berpikir akan ditakdirkan oleh seorang gadis bernama Agnes. Dari segi apapun gadis itu terlihat sempurna tapi ia mempunyai kekurangan yang tidak bisa ditutupi bahwa ia adalah seorang gadis tunarungu berhati mulia dan baik.
Mereka berhabat dalam perbedaaan, hingga suatu ketika muncul Denny sahabat sekolah Charis yang menantang ia membawa gadis dalam pesta Valentine sekolahnya. Mereka memang selalu bersaing dalam hal apapun. Charis pria yang mempunyai gengsi tinggi terhadap wanita tanpa sadar batas waktu acara telah membuat seluruh gadis disekolahnya telah berpasangan. Ia pun tidak kehilangan akal mengajak agnes sebagai pasangan valentinenya.
Semuanya berjalan baik, Charis sempat mengingatkan Agnes untuk menutup jati dirinya sebagai gadis bisu walaupun itu sangat melukai perasaan Agnes. Tapi demi sahabat ia rela melakukan yang terbaik, Charis menjadi pangeran yang sempurna saat pesta itu bersama Agnes. Tapi rahasia itu hanya berjalan sesaat hingga Denny menyadari bahwa Agnes gadis cacat. Semua terbongkar, tidak ingin malu dengan keadaan Charis pun melupakan sahabat baiknya itu tanpa pernah mengucapakan apapun.
Agnes tidak bersedih karena hinaan tapi ia bersedih karena kehilangan sahabat, Ia hanya punya satu kesempatan berbuat sesuatu untuk sahabat baiknya itu. apakah itu? ikutin kisah Valentine yang paling menyedihkan dan berkesan bagi anda untuk berpikir bahwa Cinta itu adalah lambang bagi siapapun termasuk sahabat kita
Kupersembahkan kisah ini untuk kakekku yang telah tiada, kekasih yang pernah ada dalam hidupku dan sahabat-sahabatku yang ada disampingku setiap saat.
KISAH VALENTINE TERAKHIR.
Aku pernah bertanya dalam hatiku, apa yang aku cari ketika di hari semua orang memberikan kasih sayang. Sedangkan aku tetap disini untuk terdiam, bertanya siapa yang akan memberikan aku sebuah coklat ataupun setangkai mawar merah yang artinya aku disayangi. Dan ternyata hingga kini usiaku 20 tahun, tak seorang pun yang memberikan hadiah, namun tahun ini aku mendapatkan sebuah hal yang tak pernah aku pikirkan. Hadiah dari kakekku.
Ia datang menempuh jarak yang cukup jauh dengan sepeda tuanya yang layak untuk dimuseumkan. Bunyi sepeda yang mengiris dengki dan ngilu. Namun ia tetap setia datang untuk memberikan aku sebuah hadiah. Aku membuka pintu utama rumahku ketika ia datang memarkir sepedanya di halaman rumahku. Ia tersenyum menatapku dengan membuka topi tua klasik cinanya. Usianya yang sudah 70 tahun tampak terlihat dengan rambutnya yang sudah memutih.
“Kakek, kok siang siang gini datang, apa ga kepanasan?.”
“Gapapa. Mana mamamu?.” tanya Kakek.
“Dia lagi pergi ke rumah tetangga.”
“Oh… ya sudah tak apa. Kamu kenapa tidak kuliah?.”
“Ya, ampun Kakek, ini kan hari libur, hari minggu. Kakek pikun, ya?.”
“Ah… maaf, Kakek lupa. Ini, Kakek ada hadiah kecil untuk kamu.”
Kakek memberikan aku sebuah hadiah dalam kotak kecil usam yang berwarna merah. Tampak dekil dan aku menyentuhnya dengan sedikit jijik, lalu membukanya. Tampak sebuah liontin anting berbentuk bunga matahari perak.
“Apa ini?.”
“Ini hadiah untuk kamu. Cuma ada satu. Satunya lagi ilang. Ini saja baru Kakek temukan pas lagi beres-beres gudang, sayang kalau dibuang. Itu hadiah berkesan Kakek untuk kamu.”
“Hah…? Mana jaman aku pake ginian?.”
“Hehehe… ya simpan saja kalau kamu tidak suka.”
“Oh, kakek mau masuk dulu ga?.”
“Kakek mau duduk di teras rumah kamu saja. Kamu ambilkan kakek teh hangat saja.”
“Oo… ya sudah, tunggu ya!”
Beberapa saat kemudian aku keluar dengan sebuah teh hangat sisa milik ayahku yang sedang pergi bersama ibu. Memberikan teh tersebut di meja teras, menatap wajah kakek yang sedang termenung memandang halaman rumahku yang dipenuhi ikan mas di kolam kecil.
“Kek, ini air tehnya!.”
“Makasih. Kamu kenapa, kok valentine gini masih di rumah?.”
“Hm… kakek tau valentine juga, ya? Kirain ga ada jamannya!.”
“Enak saja! Biar tua gini, kakek juga pernah muda lah!.”
“Oh, gitu ya…”
Aku memperhatikan wajahnya yang termenung. Keringat basah yang bercucuran di keningnya terlihat menyatu dengan keriput tua di garis wajahnya. Lalu ia tiba-tiba mengajakku bicara.
“Kamu kenapa tidak punya pacar sampe sekarang?.”
“Ga tau, Kek. Nasib jelek kali. Emangnya kenapa?.”
“Gapapa. Kakek juga pernah berpikir sama kayak kamu kok. Tapi jangan cemas Angel, takdir cinta manusia itu akan selalu ada.”
“Lah… kok bisa ngomong gitu? Kan Angel ga jelek-jelek amet, Kek. Kenapa masih single, ya? Iri deh sama temen-temen yang punya pacar di Valentine gini.”
“Hehehe… Kakek ada cerita buat kamu. Mau denger?.”
Aku mulai males mendengarkan dongengnya yang selalu kudengar sejak kecil. Namun kesepian dalam rumah juga membosankan. Akhirnya aku terdiam mendengarkan kisahnya saja. Toh tidak ada salahnya.
Di masa lalu. 1943
Charis ( Kakekku) adalah seorang pria bergengsi dalam segala hal. Bahkan hingga ia duduk di bangku SMA, ia tidak mendapatkan kekasih yang ia inginkan. Namun ia bertaruh dengan seorang rekannya akan membawa seorang wanita di hari Valentine. Ia pun bertekad memamerkan wanita itu pada harinya. Dengan segenap usaha dan waktu yang sempit, ia pun mulai mencari-cari. Dari adik kelas yang cantik hingga kakak kelas yang cantik, semuanya ia coba cari untuk menjadi pacarnya.
Namun tidak ada satupun yang berhasil membuat hatinya luluh. Wajah kakek tidak jelek-jelek banget untuk menjadi pria jomblo. Ketika ia pulang sekolah dengan sepedanya yang masih ada hingga sekarang ia pakai, bannya kempes karena tertancap paku. Ia pun terpaksa mendorong sepeda itu hingga kerumah. Di dalam perjalanan, seorang gadis muda berlari memukul kepalanya dengan keras. Wanita itu tampak pucat. Kakek kontan marah.
“Ngapain sih lo, pake mukul kepala gua? Sakit tau!.”
Gadis itu tampak pucat dan tidak bicara. Ia hanya mengerakkan tangan seperti memberikan sandi kepada Charis untuk mengerti maksudnya.
“Apa sih? Ga ngerti, ah! Gila ya lo?.”
Gadis itu terus mengerakkan tangannya. Wajahnya seperti meminta pertolongan. Charis mengira gadis itu tidak waras, lalu pergi ketakutan. Tapi gadis itu tidak menyerah begitu saja, ia pun menarik lengan baju Charis. Charis pun semakin marah..
“Eh, orang cacat, ngapain sih ganggu gua? Ngomong aja ga bisa, uda sana pergi!.”
Gadis itu terdiam. Ia menangis dan Charis menjadi tak enak hati berkata kasar. Lalu berkata
“Emang ada apa sih?.” tanya Charis
Gadis itu menarik tangan Charis untuk mengikutinya. Memasuki sebuah tepi hutan kosong. Ketika mereka tiba, terlihat seekor anak burung terjatuh dari kandangnya yang terdapat di atas rumah pohon leci. Charis mengerti maksud gadis itu, ia hendak meminta tolong Charis mengembalikan burung kecil itu diatas pohon. Charis hanya berpikir mengapa gadis itu harus peduli terhadap burung kecil yang tak ada artinya tersebut. Untungnya bayi burung kecil itu tidak terluka. Ia selamat ke kandangnya. Gadis itu tampak senang. Wajahnya yang sedih kemudian berseri-seri.
“Uda kan? Sana pulang!.” ujar Charis.
Charis pun meninggalkan gadis itu begitu saja. Namun gadis itu menempuk badannya dari belakang.
“Kenapa lagi?.”
Gadis itu mengambil sebuah tangkai pohon kecil menuliskan sesuatu di tanah liat. Lalu Charis membacanya.
“Nama gua sapa? Oh, nama gua Charis, kamu?.” tanya Charis.
“Agnes,” tulisan itu berkata.
“Oh… Agnes, “ ujar Charis.
Gadis itu kemudian menuliskan tulisan kembali.
“Terima kasih. Salam kenal.”
“Ok. Sama-sama. Gua pulang dulu, ya. Lo pulang sana. “
Charis berjalan meninggalkan Agnes. Namun Agnes terus mengikuti pria itu. Charis menjadi risih namun tidak berusaha peduli. Ia terus mengotong sepedanya dan gadis itu terus mengikutinya. Ia semakin emosi.
“Ngapain sih lo, ikutin gua terus?”
Gadis itu terdiam kemudian menunjuk rumah disampingnya. Charis yang tampak marah ikut terdiam memperhatikan rumah di pinggir jalan yang cukup besar.
“Itu rumah lo?.” tanya Charis dan Agnes mengangguk tanda ya..
“Oh… sorry, kirain gua lo ikutin gua terus. Kalau gitu pulang sana. Gua mau pulang juga!.”
Charis memastikan gadis itu telah masuk ke rumahnya. Hatinya tenang. Ia tidak berpikir gadis itu jelek, namun sayang ia bisu. Andai saja ia tidak bisu, ia akan terlihat sempurna. Ketika beberapa meter berjalan, gadis itu kemudian kembali berlari mendekatinya. Nyaris saja Charis naik pitam, namun ketika gadis itu muncul dengan alat pompa, ia mulai mengerti kebaikan gadis itu. Charis menatap gadis itu yang baik hati. Kemudian mereka berpisah.
Keesokan harinya.
Charis sedikit emosi ketika sahabatnya Denny tak henti-henti mengejek dia tidak laku. Hari Valentine semakin dekat namun ia belum saja mendapatkan gadis impian. Akhirnya ia pun memutuskan bolos dari pelajaran selanjutnya. Ia menarik sepedanya kabur dari sekolah dengan ejekan teman-temannya. Ia mengayuh arah sepedanya tanpa arah. Kemudian hujan turun. Ia terhenti di sebuah pohon kecil untuk berteduh dari hujan besar tersebut.
“Denny sialan, pake ngeledekin gua. Dia ga tau aja cewek impian gua kayak apa. Emangnya gua murahan kayak dia, semua juga diembat! Bikin keki aja!.”
Ketika ia mengeluh. Hujan tak semakin mengecil namun semakin besar. Tiba-tiba muncul Agnes, gadis bisu yang ia jumpai dengan sebuah payung berjalan melihatnya. Gadis itu kemudian menyapanya dengan tepukan tangan. Charis yang sedang melamun sedikit kaget ketika melihat Agnes.
“Ngapain lo ujan-ujan keluyuran?.” tanya Charis.
Kali ini gadis itu tidak lagi terdiam. Ia mengambil tas yang berisi buku kecil kemudian menuliskannya.
“Habis pergi lihat burung kemarin. Ingat?.”
“Oh… inget. Ngapain dilihatin terus, emang itu burung lo?.”
“Bukan. Itu burung tak dikenal. Kasian takut jatuh lagi. Dan ternyata tidak. Kamu keujanan, ya?.” tulisnya.
“Ya, iyalah. Emang kalau disini berdiri ngapain?.”
“Tunggu ya, aku pulang ambil payung buat kamu.”
“Hah… ga usah! Repotin aja.”
Agnes tersenyum kemudian berlari bersama payungnya menembus hujan lebat. Mungkin ia tidak mendengarkan suara larangan Charis karena hujan besar membisingkan suasana. Beberapa saat kemudian, gadis itu kembali dengan pakaian yang basah walau mengunakan payung. Ia tersenyum sambil memberikan payung itu pada Charis.
“Idih… lo ngeyel amet, sih! Uda bilang jangan, liat deh lo jadi basah kuyub gitu!.”
“Gapapa. Aku uda biasa. Ini payung, pake ya… Aku mesti pulang dulu.”
“Terus, gua balikin payung ini gimana?.”
“Kamu masih inget kan rumah aku? Ntar kalau sempat kembalikan, kalau tidak sempat, ya sudah buat kamu saja.”
“Oh, ya uda.”
Charis melihat gadis itu berlari menghilang diantara hujan. Ternyata Agnes berlari ke sebuah tempat orang lain berteduh. Ia melihat seorang ibu yang terdiam menunggu hujan dengan wajah cemas danm kedinginan. Ia mendekati sang ibu kemudian memberikan payung itu pada ibu tersebut. Ia berhenti di jalan tadi, sebelumnya ia berkata pada ibu itu untuk tidak ragu meminjam payungnya karena tidak mungkin ia pulang kerumah mengambil payung lagi . Payung yang ia gunakan sekarang ia berikan kepada ibu itu. Payung yang lainnya kini dipakai oleh Charis dan Agnes pulang tanpa payung.
***
Charis menuju rumah gadis itu untuk mengembalikan payung yang ia pinjam ketika hujan lusa lalu. Ia tiba ke rumah yang cukup besar, namun tampak sepi. Ia mengetuk pintu dan kemudian muncul Agnes menyambutnya. Tanpa basa-basi, Charis mengembalikan payung tersebut. Ia menatap wajah Agnes yang cukup cantik dari kepala hingga kakinya dan mulai berpikir.
“Mungkin kalau Agnes gua bawa ke Valentine nanti, mereka bakal kaget, ya? Cantik… tapi dia kan bisu. Gimana ya, ntar jadi ejekan lagi.“
Ia pun melewatkan angan-angan itu dan pergi menuju sekolahnya. Agnes menatap pria itu dengan tersenyum. Melambai-lambaikan tangannya terlihat girang memberikan salam perpisahan. Di sekolah, kembali terjadi perdebatan dengan Denny.
“Charis, valentine itu besok. Mana cewek, lo?.” ledek Denny dan Charis terdiam sambil berpura-pura menulis.
“Udalah, Charis. Kita tau kok lo homo. Hahahaha…” seluruh kelas tertawa dan Charis mulai tidak tahan.
“Gua bukan homo! Gua ada pacar dan namanya Agnes!!.”
Seluruh isi kelas yang bising menjadi sunyi mendengar ucapan Charis. Denny tidak percaya begitu saja.
“Oh… kalau gitu besok buktikan. Tapi… kalau sampe dia ga ada atau lo cuma bohong, lo kita anggap homo. Semua orang uda pikir gitu juga dan mereka saksi. Ok!!.”
“Ok!!”
Charis terlanjur mengeluarkan janji yang tidak bisa ia pungkiri. Sepanjang perjalanan ia mulai berpikir kesalahan fatal yang ia katakan. Tidak ada jalan lain selain menjalankan semuanya dengan terpaksa. Ia pun pergi menuju rumah Agnes. Agnes menyambutnya dengan gembira. Lalu Charis menawarkan rencananya yang disambut kaget oleh Agnes.
“Mau ga? lo besok ikut valentine day di sekolah gua?.”
“Emang boleh?.” tulis Agnes.
“Boleh… tapi janji satu hal ya sama gua.”
“Apa?”
“Maaf sebelumnya. Jangan pernah tunjukin ke semua orang kalau lo itu bisu?.”
Wajah Agnes seketika terlihat murung. Walau tersinggung, ia pun bersedia menyanggupinya. Charis pun mengatur semuanya. Mulai dari semua pembicaran yang tidak boleh menujukkan ia adalah seorang bisu. Hingga penjemputan dan apapun yang dapat membuatnya tidak malu karena membawa Agnes ke sekolahnya. Hari itu pun ditunggu.
Keesokan harinya.
Charis terpaku ketika menjemput Agnes dengan sepedanya. Gadis itu terlihat cantik dengan gaun putihnya. Ia sedikit terlena melihat Agnes begitu cantik dan sempurna. Ia pun membawanya ke sekolah. Di sekolah telah terlihat semua murid yang membawa pasangan masing-masing. Ketika Charis dan Agnes tiba, semua mata terpaku tak percaya. Mengapa Charis bisa membawa seorang gadis cantik. Termasuk Denny, lawan taruhannya.
“Ini Agnes, pasangan gua!.” kenal Charis pada Denny yang juga langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Kemudian keduanya meninggalkan Denny dengan perasaan malu karena harus mengakui kehebatan Charis. Pesta berakhir sukses dengan kemenangan Charis. Kemudian Charis dan Agnes dapat pulang dengan senyuman besar. Dalam perjalanan, Agnes menepuk pundak Charis dari sepedanya.
“Kenapa?.”
“Mau anterin aku ke rumah pohon burung itu ga?.” tulis Agnes
Charis pun melaju sepedanya ke rumah pohon tersebut. Ketika mereka tiba, Agnes menangis histeris. Ini pertama kalinya Charis mendengar suara pertama dari gadis itu. Ia menangis karena burung kecil itu terjatuh lagi dan kali ini terluka cukup parah hingga kakinya mengalami luka. Charis dan Agnes tidak dapat berbuat apa apa selain membawa burung itu kerumah Agnes. Setelah mengobati lukanya, burung itu dirawat di rumah Agnes.
“Lo kenapa begitu peduli sama burung kecil ini?.”
“Karena burung ini hidup di kandang yang dibuat oleh Kakek untuk aku sebelum meninggal,” tulis Agnes.
“Oh…” lalu Agnes pun bercerita.
Ia memang datang ke kampung kakeknya untuk mengambil barang-barang yang hendak dipindahkan dari rumah kakeknya. Jadi, ia hanya menikmati liburan disini hingga ayah dan ibunya datang menjemputnya.
“Jadi, lo akan pergi dong?.” tanya Charis.
“Iya. Kapan-kapan kamu datang ya, ke daerahku di Bekasi.”
“Hm. Kalau ada waktu datang dong. Kan rumah ini tetap perlu dijaga.”
“Iya pasti, kok. Lagian aku masih lama disini. Tenang aja!.” Tulis Agnes.
Charis pun semakin mengenal gadis berhati mulia itu. Ia mulai menjadi dekat dengan gadis itu. Setiap hari mereka selalu merawat burung itu bersama. Hubungan yang semakin dekat dari hari ke hari, hingga Denny memergoki Charis bersama gadis itu dan menyadari gadis itu cacat. Ia mulai berambisi membuat malu Charis di seluruh kelasnya.
Charis pergi ke sekolah dan semua memandangnya lucu. Ia tak mengerti apa yang mereka tertawakan hingga ketika ia tiba di kelasnya muncul tulisan.
“PACAR CHARIS ITU CACAT ALIAS BISU. TUNA WICARA. KASIAN DEH LO”
Charis spontan marah dan menghapus tulisan itu, namun semua orang mulai tau. Ia pun menjadi malu karenanya. Denny datang menghampirinya.
“Alow, kekasih bisu. Ternyata level lo ama gadis cacat, ya? Hahahaha…”
Mendengar ejekan itu, Charis marah dan menghajar Denny. Mereka terlibat perkelahian dan dihukum oleh guru mereka. Charis yang telah malu, menjadi emosi sehingga ia mulai berpikir untuk memperbaiki nama baiknya dengan memacari seorang adik kelas yang ia tidak cintai. Mereka pun jadian. Denny mengunakan kesempatan ini untuk bertemu dengan Agnes. Ia pun membongkar semua tujuan Charis kepada Agnes.
“Jadi, dia deketin lo cuma buat bikin gua malu supaya dia keliatan laku? Padahal dia cuma manfaatin, lo! Mana mau dia sama, lo! Cacat! Bisu gitu!.”
Agnes berlari menangis mendengarkan kata-kata itu. Ia mulai curiga ketika melihat Charis menghilang sejak beberapa hari lalu tanpa pernah menemuinya. Ia tiba di rumahnya dengan penuh air mata. Hatinya terluka. Sedangkan Charis tidak pernah tau jika rahasia tujuannya kepada Agnes telah dibongkar oleh Denny. Ia memang tak pernah mengujungi Agnes untuk beberapa hari karena kekasih barunya selalu ingin ditemani setiap saat.
***
Agnes merawat burung kecil itu hingga kembali normal. Ia pun berpikir untuk mengembalikan burung itu ke rumah kecilnya. Ketika ia mencoba memanjat ke rumah pohon itu, ia terjatuh. Charis tiba-tiba muncul dan menolongnya. Namun Agnes mendorong tubuhnya dengan wajah marah. Charis menjadi bingung.
“Kok lo marah, kenapa?”
Agnes tidak berkata apapun. Ia pergi begitu saja meninggalkan Charis. Tanpa sadar ketika terjatuh. Liotin anting yang Agnes pakai terjatuh satu disekitar pohon. Charis mengambilnya lalu mengejar gadis itu yang sedang berjalan dengan kaki kesakitan. Charis berusaha memanggil Agnes tapi sia-sia, ia tidak mengerti mengapa gadis itu marah padanya. Ia pun menghentikan langkah gadis tersebut. Agnes mengeluarkan sebuah tulisan.
“Aku memang cacat, tapi aku ga bodoh! Aku bukan mainan yang bisa kamu gunakan buat acara valentine kamu sebagai wanita pajangan! Terlebih buat taruhan kamu sama temen kamu!!”
Charis sontak kaget ketika rahasia yang ia simpan rapat terbongkar. Ia melihat Agnes menangis dan hatinya merasa tak enak. Lalu membiarkan gadis itu pergi. Ketika gadis itu semakin menjauh, ia menyadari kesalahannya, lalu berteriak.
“Nes… sorry! Sorry!”
Agnes berjalan tanpa mendengarkan apapun, hatinya terlanjur sakit. Ia pun meninggalkan pria itu seorang diri. Charis menatap liotin anting di tangannya. Ia marasa tidak pantas untuk bicara dengan dirinya yang hina. Kemudian kembali ke rumah pohon kecil burung tersebut. Ia pun ingin menebus kesalahannya terhadap Agnes. Rumah pohon itu tampak rusak karena dibangun seadanya. Ia pun berpikir ingin memberikan hadian kepada Agnes dengan membuat rumah baru untuk burung-burung yang akan hidup disana.
Charis pun menjadi sibuk setiap harinya. Dengan penuh perjuangan, ia membangun rumah tersebut dan berhasil dengan sempurna tiga hari kemudian. Rumah burung diatas pohon itu menjadi indah dan rapi. Ia pun segera menuju rumah Agnes. Agnes sesungguhnya selalu memperhatikan apa yang dilakukan Charis setiap harinya. Ia menyadari laki-laki itu tidak seburuk yang ia pikir, namun ia sadar kepergiannya sesaat lagi akan tiba. Ia pun sadar dirinya yang cacat dan bisu hanya menjadi celahan Charis karena kesalahan berteman dengannya. Karena gadis cacat dianggap kutukan pada saat itu.
Ia pun meminta pembantunya untuk bilang kepada Charis kalau ia telah kembali ke kampung halamannya. Charis tampak terkejut mendengarkan kepergian gadis itu begitu cepat. Ia termenung bersalah, kemudian memberikan liontin anting yang dijatuhkan Agnes kepada pembantunya agar diberikan kelak bila bertemu kembali. Dengan air mata yang jatuh membasahi pipi. Agnes pun menatap kepergian Charis penuh duka. Charis pun kembali ke rumah dengan perasaaan sedih.
Beberapa hari kemudian, Jepang datang menginvasi Indonesia. Daerah tempat tinggal Charis menjadi salah satu konflik. Ia pun harus segera mengungsi bersama orang tuanya. Sebelum ia pergi, ia sempatkan untuk melihat rumah burung kecil di atas pohon. Tampak burung kecil itu menjadi dewasa dan hendak terbang. Ia pun menemukan sesuatu di rumah tersebut.
Sebuah liontin anting yang ia titipkan kepada sang pembantu dan sebuah surat kecil tulisan Agnes.
“Terima kasih atas rumah kecil ini. Kelak mungkin kita tidak akan pernah sadar kita adalah sebuah takdir. Simpanlah satu liotin ini sebagai kenangan terakhir yang bisa kuberikan kepadamu. Jika kita berumur panjang, kita akan bertemu. Jika tidak, biarkan kehidupan lain menanti kita. Satu dihatiku dan satu dihatimu untuk selamanya.”
Charis menangis dengan berat hati ketika ia menyimpan liotin tersebut. Ia pun mengungsi untuk selama perperangan. Agnes pun menghilang dengan selamanya. Sejak saat itu, mereka tidak pernah bertemu. Setelah perang usai, Charis pergi ke Belanda untuk kuliah dan kembali dengan menikahi seorang wanita yang akhirnya menjadi nenek Angel. Ia tak pernah menyadari liontin itu tersimpan dan masih ada hingga ia membenarkan isi gudangnya.
Kembali ke masa sekarang.
Angel tampak menitihkan air mata ketika mendengarkan kisah kakeknya. Tidak seperti biasa, ia selalu mengantuk ataupun beralasan untuk tidak pernah niat untuk mendengar. Kali ini kisah tersebut telah meruntuhkan sanubarinya untuk mendengar kisah tragis cinta tersebut. Hanya satu pertanyaan yang bisa ia berikan kepada sang kakek.
“Kakek, apa yang akan kakek lakukan bila bisa bertemu Agnes lagi”
“Itu tidak mungkin. Dia mungkin telah meninggal. Usia kakek sudah 70an sekarang. Ketika dulu, ia lebih tua 3 tahun dari kakek. Mungkin ia telah meninggal.“
“Ya… jawab dong kalau andai saja!”
“Ok. Kakek mau bilang satu hal sama dia. Kisah valentine antara kakek dengan dia adalah kisah terakhir yang paling indah dalam hidup kakek. Karena itulah valentine pertama kakek.”
Angel memeluk kakeknya. Ia begitu terharu terhadap kisah cinta sang Kakek. Beberapa tahun kemudian, ia mendapatkan seorang laki-laki yang ia cintai dan akhirnya menikah. Dalam sebuah undangan yang tak terduga, seorang wanita tua datang dengan sebuah tongkat di tangannya bersama sang cucu. Nenek itu mengunakan kalung yang tak asing bagi Angel. Nenek itu memberikan ucapan selamat. Angel hanya memadang nenek itu seperti asing, namun tidak pada kalung yang ia gunakan.
Kakek yang duduk di kursi paling ujung, mendapatkan giliran untuk bersalaman. Kakek melihat dengan jelas liotin yang nenek itu pakai. Air matanya terhanyut begitu saja. Sang Nenek bertanya kepada cucu itu melalui cucunya yang mengerti bahasa isyarat tangan dari sang nenek.
“Kakek, nenek saya ingin berkata sesuatu sama kamu. “
“Apa, nak?”
“Kakek sudah tua, tak malu menangis di hadapan anak-anak muda? Hehehe…,” ledek nenek itu.
“Siapa nama nenekmu?”
“Agnes.”
Tamat
silakan pasang artikel ini dimanapun dengan mencantumkan
Sobat,
Apakah arti sebuah kehidupan bila kita tidak bisa membuat orang yang kita sayangin merasa bahagia dan mendapatkan sebuah tempat yang nyaman di akhir hidupnya.
Dulu,
Setiap pagi saya masih ingat ketika saya kecil, saya dan adik saya selalu berangkat dengan sebuah vespa tua milik ayah saya untuk pergi ke sekolah. Walaupun bunyinya tidak enak didengar, tapi itu lah kenangan terindah dalam hidup saya. mengapa? karena dengan sepenuh hati Ayah saya mengantarkan saya pergi ke sekolah. Setiap paginya ayah saya bangun di pagi hari untuk bersiap-siap mengantarkan saya, sedangkan ibu saya sibuk membuat kue yang akan dia perdagangkan di pasar sebagai satu-satunya mata pencarian yang menopang kehidupan keluarga kami walaupun ayah juga bekerja sebagai dokter rumahan tradisional.
Ayah saya adalah seorang pekerja yang mengandalkan jasanya untuk mengobati anak-anak yang sakit, ayah termasuk orang yang dhermawan. Iya dikenal luas oleh tetangga-tetangga saya sebagai orang yang baik hati karena terkadang menolong pasien yang datang dengan gratis karena tidak mampu, tidak heran ditempat saya yang lingkungannya masih terbelakang karena kebanyakan dari mereka adalah pedagang di pasar mengenal baik ayah saya. Ibu saya juga wanita tangguh dan tidak pernah malu berdagang kue di pasar, ia sadar keluarga kami sederhana dan hanyalah ini yang ia bisa lakukan agar saya dan adik saya tetap dapat bersekolah.
Saya tidak pernah tau mengapa ayah saya sering sekali bangun di pagi hari dan batuk tiada henti hingga selalu membuat saya terbangun dari tidur saya. Hal itu terjadi nyaris 3 tahun terakhir hingga saya lulus dari bangku sekolah dasar dan masuk sekolah menengah utama, sejak saat itu saya tidak pernah diantar oleh ayah saya karena saya bersekolah di siang hari sedangkan adik saya masih pergi bersama ayah. Ayah adalah orang yang mengutamakan orang lain, saya pernah ingat suatu ketika di malam hari seorang ibu datang mengetuk pintu kami disaat kami berisrihat bersama bayinya. Ibu itu menangis karena anaknya mengalami kesulitan bernafas, ayah saya dengan sigap menolong ibu itu walaupun saat itu bukan jam prakteknya.
Merasa iba dengan cerita ibu muda itu yang mengaku kehilangan suaminya, ayah bukan hanya memberikan gratis pengobatan tapi juga membantu memberikan uang seadanya untuk ibu itu agar bisa membeli obat kepada anaknya, paginya saya mendekat pada ayah karena saya ingin memberi buku pelajaran baru dengan polos ayah mengaku uang yang ia siapkan untuk membeli buku baru saya telah diberikan kepada ibu yang bertandang ke rumah kami semalam. Saya sedih sekaligus marah tapi ayah mengingatkan saya bahwa buku saya masih bisa saya beli nanti bila ia berhasil mendapatkan uang, tapi saya mendapatkan satu pelajaran dari pengorbanan ayah kelak hari.
Keesokan paginya tidak seperti biasanya ayah batuk-batuk tiada henti hingga membuat kami cemas, ibu yang masih membuat kue sampai meninggalkan kuenya demi meminta tolong tetangga saya karena kondisi ayah sangat parah hingga batuk mengeluarkan darah. Saya bersedih hati ketika melihat beberapa tetangga saya pergi membawa ayah saya dan menyarankan saya bersama adik saya dirumah saja. Dengan cemas saya berpikir ayah akan kembali pada siang hari dan ternyata saya salah hingga ibu pulang seorang diri sambil mengatakan saya harus bersiap-siap berkunjung ke rumah sakit.
Ketika tiba di rumah sakit, saya melihat ayah sudah dalam keadaan tidak mampu berdiri dengan alat bantu pernafasan yang dihempaskan suster mengunakan tabung kecil ke mulutnya. Saya dan adik saya langsung menangis melihat keadaan itu, saya bertanya kepada ibu saya apa yang terjadi mengapa ayah bisa sampai diperlakukan demikian. Ibu mengatakan pada saya untuk mendekat pada ayah dan katakan hal yang ingin saya katakan pada ayah untuk terakhir kalinya. Saya tertenggun dan sadar bahwa ayah sedang menunggu saya untuk bicara, adik saya yang masih kecil seperti tidak terlalu mengerti keadaan ayah tapi ikut menangis.
Saya dekati ayah saya dan bertanya apakah ayah akan baik baik saja. Beliau tersenyum dan hanya mengeluarkan air mata, paman saya yang sudah memang sejak awal disana mengatakan kepada saya untuk bilang bahwa saya ikhlas dan harus mengatakan sebuah pesan terakhir untuk ayah saya, saya turutin permintaan paman saya dengan tangis terendap-endap saya berkata
” Papa, kalau memang papa harus pergi. Saya ihklas, saya janji untuk menjaga adik dan Mama. Dan akan menjadi anak yang berbakti !”
Ayah hanya mampu menuliskan pesan lewat tangannya
” Maafkan papa tidak bisa memberikan buku yang papa janjikan..”
Dan senyuman terakhir ayah saya menjadi kenangan terakhir pada saya, saya cium kakinya untuk terakhir kalinya dan usai pemakaman saya baru menyadari bahwa ayah saya mengidap kanker paru-paru. Saya bersyukur disaat kematian ayah saya banyak dari tetangga saya yang beraneka ragam ikut membantu prosesnya dan bahkan mereka juga memberikan bantuan dana untuk meringankan beban saya. Terdengar oleh saya dari seorang tamu yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ayah saya
” Dia ( ayah saya) adalah seorang dokter yang bisa menolong orang dengan baiknya tapi sayang dia tidak bisa menyadari apa yang terjadi dalam dirinya. Orang ini begitu mulia, lihatlah hampir semua pasien yang pernah ditolongnya datang untuk memberikan penghormatan”
Saya bangga sekaligus bersedih hati, ayah saya sukses sebagai seorang manusia yang mengajarkan saya tentang arti kehidupan dan menolong orang. Ibu saya mungkin orang yang paling mengalami cobaan paling hebat dalam hidupnya ketika harus menjadi tulang punggung sepenuh hati setelah ayah saya meninggal. Saya juga berjuang untuk membantu beban keluarga saya agar ibu saya bisa tertolong karena adik saya masih membutuhkan dana yang besar guna mendapatkan pendidikan sembilan tahun. Tapi syukuran kehidupan kami bisa berjalan dengan baik berkat ibu saya yang memang wanita luar biasa.
Dewasa ini saya menjadi penulis novel dan salah satunya yang saya tulis adalah kisah perjuangan seorang anak melawan kanker seperti yang saya alami. Kisah yang saya tulis bukan semata mayang untuk menghibur tapi menyampaikan sebuah pesan dan kisah inspiratif, saya bersyukur bahwa saya berhasil untuk pesan saya ini. kisah yang saya tulis dalam novel saya telah membuat banyak orang terisnpirasi akan perjuangan dan arti kehidupan
Setelah saya menepati janji saya untuk menjadi anak yang berguna dan berbakti, Saya pun teringat oleh janji ayah saya kepada saya tentang buku yang akan ia janjikan, Saya merasa buku itu sudahlah tidak penting karena saya sudah jauh dari bangku pendidikan. Saya pun menyumbangkan sebagian hasil penjualan buku saya untuk memberikan kepada yang tidak mampu sebagai bentuk penepatan janji ayah saya pada saya. Saya ingin dia bahagia di alam sana dan menyadari bahwa janjinya kepada saya telah terpenuhi.
Ibu saya adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya hingga pada saat ini kebahagiaan saya adalah untuk memberikan hal paling indah yang bisa saya berikan kepadanya bersama adik saya. Dan merekalah cinta terakhir saya ..
Agnes Davonar.
AYAH
Ayah…
Hal terindah dalam hidupku adalah nafas yang kau berikan
Ayah……..
Hal terbaik dalam hidupku adalah kenangan bersamamu
Ayah…….
Hal yang bisa kulakukan terakhir untukmu hanyalah sebuah puisi ini
Kenanglah semua yang pernah ada dalam hidup kita
Karena hanya itulah tali yang mengikat hubungan kita
Apapun yang terjadi dalam hidupku kelak
Kau adalah pencipta langkahku
Sekarang dan selamanya.
KEMULIAAN SAHABAT DAN CINTA
Seorang pria kemayu muncul dan menghampiri seorang pianis yang baru saja manggung. Ia memberikan bunga mawar kepada pria itu. dengan terang dan arogan. Pria itu melempar bunga itu ke jalan dan memaki pria kemayu itu dengan kasar “ Aku paling jijik sama banci dan Gay seperti kamu, sebaiknya kalian enyap saja dari dunia ini. Manusia kotor”. Pria itu memasuki mobil ditemani kekasihnya yang cantik. Sedangkan pria kemayu itu tampak menangis meratapi teganya sang idola menghancurkan hatinya
Anton adalah seorang pemain piano yang sedang bersinar di negerinya. Ia memiliki cara untuk mencari inspirasi dengan berkeliling luar negeri. Kebiasaan yang sering pergi seorang diri membuat kekasihnya Angel terbiasa dengan sikap kekasihnya. Anton pun memutuskan untuk pergi ke Belanda seorang diri, ia berjalan disebuah daerah Den hag. Ia menikmati pertualanganya di negeri kincir angin itu hingga tersesat dari jalur peta yang ia bawa.
Hendra adalah imigran asal Indonesia yang baru saja lulus dari sarjanah kemudian berkerja di Belanda sebagai seorang desainer pakaian. Ia berkerja pada sebuah kantor desainer baju pernikahan. Suatu ketika ia berjalan dengan sepedanya menuju kantor. Di Belanda setatusnya sebagai seorang Gay sudah ia tunjukkan dengan jelas mengingat kebebasan negeri itu dalam orientasi seksual. Tingkat criminal di Belanda sangatlah minim bagi turi sehingga penjagaan polisi terhadap kejahatan sangat sedikit.
Ketika tersesat menuju jalan pulangnya, Anton mendapatkan pertolongan dari seorang warga timur tengah yang berjanji mengantarkannya ke stasiun terdekat. Namun ia salah, orang itu bermaksud jahat padanya, pria itu membawanya pada sebuah tempat yang kosong kemudian tanpa sadar memukul kepala Anton hingga tak sadarkan diri. Pria jahat itu merampas semua barang yang Anton miliki, hendra berjalan diantara semak2 taman dan berhenti untuk mengangkat telepon dari rekannya.
Ketika ia menoleh ke arah sebuah persimpangan ia melihat tubuh Anton tergeletak dengan luka darah yang bertaburan dikepalanya. Ia pun menutup telepon dan mengangkat pria itu yang sedang pingsan, dengan cepat ia membawa pria itu kerumah sakit. Dengan orang yang ia tidak kenal sekalipun ia harus mengorbankan janji dengan klien yang akan ia temui, sebuah kesadaran yang tinggi untuk menolong. Dokter mengatakan padanya bahwa pria tanpa indentitas itu mengalami geger otak akibat pukulan keras di kepala dan kemungkinan akan mengalami amnesia.
Karena yang membawa pria itu adalah Hendra, ia harus bertanggung jawab kepada pasien. Hendra pun menghabiskan waktunya untuk merawat pria itu. 3 hari berlalu Hendra menghabiskan waktu menjaga Anton sehabis pulang kerja dan setiap waktu ia beristirahat. Anton pun tersadar ketika Hendra sedang membuat sketsa pakaian. Melihat hal itu, Hendra gembira dan mendekati Anton yang baru saja bangun. Dengan kebingungan Anton melihat Hendra disampingnya.
“ Siapa awak ?” Tanya Anton dan dengan bahasa melayu dan Hendra dapat menebak pria itu berasal dari asia tenggara.
“ My name its Hendra, aku yang membawa kamu ke rumah sakit.”
Anton kebingungan lalu bertanya” aku tidak ingat apa-apa”.
“ kamu tidak akan ingat apapun, karena dokter bilang kamu kehilangan ingatan.” Jelas Hendra
“ aku kehilangan ingatan.. lalu, dimana saya”
“ kamu sedang berada di Belanda. Maaf kalau bahasa melayu aku tidak bagus, aku besar dan sudah lama lupa bahasa melayu”
Perbincangan cukup singkat namun terasa nyaman. Untuk sementara Hendra memberikan nama kepada Anton dengan panggilan Java sesuai pakaian yang ia pakai ketika ditemukan. Karena tidak memiliki indetitas dan takut dikira sebagai pendatang ilegar, Hendra memutuskan untuk membawa Java ke rumahnya yang sederhana sembari mencari informasi tentang pria itu. Satu hal yang membuat Anton berpikir Java adalah pria yang layak ia tolong adalah wajah pria itu yang mirip dengan mantan kekasihnya yang telah meninggal karena HIV, 4 tahun silam.
Sementara itu Angel kekasih Java mulai kebingungan ketika kesulitan menghubungi kekasihnya yang sudah menghilang lebih dari 3 minggu lamanya tanpa kabar. Ia pun memutuskan untuk pergi ke Belanda mencari kekasihnya. Namun kedatangan terasa sia-sia kekasihnya tidak ia temukan, ia sangat kehilangan dan menangis setiap saatnya. Sedangkan Anton merasa layak sebagai Java, bahkan ia mulai terbiasa hidup sederhana di rumah Hendra yang memiliki peralatan ala kadarnya.
Sebagai seorang bintang di negerinya, ia punya segalanya. Namun di rumah Anton ia mulai mencoba mencuci pakaian dan membereskan rumah. Ia kesulitan untuk bicara dengan siapapun di negeri Belanda itu karena rata-rata orang Belanda tidak fasih berbahasa Indonesia, ia bahkan kehilangan bahasa English yang ia kuasai. Sehingga hidupnya selalu ada dirumah, menunggu Hendra pulang untuk mengajaknya bicara.
Sadar tidak sadar Anton yang Gay. Menyadari ia tidak bisa selamanya membawa dunia Java dalam hidupnya. Ia mulai mengajarkan sedikit demi sedikit bahasa Belanda kepada Java, bahkan mengajaknya untuk bekerja sebagai tenaga event pernikahan dimana ia membantu apa saja yang bisa ia lakukan. Ketika mereka sedang belajar bahasa Belanda. Java bertanya pada Hendra.
“ Dra, keluargamu dimana?”
“ aku.. aku tidak punya siapa-siapa lagi.”
“ kenapa bisa begitu?”
“ Orang tuaku meninggal sejak aku berusia 5 tahun, sejak itu aku ikut dengan pamanku. Suatu ketika pamanku mengajakku ke Australia , kemudian kami masuk sebagai pencari suaka di negeri itu. Namun saat itu kami ilegar, dan pamanku bekerja di salon sebagai tenaga kebersihan. Hal itu berlanjut hingga usiaku 13 tahun. Aku mendapatkan kewarganegeraan karena usia dibawah 17 tahun. Namun sayang pamanku saat itu mengalami stroke sehingga ia meninggal. “
“ lalu..” Tanya Java penasaran.
“ Aku hidup di panti asuhan. Hingga lulus dan mendapatkan kesempatan ke Belanda untuk belajar desain kesukaanku. Dan seperti inilah aku sekarang.. hehehe”
“ Hidupmu begitu panjang ya, andai saja aku bisa melihat masa laluku, mungkin kah seperti yang kamu bilang,. Aku adalah pekerja ilegar di negeri ini..”
Hendra terdiam kemudian menatap Java.
“ Jav, mungkin aku salah tentang statusmu di sini. Tapi aku mencoba hanya untuk melindungi kamu. Selama kamu disini kamu akan aman, aku hanya takut kamu akan di penjara karena tidak memiliki indentitas apapun.”
Java tersenyum.” Tenang saja, aku bahagia dan berterima kasih karena kamu menolongku, ntah apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan kamu.”
“ aku juga senang punya teman yang tak pernah aku bisa bayangkan..”
“ Maksudnya..” Tanya Java
“ Selama ini aku selalu sendirian. Aku jarang bicara dengan seorang teman seperti kamu., apalagi memiliki satu bahasa yang sama. Rasanya nyaman sekali.”
“ Apakah kamu tidak memiliki kekasih.?”
Hendra terdiam menatap Java, hatinya gundah menjawab pertanyaan pria itu. Tidak mungkin ia katakana ia seorang gay. Terlebih rasanya Java adalah pria sejati.
“ aku belum memikirkan sampai disana, mungkin kelak andai Tuhan memberikan jalannya. Aku pasti memberitahukan kamu sebagai orang pertama hehehe”
“ Janji ya.. aku juga berharap, seiring perjalanan waktu aku punya banyak hal yang bisa aku pahami. Makanya aku mati-matian belajar bahasa belanda. Agar aku punya kesempatan di duniar luar sana”
“ pasti.. belajar lagi yuk..”
Keduanya mulai saling berucap bahasa sang ratu kincir angin yang sulit dalam lidah mereka.
***
Enam bulan waktu berlalu, Angel mulai putus asa dengan kehidupan yang tanpa pernah tau dimana kekasihnya berada. Ia pun memutuskan untuk melupakan Anton penuh air mata. Perjalanan waktu membawanya untuk jatuh cinta pada orang lain dalam hidupnya, Robert. Perjalanan cinta mereka pun diikuti dengan waktu dimana gambar dan kenangan Anton berakhir. Keluarga Anton bahkan tak henti2nya berharap anak emas mereka ditemukan. Namun mereka bisa menerima keputusan Angel. Dan dunia pun berjalan semakin cepat.
Sikap dan kelakuan Hendra yang feminim di kantor berlainan ketika ia di rumah. Ia tidak ingin Java tau statusnya, karena pernah sesekali ketika mereka berjalan di sebuah jalan. Dan melihat dua pasangan pria bule saling berciuman. Java marah marah dan memaki tindakan pria itu.
“ negeri apa ini, mengapa pria dan pria saling berciuman.?” Tanya Java.
“ inilah Belanda, apapun bisa kau lakukan bila kau suka”
“ termasuk prilaku menyimpang seperti mereka..?”
Hendra hanya tersenyum.lalu Java berkata” aku jijik sekali melihat itu, semoga saja Tuhan mengutuk mereka karena melewati kodratnya”
Mendengar hal itu, Hendra sesungguhnya merasa sakit hati. Namun ia tidak bisa menyalahkan ucapan Java. Karena ia sadar dunia itu memiliki dua kutub yang saling berlawanan, demikian pula dengan pikiran orang. Tidak akan pernah sama. Ia sadar sebagai seorang gay, ia tidak mungkin melakukan tindakan yang buruk di mata orang lain, ia hanya bisa mencontohkan kepada Java bahwa Gay bukanlah sebuah hal yang menjijikan , walau belum sekarang saatnya.
Java mulai bisa berkomunikasi dengan tentangganya, seorang janda bernama nyonya Feng keturunan cina daratan. Mengundang kedua orang itu untuk makan malam bersama di rumah mereka, rumah itu baru selesai dibangun dan ia ingin ada pesta kecil bagi tentangga muda mereka. Dengan senang hati Java mengatakan ya sambari memastikan Hendra akan ikut pada pesta itu. Hendra kelelahan pulang dari kantor dan mendapati hidungnya penuh darah. Ia pun beristirahat dikamar sebelum Java memasuki kamarnya dan berkata
“ Hei nyonya Feng mengajak kita makan dirumahnya untuk Chinese food, mari bersiap. Aku sudah tidak sabar menikmati masakannya”
“ bisakah aku tidak pergi..” Tanya Hendra.
“ Tidak mungkin, aku katakan padanya kamu pasti datang! Nanti dia akan kecewa dan tidak mau ajak aku bicara lagi ketika kamu tidak ada di rumah!”
Melihat sahabatnya begitu bahagia dengan sahabat barunya, Hendra pun memaksakan dirinya untuk pergi walau ia masih merasa sakit kepala. Ia pun berganti pakaian dan segera pergi ke rumah nyonya Feng. Makan malam Chinese food lengkap dihidangkan oleh wanita berusia 42 tahun tanpa anak itu. Suaminnya meninggal 2 tahun silam karena kanker. Java melihat sebuah piano klasik di ruang tamu yang begitu menarik perhatiannya.
“ apakah ini bernama piano klasik buatan jerman tahun 1986, dibuat oleh Javatse” Tanya Java.
“ bagaimana kau tau suamiku membelinya di Jerman. Terlebih tipe tahun dan pembuatnya. Apakah kamu juga mempunyai..” Tanya Nyonya Feng.
Java terdiam ia memegani kepalanya yang terasa sakit dan mengingat apa yang ia ucapkan tanpa sadar tentang piano. Hendra disampingnya mulai merasakan ada hal aneh dengan Java.
“ ntahlah, tapi aku tidak asing dengan benda ini. Boleh aku menyentuhnya..”
“ silakan saja., mau kau mainkan juga boleh..”
Java pun bersiap duduk di kursi piano itu, ia merasakan dengan pelan jemarinya di setiap toth nada diatas piano itu. Hendra mulai menaruh harapan bahwa Java mulai mengingat sesuatu di masa lalunya. Dan benar saja, ia sadar Java dapat memainkan piano dengan baik bahkan sangat mahir. Sebuah lagu habis ia mainkan dengan mendecak kagum nyonya Feng.
“ bahkan suamiku tidak bisa bermain seindah dan sebaik kamu” puji Nyonya Feng.
Kedua sahabat itu berpamitan dan pulang kerumah. Hendra mendekati sahabatnya dan bertanya.
“ apakah kamu mengingat sesuatu ketika bermain piano itu?” Tanya Hendra
“ aku tidak tau,. Tapi aku merasa tenang bersama iringan music itu. Siapa aku sebenarnya?”
Hendra terdiam dan sadar tidak baik memaksa Java melihat masa lalunya. Ia mendapatkan ide untuk memanfaatkan kemahiran Java dalam bermain piano sebagai mata pencarian. Kebetulan setiap event pernikahan terkadang terdapat konsep piano klasik untuk menambah romantic sebuah pernikahan sakrar. Java pun senang mendapatkan kesempatan itu. Mereka pun sepakat untuk mengatur waktu, dan akhirnya perjalanan baru hidup Java dimulai. Ia mulai menjadi tamu pemain piano disetiap pernikahan, penampilanya luar biasa dan setiap orang menyukainya.
Hendra mulai menghadapi sebuah masalah dalam hidupnya. Sadar tak sadar kesehatannya terus memburuk. Ia pun memeriksakan dirinya ke dokter. Ia terkejut ketika dokter mengatakan ia mengidap penyakit HIV. Ia sadar, kekasihnya dulu pernah mengalami hal yang sama. Parahnya lagi ia juga terkena kanker otak yang menyebabkan kepalanya sering terasa sakit. Ia pasrah dengan kehidupan pahit yang datang padanya. Ia tidak menyalahkan kekasihnya kerena membawakan maut padanya. Dengan wajah sedih ia pulang kerumah.
Java membuat kejutan dengan sebuah kue ulangtahun kepada Hendra yang tidak sadar hari ini adalah hari ulang tahun ke 26nya. Bukan senang dengan kejutan itu, didepan nyonya Feng ia menangis bak anak kecil. Hendra tanpa lemas dan nyaris jatuh, Java segera memeluk sahabatnya.
“ kamu kenapa?”
“ aku gapapa.. hanya bahagia. Ada kalian dalam hidupku. Aku bahagia..”
Java memeluk sahabatnya dan berkata “ Kaulah sahabat dalam hidupku, kaulah penyelamat dalam hidupku, cahaya dalam hidupku dan tak ada kata yang sanggup ku ucapkan selain terima kasih atas segala yang kau berikan padaku.”
Disaksikan nyonya Feng. Hari itu pun berakhir.
***
Angel memutuskan untuk menikah dengan Robert. Bahkan ia memutuskan untuk melangsungkan pernikahannya di Belanda. Ia memilih Hendra sebagai desainer bajunya dan juga EO untuk pernikahannya. Hendra pun mengambil foto kedua pasangan itu untuk mencari pakaian yang cocok. Ia membawa foto itu kerumah. Ketika ia minum obat di dapur, Java muncul dan melihat foto kedua mempelai itu. Ia terlihat merasa mengenal pasangan itu. Hendra muncul
“ itu foto pasangan dari Indonesia yang menikah di sini, dan pastinya kamu mendapatkan bagian di bidang music. Karena ia mau seseorang mengilingi pernikahan mereka dengan piano.”
“Oh ya.. rasanya aku tidak asing dengan wajah di foto ini.”
“ hehehe. Ada- ada saja. Aku cape dan lelah , mau tidur. “
“ ya sudah kamu istirahat saja.. aku masih belum ngatuk.”
Hendra meninggalkan Java, Java sungguh penasaran dengan sosok wajah yang ada di foto itu. ia mencoba mengingat di kepalanya, rasanya baris demi baris wajah gadis itu melintas di pikirannya. Namun rasa sakit kepala muncul dan membuatnya tidak sanggup untuk melihat lagi. Ia pun beristirahat. Dokter mengingatkan Hendra untuk segera berhenti bekerja dan beristirahat karena penyakitnya sudah semakin parah. Namun Hendra mengatakan bahwa ini adalah perkerjaan terakhirnya. Ia akan segera akan beristirahat setelah membawakan sahabatnya Java ke pentas yang ia mimpikan. Karena pernikahan Angel akan menjadi pernikahan mewah, tentu saja dengan munculnya Java di pentas itu akan membuat namanya semakin berkibar. Disaat itulah hatinya tenang dan dapat beristirahat.
“ mengapa kamu begitu baik pada pria itu, apakah kamu mencintainya?” Tanya dokter.
Hendra terdiam.
“ rasa cinta di hatiku tidak akan pernah ada lagi,. Java adalah sahabat terakhir yang aku miliki dalam hidupku. Ketika semua orang membenci dan menganggap aku sebagai sampah masyarakat. Dia tidak demikian. Dia bahkan memberikan hidupnya kepadaku sebagai sahabat. Aku tidak mungkin mencintainya. Kami murni sahabat!”
Dokter senang mendengarkan hal itu lalu bertanya. “ Apakah ia tau kamu seorang Gay”
Hendra terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan itu. ia tidak dapat berpikir lagi apa yang terjadi dengan semua itu kalau saja Java tau siapa dia sesungguhnya.
Pesta pernikahan di mulai. Angel tampak cantik dengan pakaian gaun yang dirancang oleh Hendra. Hendra dan Java berada dibelakang pesta untuk membahas hal hal yang perlu di lakukan. Hendra tiba tiba mimisan dan Java menjadi panic
“kamu kenapa?”
“ aku gapapa. Cuma sedikit ga enak badan sampai mimisan gini. Kamu sebentar lagi naik panggung. Sana kamu siap siap. Aku gapapa mau ke toilet dulu.”
“ kamu yakin gapapa, perasaanku ga enak.”
“ aku gapapa sahabat, kamu buktikan kepada semua tamu kalau kamu adalah bintang, maka dengan ini jalanmu di masa depan akan bersinar dan baik.”
Tiba tiba pembawa acara mulai memanggil nama Java, dan pesta pemasangan cincin untuk pengatin telah siap. Hendra berjalan dengan terlunta lunta menuju toilet. Ia memperhatikan cermin didepannya. Wajahnya pucat dan hidupnya mulai mimisan tak berhenti. Lalu berkata
“ sekarang saatnya kamu buktikan kepada dunia kalau kamu akan punya hidup baru sahabat.” Kata hendra. Dan rintingan music piano pun terdengar. Halus dan penuh makna.
Angel yang sedang akan memasang cincin dari Robert. Seolah tak percaya ketika menoleh pemain piano yang sedang beraksi itu. ia berlari penuh histeris meninggalkan panggung utama dan mendekati Java. Anton yang hilang dalam hidupnya, muncul di pernikahan indahnya sebagai pemain piano.ia berteriak
“ Anton…………..” teriakan itu membuat Java berhenti bermain piano.
“ Anton…siapa?”
“ kamu … Anton……….!!!” Teriak angel dan Robert muncul dan melihat sosok mantan kekasih gadisnya itu.
Hendra keluar dari toilet. Dan melihat keributan itu. ia mendekati Java.
“ ada apa Java.?”
“ aku tidak tau wanita itu memanggilku Anton, aku Java bukan Anton..”
“ Angel apa kamu mengenal Java..”
“ dia bukan Java.. dia adalah Anton kekasihku yang telah hilang…”
Kini semua misteri siapa Java terjawab sudah. Semua mata saling menatap dengan kebingungan. Dan tiba tiba tubuh Hendra ambluk. Kejadian itu begitu cepat. Dengan setengah sadar ia dapat melihat Java berteriak menyadarkan dia hingga semua menjadi gelap.
Java mendapatkan kenyataan kalau Hendra mengindap kanker otak dan HIV positif. Disaat itu kesadarannya akan masa lalu mulai muncul. Ia tidak lagi peduli akan masa lalunya sabagai Anton, yang ia tau dirinya kini Java. Dan bukan pernikahan yang menghancurkan hatinya kerena angel dengan orang lain. Tapi nasib sahabatnya yang di ujung tanduk. Hendra koma hingga waktu yang tidak pernah terjawab. Dengan setia Java menunggunya disamping.
Ia kini sadar siapa sosok Hendra disampingnya. Walaupun ia adalah seorang Gay, ia bukanlah pria asing dari planet mars yang begitu menjijikan. Malu rasanya ketika ia pernah berkata kebenciannya terhadap gay, dan pada kenyataan hidupnya terselamatkan oleh seorang Gay. Ia menangis disamping sahabatnya, ia berdoa disamping sahabatnya agar sadar. Dan harapan itu terjawab ketika Hendra tersadar.
“ Java.. “
“ Hendra.. kamu sudah sadar…” ucap Java dan hendra menangis
“ Maaf.. untuk selama ini..”
“ tidak ada yang salah. Kini aku tau masa laluku. Tapi itu tidak lah penting. Bagiku yang penting aku mengenalmu sebagai sahabat dan aku bahagia”
“ maaf.. Jav,aku harus berada disini.. aku tidak tau mengapa semua jadi seperti ini”
“ Dra sembuhlah untukku. Untuk sahabat yang begitu sayang padamu..”
Dengan air mata Hendra pun berkata jujur” walau aku seorang gay!!”
Java merangkul tangan Hendra yang lemas.
“ aku tidak peduli kamu gay. Gay bukan sebuah kesalahan. Kamu adalah sahabat terindahku. Kamu tetap saudara dalam hidupku. Aku ingin kamu sembuh dan kumpul bersamaku lagi.”
“ aku senang mendengarkannya. Hatiku lega, apa yang aku takutkan selama ini dapat kulenyapkan. Aku tenang sekarang.. Java.. maafkan aku untuk segalanya..”
Tiba tiba keadaan hendra memburuk. Java panic dan memanggil dokter. Dengan terpaksa suster membawa Java keluar dari kamar. Di luar nyonya Feng sudah menunggu. Ia memeluk Java. Ia menguatkan hati laki laki penuh harapaan itu. Angel datang ke rumah sakit. Java menjelaskan segalanya dan keihklasan untuk menerima pernikahan Angel dengan Robert. Dokter muncul dan berkata maaf untuk kepergian Hendra untuk selamanya.
Java berteriak menangis. Ia kehilangan masa singkatnya untuk mengenal sahabat yang tak pernah ia duga sebelumnya. Dan dunia ini sesungguhnya indah dan berwarna terlepas setiap insan memiliki hak untuk menjadi siapa dirinya.
Tamat
Agnes Davonar keluarkan buku pertamanya.

Jakarta. Penulis yang memulai kariernya dari dunia Blogger, Agnes Davonar. Mengeluarkan buku pertamanya dengan judul Kisah Lirik Lagu terakhir : Misteri Kematian Gaby dan Lagunya Jauh. Novel yang di adaptasi dari sebuah cerpen berjudul sama Kisah Lirik Lagu terakhir merupakan sebuah karya fenomenal. Mengapa fenomenal? Karena karakter Gaby dalam cerpennya tersebut kini menjadi pembicaraan dari media televisi hingga cetak bahkan forum-forum internet.
Yang unik dari karya Agnes Davonar adalah sosok Gaby dalam karakter rekaannya tersebut dianggap nyata oleh pembacanya. Terlebih novel yang terinspirasi dari sebuah lagu berjudul Jauh itu juga diikuti sebuah mistik tentang lagu kematian dimana penyanyi itu bunuh diri sehabis menciptakan lagu. Memang bulan-bulan terakhir ini Gaby karakter dalam novelnya itu menjadi terkenal di seluruh pelosok negeri.
Novel itu sempat dibuat secara online memasuki episode ke 6, namun karena niat sebuah pernerbit untuk membeli hak karyanya maka novel itu dicetak dalam buku. Agnes Davonar sendiri sempat terkejut ketika tau karyanya telah tersebar di seluruh forum internet dan blog-blog yang mengambil karyanya sebagai topik. Bahkan ia baru menyadari cerita itu begitu menakutkan hingga beberapa kali harus minta maaf kepada pembacanya kepada tayangan televisi dan media cetak.
Novel ini juga dikeluarkan untuk mengikis kisah mistik yang konon disebutkan beberapa orang sering mengalami gangguan makluk harus ketika mendengar kisah ini. Kisah lirik lagu terakhir juga ikut membuat sebuah lagu menjadi booming di pasaran. Bahkan lagu yang dinyanyikan seorang vokalis bernama Abe itu diperebutkan oleh 20 band yang merasa memiliki lagu tersebut.
Sebegitu fenomenalkah cerita ini hingga begitu banyak yang percaya akan kisah cinta Romeo and Juliet versi Indonesia tersebut. Kisah yang bermula dari cinta yang terjadi antara Gaby dan Popo dalam sebuah band bernama Caramel, memang pantas untuk menjadi koleksi novel dirumah anda. Terlebih, Agnes Davonar menjanjikan secara lengkap dan detil bagaimana perjalanan sosok Gaby hingga akhirnya ia dapat menciptakan lagu indah sebelum kematiannya.
Buku novel ini bisa didapatkan di Gramedia , Tokoh buku Gunung agung dan lain-lain untuk kawasan Jakarta senin,27 July 2008 dan selebihnya tokoh buku kota lain menyusul secara lengkap bulan Agustus. Bahkan bagi kota terpencil yang ingin punya buku ini dapat membeli secara online lewat www.bukukita.com dan menyusul provider pelayanan Qitic.com lewat layanan jaringan GSM seperti Indosat, XL, Telkomsel,Fren,3G dan AXIS akan menawarkan buku novel ini dengan mendownload via Hendphone.
Jadi buat anda yang penasaran bagaimana kisah Gaby yang begitu misterius itu, anda harus membaca novel ini.
www.lieagneshendra.blog.friendster.com
TERIMA KASIH KEPADA MEMBER SEkalian
KALIAN PUNYA ANDIL BESAR DALAM PERJALANAN SEJARAH KARIER SAYA.

Tuhan ..
Andai aku bisa kembali..
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.
Tuhan ..
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada hal yang sama terjadi padaku ,terjadi pada siapapun.
Cuplikan itu menjadi sedikit bait dari sebuah tulisan yang ditulis seorang remaja penderita kanker Rabdomiosarkoma atau kanker jaringan lunak. Sebuah kanker ganas yang menyerang pada bagian wajah seorang gadis remaja bernama Gita Sesa Wanda Cantika. Umurnya masih 13 tahun saat dokter mengatakan kepada ayahnya bahwa putrinya hanya dapat bertahan selama 5 hari bila tidak melakukan operasi segera.
Hati ayah mana yang tidak hancur ketika tau jalannya operasi itu harus membuat sang putri kehilangan sebagian wajahnya. Sedangkan sang putri mulai bertanya mengapa diwajahnya mulai tumbuh gumpalan sebesar buah kelapa. Tak ingin melukai hati anaknya, sang ayah berserta keluarga merahasiakan kanker itu pada Keke, panggilan gadis remaja aktif dengan sejuta prestasi model dan tarik suara. Namun perlahan Keke mulai menyadari dirinya bukan sakit biasa, ia sadar hidupnya tak mungkin akan bertahan lama dengan pandangan mata yang mulai buta oleh kanker.
Walau akhirnya ia tau ia terserang kanker ganas, ia pasrah dan tidak marah pada siapapun yang merahasiakan penyakit maut itu padanya. Ia memberikan senyum kepada siapapun dan menunjukkan perjuangannya bahwa dengan kanker diwajahnya ia masih mampu berprestasi dan hidup normal di bangku sekolah. Tuhan menunjukkan kebesaran hati dengan memberikan nafas panjang padanya untuk lepas dari kanker itu sesaat.
Perjuangan Keke melawan kanker membuahkan hasil, Kebesaran Tuhan membuatnya dapat bersama dengan keluarga serta sahabat yang ia cintai lebih lama. Keberhasilan Dokter Indonesia menyembuhkan kasus kanker yang baru pertama kali terjadi pada putri Indonesia ini menjadi prestasi yang membanggakan sekaligus membuat semua Dokter di Dunia bertanya-tanya.
Namun kanker itu kembali setelah sebuah pesta kebahagiaan sesaat, Keke sadar nafasnya di dunia ini semakin sempit. Ia tidak marah pada Tuhan, ia bersyukur mendapatkan sebuah kesempatan untuk bernafas lebih lama dari vonis 5 hari bertahan hingga 3 tahun lamanya. Dokter menyerah terhadap kankernya, di nafasnya terakhir ia menuliskan sebuah surat kecil kepada Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran hati remaja Indonesia yang berharap tidak ada air mata lagi di dunia ini terjadi padanya, terjadi pada siapapun.
Nafasnya telah berakhir 25 desember 2006 tepat setelah ia menjalankan ibadah puasa dan idul fitri terakhir bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya, namun kisahnya menjadi abadi. Ribuan air mata berjatuhan ketika biografi pertamanya dikeluarkan secara online. Pesan Keke terhadap dunia berhasil menyadarkan bahwa segala cobaan yang diberikan Tuhan adalah sebuah keharusan yang harus dijalankan dengan rasa syukur dan beriman. Perjalanan waktu, biografi Keke pun dipasarkan secara luas. Ditulis oleh Agnes Davonar, buku yang penuh dengan hikmah dan ketulusan ini diberi judul ” SURAT KECIL UNTUK TUHAN” ini menjadi buku kedua penulis yang memulai kariernya dari sebuah blogger dengan situs
ini adalah tulisan pertama yang kupersembahan untuk pembaca blogdetik.com sebagai ucapan selamat hari raya imlek bagi yang merayakannya.
Kisah imlek terakhir.
Angel masih tertidur pulas ketika panggilan telepon dari ibunya, terus berdering di Hendphonenya. Setelah beberapa kali lelah berdering, panggilan itu pun berakhir. Nenek angel sedang berada di sebuah klenteng, bersembhayang untuk menghormati leluhurnya. Ia berharap angel datang untuk menghormati leluhur orang tuanya yang telah meninggal 3 tahun silam karena sebuah kecelakaan. Upacara itu dilakukan untuk merayakan tahun baru imlek yang akan datang esok hari.
Setelah terbangun karena sudah kenyang tertidur angel bangkit mengosok giginya di kamar dan memandangi dirinya di cermin. Rambutnya yang panjang terhelai lembut berwarna merah. Wajahnya cantik, dan berkulit putih dengan mata sipit yang memikat karena bulu matanya yang panjang. Tubuhnya juga cukup tinggi sekitar 168cm. Angel telah melupakan hari buruk tersebut, kini ia berkerja sebagai seorang public relation di sebuah rumah makan mewah.
Ketika tubuhnya mulai hangat sehabis mandi, ia baru menyadari panggilan miss call dari sang nenek yang kini menjadi satu satunya anggota yang ia miliki. Ia pun menelepon balik sang nenek yang telah berusia 68 tahun.
“Napa nek?” Tanya angel
“Kamu datang dong. Nenek mau ajak kamu sembhayang di klenteng buat almarhum papa sama mama kamu, cepet nenek uda lama disini!”
“Aduh.. sabar dong. Angel juga baru bangun.. ntar nyusul de!” ujar Angel setengah hati
“Dasar ya. Uda jam 10 masih belum bangun.. kalau nenek disana uda nenek siram air kamu biar bangun. Anak perempuan kok kayak gitu!!”
“Uh.. iya iya! Angel kesana sekarang!”
Setelah menutup telepon itu dengan perasaan sebal karena ocehan di pagi hari. Angel pun keluar dari rumahnya untuk memanaskan mobil. Kemudian ia mulai merasa bosan dengan mengingat apa yang harus ia lakukan di klenteng. Menghirup polusi dupa yang akan menusuk hidungnya, belum lagi dengan banyaknya orang yang antri menunggu ditempat ibadah tersebut. Dengan setengah hati ia pun berangkat menuju klenteng yang terletak 1 jam dari rumahnya.
Di tempat lain.
Agnes baru saja turun dari sebuah bus yang mengantarkannya dari sebuah daerah. Ia terlihat asing ditempat barunya, dengan hanya memiliki sebuah tas kecil ditangannya ia berjalan menelurusuri tempat yang tertera di sebuah kertas yang ia pegang. Kemudian ia bertanya kepada seseorang yang ia tak kenal disebuah jalan.
“Pak Maaf ya, boleh Tanya dimana ya pasar Glodok?”
“Oh.. naik aja angkot 41 atau naik busway jurusan roxy –kota lalu terusin ke stasius kota.!”
“Oh.. makasih ya..!”
Sang bapak tampak mengerti jika Agnes adalah seorang gadis yang bukan dari kota asli tempatnya mencari sesuap nasi. Lalu ia membiarkan agnes berjalan seorang diri mencari tempat halte busway yang cukup jauh. Agnes adalah seorang gadis yang melarikan diri dari orang tuanya yang memaksa ia untuk menikah dengan seorang juragan kaya, ayahnya terlilit hutang yang cukup besar sehingga ia merelakan putri cantiknya untuk menikah lelaki yang mungkin sudah berkepala lima dengan 3 istri muda lainnya.
Tak rela menjadi siti nurbaya di jaman modern, Agnes pun memilih untuk melarikan diri. Ia memilih untuk lari kepada seorang temannya yang dulu adalah rekan satu sekolah di kota asalnya , Surabaya. Lilis. Gadis gemuk yang setia kemudian memilih berdagang makanan khas cina di pasar glodok. Sekilas ada yang aneh dengan wajah agnes. Tubuhnya mirip dengan Angel , sekilas mereka tampak mirip, hanya rambut mereka yang berbeda warna. Agnes tetap hitam namun sama panjangnya. Bentuk wajah mereka sedikit mirip namun sangat tidak masuk akal bila diperhatikan sekilas sama.
Agnes berhasil sampai di halte busway, dan kini ia mengikuti saran bapak tua itu untuk mengantarkannya ke kota. Sepanjang perjalanan ia cukup was was mengingat peringatan tentang bahayanya ibukota bagi pendatang sepertinya. Pakaian yang seadanya dengan kaos putih dan celana jeans cukup untuk membuatnya tampak wong ngedeso.
Di mobil Angel.
Angel mengikuti sarang neneknya untuk mengunakan kaos putih polos dengan celana jeans. Untuk menghormati klenteng. Ia pun melaju mobilnya dengan cepat. Tiba tiba terdengar suara telepon dari sang kekasih yang tinggal di Singapore.
“Hei manis, mau imlek neh. Dapat angpao ga hehehe!”
“Ah kamu emangnya aku ini masih anak sd ya. Uda bukan jaman kali. Ga pulang ke Jakarta!”
“Mau dong.. kan mau ketemu kamu. Besok aku pulang dan ketemu sama orang tua aku ya, aku mau ngenalin kamu sama dia!”
“Hm.. boleh. Pasti kan besok!! Soalnya nenek mau ajak aku pergi ke tempat saudara . !”
“Iya iya.. kamu lagi dimana sih?” Tanya sang kekasih bernama Hendra
“lagi di jalan.. nyetir!”
“Oh.. yauda kamu nyetir ya. Hati hati ok!”
“Sip..!”
Ketika Angel mematikan teleponnya. Tiba tiba sebuah mikrolet merah melaju cepat menutup pandangannya ia berhasil lolos dari mikrolet merah itu namun ketika mikrolet itu menghilang. Dari arah depan muncul truk container yang besar melaju kencang. BlAKKKKKKKK…
Mobil Angel menabrak truk tersebut. Bensin membocori seluruh isi mobil dan meledak seketika. Angel terbakan dalam kejadian tersebut. Ia sempat melihat dirinya terhempas dengan darah yang mengalir diseluruh kepalanya, dan
BOOM.. Mobil meledak seketika.
Masyarakat bekerumunan mendekati Angel. Wajahnya terbakar dari arah luar. Tubuhnya masih terlindungi. Dan ia pun kritis.
Di lain tempat.
Agnes berhenti di halte busway kota. Ia sempat bingung dengan laju tempat yang ia turuni. Ia merasa tidak yakin karena arah dua mobil yang saling menyelempet. Tiba tiba seseorang laki laki menarik tasnya. Ia berteriak histerik kepada orang tersebut. Namun tidak ada yang peduli ketika ia berkata maling telah mengambil tasnya. Karena tak ingin kehilangan alamat dan uang ditasnya. Ia pun berlari mengejar maling itu seorang diri.
Maling itu melaju dengan lihai di jalan yang dipadati oleh mobil dengan cepat. Angel tak menyadari ketika ia mengejar maling tersebut. Sebuah mobil kijang melaju dengan cepat. Ketika ia berbalik melihat sebuah mobil melaju. Ia berusaha menghindar dan sebuah mobil lain dari arah berlawanan melaju dengan cepat. Dan terhantamlah wajahnya hingga ia terpental hingga 5 meter jauhnya. Yang tersisa dari kecelakaan tersebut adalah sebuah luka besar di kepala dan wajahnya.
Sebuah ambulan datang dengan melaju cepat. Dua ambulan tersebut membawa Angel yang sekarat dengan luka baker. Satu lagi membawa Angel yang mengalami pendarahan cukup besar di kepalanya. Unit gawat darurat rumah sakit tersebut dipadatin oleh banyak pasien sakit tidak seperti biasanya. Dokter membuat keputusan untuk menyatukan beberapa pasien dalam satu ruangan. Angel dan Agnes pun disatukan dalam sebuah ruangan. Dokter belum datang, karena sibuk dengan pasien lain.
Suster yang bertugas juga harus bergiliran. Hingga mereka tak menyadari kedua orang itu berada dalam satu jarak yang hanya 1 meter. Suster membuka pakaian keduanya. Dan menyatukan dalam sebuah kesalahan besar. Kesibukan membuat ia meletakkan pakaian Angel di tempat Agnes, dan pakaian Agnes di tempat Angel. Pakaian tersebut telah penuh dengan noda darah sehingga tak akan ada yang menyadari kesalahan tersebut. Dan keduanya pun dibawah ke dua ruang berbeda untuk diperiksa.
Beberapa jam kemudian keduanya ditangan oleh dokter. Sayang nasib Angel buruk karena fatalnya kecelakaan dan ia pun meninggal saat diperiksa. Sedangkan Angel tak sadarkan diri. Dokter pun menganalisis mengalami gegar otak yang mungkin akan membuatnya amnesia. Dan dokter tidak pernah akan bisa memprediksi ia akan bangkit, ia pun memutuskan mengoperasi wajah pasien yang rusak karena hantaman mobil disaat itu juga.
Kesalahan besar dokter terjadi ketika mereka salah memasukan nama keduanya yang tidak mempunyai status. Dokter mencoba mencari jati diri keduanya, tertukarlah keduanya ketika dokter menemukan ktp milik Angel terjatuh di pakaian Agnes. Dan yang mereka tau hanya satu, Angel selamat dan yang meninggal adalah Agnes. Dokter menghubungin keluarga Angel yang disambut histeris oleh sang nenek yang segera menuju rumah sakit.
Sedangkan jasad Angel asli dibiarkan hingga ada yang mencarinya. Media massa membantu kasus ini cepat menyebar. Orang tua Agnes pun dipanggil untuk melihat kondisi putrinya segera dari Surabaya. Tangis mengiringin kematian sang putri yang mereka kira. Walau sesungguhnya Agnes asli masih hidup. Namun untuk sementara wajahnya ditutupi oleh perban untuk menjaga hasil operasi yang dokter lakukan. Nenek bersuka cita melihat sang cucu berhasil selamat dari kecelakaan tersebut tanpa tau cucu aslinya telah mati.
Segera jasad Agnes palsu dibawa ke Surabaya untuk dimakamkan. Nenek pun memindahkan sang cucu dari rumah sakit tersebut ke yang lebih baik. Semakin jauhlah kenyataan yang tidak akan pernah mereka kira. Dokter bedah plastic terbaik pun dipanggil untuk mengembalikan kecantikan Angel palsu tersebut yang masih tak sadarkan diri setelah kejadian naas tersebut.
***
1 bulan kemudian, mujizat itu datang, Angel tersadar dari tidur panjangnya. Ketika ia bangkit dari tidurnya. Wajahnya masih diperban nyaris seperti mumi. Yang berdiri disampingnya adalah sang kekasih Hendra, dengan setia pria itu menjaga sang kekasih yang ia cintai, bahkan ia berhenti bekerja untuk itu.
“Angel kamu sudah sadar, thks GOD!” teriak Hendra
Angel menatap wajah pria itu dengan kebingungan, ia tak ingat siapa pria disampingnya.
“Kamu pasti lupa sama aku, aku Hendra. Pacar kamu. Kata dokter kamu hilang ingatan. Tapi kamu jangan takut. Seiring waktu ingatan kamu pasti kembali!!” jelas Hendra
Angel tak menjawab penjelesan pria berusia 28 tahun tersebut, ia masih berusaha memperhatikan dirinya. Dan kemudian waktu pun berjalan. Angel tak pernah bicara hingga perban di wajahnya terbuka. Sedikit perubahan yang mencolok dari wajahnya, namun dokter mengatakan wajah Angel tidak mungkin cantik seperti dahulu, yang mereka lakukan adalah yang terbaik. Nenek dan Hendra tidak peduli akan itu. Mereka tetap bersyukur orang mereka cintai selamat dan bisa berkumpul kembali.
Angel mengeluarkan satu kata pertamanya ketika ia tiba dirumah besar milik sang nenek. Ia bahkan tak ingat siapa orang disampingnya. Namun kasih saying akhirnya menyadarkan ia bahwa mereka adalah orang baik dan adalah keluarga mereka. Ia pun mulai terbiasa dan mulai berbicara dan suaranya yang asli medok Surabaya memang sempat menganggetkan sang nenek dan Hendra. Namun dokter berdalih, bahwa suster yang merawat Angel sering mengajak Angel bicara sehingga secara naluri suster asal Surabaya yang berbahasa medok asli suroboyo itu mengalir dan membentuk karakter pada Angel.
Satu kesalahan tersebut tertutupi, kehidupan pun berlanjut, Angel merasakan kebahagian bersama keluarga barunya. Sang kekasih yang begitu mencintai dan memberikan kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan membuat ia semakin mantap melanjutkan mimpi yang pernah dikatakan oleh Angel asli. Segera menikahi sang kekasih. Dan mereka pun akhirnya memutuskan untuk menikah pada saatnya.
Suatu ketika Angel termenung di ruang tamunya. Ia memperhatikan sesosok pria bernyanyi dengan indah. Sosok pria itu sedang mengikuti sebuah kontes bintang. Dan pria itu berasal mewakili daerah Surabaya. Dan kenyataan sesungguhnya pria itu adalah mantan kekasihnya. Angel beberapa kali mengalami sakit kepala ketika melihat nama pria itu disebut
Agus.. Agus. Agus.
” siapa pria ini, mengapa ia begitu membuat aku ingin berjumpa dengannya!” ujar Angel dalam hati.
disebuah makan malam.
Nenek sesungguhnya mulai merasakan keanehan pada cucunya. Angel tidak pernah mencuci piring ataupun menyapu seumur hidup tinggal bersamanya. Anehnya, cucunya yang sekarang begitu rajin, setiap selepas makan ia akan selalu membersihkan piring yang kotor. Menyapu setiap paginya, bahkan menyiramin taman rumah mereka. Namun nenek yang tulus dan kesepian itu tidak ingin kehilangan lagi orang yang ia cintai. Dan ia pun mulai bicara dengan putrinya disaat makan malam.
“Angel, kamu coba ini enak loh parenya!”
“Boleh.,!”
Angel malahap pare tersebut dengan terus meminta tambahan yang banyak. Sang nenek meneteskan air mata ketika melihat Angel begitu menyukai makanan pahit tersebut. Neneknya tersadar, orang yang duduk disampingnya bukanlah cucunya. Cucunya yang asli tidak bisa menikmati makanan pahit, tubuhnya akan alergi dan akan muntah. Walaupun Angel kehilangan ingatan ia tidak akan kehilangan penyakit lamanya.
“Nenek , kenapa nenek nangis!?” Tanya Angel
“Gapapa, nenek hanya terharu . ntah kapan nenek bisa melihat kamu makan bersama nenek lagi kelak,, nenek sudah tua dan mungkin tidak akan memiliki waktu indah ini lagi!”
Angel tersentuh oleh kalimat tersebut. Ia pun memeluk penuh kasih sang nenek yang setia menjaga dan merawatnya sejak dulu. Di malam hari sebelum tidur sang nenek berdoa pada Tuhan
“Mungkin dia bukanlah cucu yang nyata bagiku, namun dia adalah surga terakhir yang kumiliki Tuhan. Aku tidak akan pernah rela kehilangan lagi orang yang aku sayangin. Izinkanlah hambamu ini untuk sekali saja merayakan satu tahun imlek bersamanya dan kembalikan lah cucu yang nyata bagiku dalam keadaan apapun aku siap menerimanya, dan lenyapkalah misteri ini dari hidupku”
***
Angel menjadi fanatic terhadap tayangan reality show pemilihan penyanyi idola yang tardapat mantan kekasihnya. Ntah mengapa setiap melihat sosok itu ia mulai teringat tentang masa lalu yang jauh dari pikirannya tentang sebuah kota. Yang ia ingat selalu satu. Ia berlari disebuah desa yang penuh dengan rumputan hijau. Kemudian bermain air di tepi sungai. Kemudian menaiki sepeda bersama sosok yang ada dilayar telivisi tersebut. Namun ia berpikir itu hanya ilusi yang berlebihan karena terlalu mengidolakan pria tersebut. Walau sesungguhnya itu adalah sebuah kenyataan dimasa lalu ketika mereka tinggal di desa sebelum Agnes asli tinggal di kota.
Pernikahan Angel dan Hendra semakin dekat. Mereka semakin bahagia menyambut pernikahan tersebut. Namun disatu sisi Angel mulai merasakan keanehan setiap harinya. Ia mulai bicara tentang desa indah yang dikira adalah sebuah khayalan oleh sang kekasih. Angel terus bicara dan membuat Hendra menjadi penasaran tentang tempat itu. Hingga pada suatu hari. Tayangan televisi reality show yang menayangkan Agus mantan kekasih Agnes mulai menayangkan sosok tempat tinggal Agus di desanya di Sidoarjo dekat dengan Surabaya.
Disaat itu Angel dan Hendra sedang menonton televisi bersama. Hendra terpanah ketika Angel berteriak histeris kalau desa itulah yang ada di dalam khayalannya. Desa itu adalah tempat ia bicarakan setiap saat. Hendra tersentak dan mulai berpikir tentang Angel yang ia kenal tidak lah pemimpi yang hidup untuk berdongeng padanya setiap hari. Ia semakin penasaran. Begitu pula Angel, bahkan Angel berharap Hendra mau mengantarkanya ke tempat itu.
Ajang pemilihan penyanyi idola tersebut berhasil membawa nama Agus keluar sebagai juara. Angel dan Hendra bahkan datang khusus untuk menyaksikan final tersebut di tempatnya. Sang pembawa acara bertanya pada Agus tentang kemenangan. Agus berujar sambil berlinang air mata.
“Kemenangan ini kupersembahkan untuk sang kekasih yang telah tiada, Agnes. Dan setelah kemenangan ini hal pertama yang akan aku lakukan adalah melayat pada dirinya. Memberikan cerita mimpi yang menjadi kenyataan”
Suara lantang yang terdengar besar dari kisah sedih Agus sontak membuat Angel terperangah. Jiwanya gusar, ingatannya yang hilang begitu dalam. Bangkit dan menyadarkan ia akan siapa dirinya. Ia menatap wajah Hendra yang tampak bingung dengan Angel yang berlinang air mata.
“Hendra bisakah kamu antarkan aku ke rumah sakit dimana aku pernah dirawat”
Hendra tak bertanya apapun, ia segera menuju rumah sakit itu, Angel meminta data kejadian secara lengkap tentang peristiwa naas tersebut. Menurut catatan , ada satu pasien yang seruangan denganya. Dan pasien itu telah meninggal bernama Agnes. Hendra mulai menyadari satu hal yang tak ingin ia percayai, Angel menatapnya dengan penuh kesedihan dan berujar.
“Aku bukanlan Angel yang selama ini kamu pikirkan. Aku adalah Agnes , Angel dan aku tertukar ketika berada dalam satu ruangan”
Hendra menatap wajah Angel dengan penuh tangis. Mereka berpelukan dengan penuh haru. Nenek datang secara tak sengaja juga karena ingin tau misteri kejadian yang terjadi saat cucunya dirawat dirumah sakit. Ia melihat Angel dan Hendra saling berpelukan. Dan Hendra pun menatap sang nenek dengan penuh perasaan sedih. Nenek telah menyadari apa yang seungguhnya terjadi. Dengan ikhlas ia berkata satu hal
“siapapun dia, dia adalah bintang bagi sinar kebahagiaan nenek”
“Dan dia adalah orang yang penuh kasih dan kehangatan bagiku ” Timpa Hendra
Angel pun akhirnya menjadi Agnes. Agnes kembali ke Surabaya dan keluarganya seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Mayat Angel asli yang telah dimakamkan penuh kasih di daerah lahirnya , Sidoarjo bukanlah putri sesungguhnya. Air mata bahagia terselimuti diantara keluarga tersebut. Kemudian muncul Agus yang datang khusus untuk melihat keluarga Agnes. Ia pun mendapatkan kebahagian setelah mendengarkan misteri yang terungkap. Suka cita bahagia terselimut bagi siapapun yang mengenal Agnes.
Sedangkan dilain tempat, Hendra dan nenek datang ke desa yang tak pernah mereka pikirkan. Berdiri menatap sebuah batu nisan indah dengan mawar merah terhempas di atasnya. Setidaknya mereka telah menerima semua ini dengan ikhlas . kepergian Angel sungguh sedih, namun kehadiarna Agnes dalam hidup mereka telah menutupi kesedihan yang seharusnya terjadi.
Mereka pun melakukan sebuah hari besar imlek bersama keluarga Agnes. Di sebuah kota yang tak pernah mereka pikirkan. Dan kini Agnes adalah Angel bagi keluarga nenek dan Hendra. Dan tahun indah baru tersebut. Terlahir dengan keceriaan untuk melupakan kesedihan yang pernah ada.
Untuk semuanya hapuskan air mata di tahun yang berlalu, berikan kan senyuman indah bagi tahun yang akan datang.
Kisah ini adalah kisah nyata yang pernah terjadi. Hanya penulis yang tau sesungguhnya.
tamat